Wednesday, April 30, 2008

Spring has Sprung: Seuntai Puisi dari Kang Yojo

Athens, 4/30/2006. Mengawali Spring 2008, seiring dengan kembali berseminya bunga-bunga di Athens, serta meronanya sakura di pojok gerbang OU, Pak Yojo (alumni Permias yang selalu setia dengan Athens) kembali menebarkan pesonanya dalam sebuah gubahan puisi musim semi. Puisi tersebut secara khusus ditujukan untuk sang istri tercinta yang saat ini selalu setia mendampingi beliau. Katanya, "kalau ungkapan di atas terasa puitis, mungkinkah "i'm in love...all over again?"....don't get me wrong...of course, to my 'mantan pacar'." Berikut puisinya,


by Yojo Surjana

just when i hope to see may flowers

brought alive by april showers

chill of January pulls me back

to the comfort of my bed

[end of April, two thousand and eight;

when caught in freezing breeze,

during a soccer game of my daughter]



Versi Indonesia:


saat kuharapkan sentuhan hangat

sang surya

saat mawar mekar hantaran hujan

bulan empat

kurasakan renggutan menggigilkan

ketakrelaan masa silam



Sementara, dibalik layar dan tak sempat dilaporkan oleh website ini, beberapa anggota permias juga sudah mulai beranjak dari hibernasinya. Dalam ekspresi wajah-wajah ceria dan senyum merekah, beberapa dari mereka sudah mulai menyambut luncuran busur-busur cinta dari Sang Dewi Cinta (kalau gak salah namanya Aphrodite ya...? atau tukang kredit?:)). Ada yang selera Caucasian, ada yang selera Asian, African, Latina, dan banyak juga yang cinta produk dalam negeri, Indonesia tercinta.

Saat makan siang, makan malam, dan bahkan menjelang tengah malam, terlihat ada yang sedang mojok berduaan. Ada yang di South Green, Perks cafe, Donkey, Ping dan bahkan Baker Center. Sering juga terdapat beberapa yang mojok di Alden library. Tentu saja bukan Alden lantai dua, sebab itu tempat berkumpulnya orang-orang Indonesia. Lantai 4, 6, 7 dan 5 agaknya lokasi utama. Agak malu-malu sambil tersipu ketika kepergok sesama teman se-permiasan. Tidak mengapa, yang penting saling tahu dan tidak mengganggu. Sesama anggota Permias dilarang saling mendahului....ha ha ha

Pesan kpd anggota permias: hati-hati bila cari lokasi mojok, salah-salah bisa masuk youtube!

Monday, April 28, 2008

The OU Samaners at OSU, again, were awesome!!!

Picture by Anton Wiranata


Reported by Nelly Martin

On preparation
It was on Saturday, April 26, 2008 at 10 AM when the Samaners (a.k.a Pasukan Bodrex) gathered in front of Baker Center heading for Columbus to perform in Indonesian on the Go (Indigo- a cultural night held by OSU Permias). It might be very early as it was the first day of weekend when some people might have been enjoying their relaxing day. Yet, all of the dancers comprising Arin, Brian, Amanda (a.k.a Mondi), Tsuy, Maru, Ita, Citra (ce), Citra (co), Valhan, Kristin, Molly, Nelly, Gugun and Genny were so enthusiastic that ignite the spirit to seize the day. Not to mention, FK, our silvery singer, and Anton, our talented photographer seemed to be avid to present the best performance for the audience in Columbus.

On the way
The jokes and some hilarious chitchat seemed to be the good way to enjoy the one and half hour trip. Kristin and Genny, the drivers, drove joyfully, while the others killed the times by creating some games, taking a nap or reading books. It was incredibly fun.
Arriving at Columbus, the team enjoyed the food in Taste of Bali and had a little shopping in Asian Market. Everyone was so amazed with the menu in the restaurant that allowed us to have many kinds and plenty dishes. Being away from the beloved country would always be a good excuse to eat more than the normal portion ☺. Not only the food did we order was tasty but also it was fulfilling. As the result, all of us were double-energized.

On OSU campus
Arriving at 3 PM at OSU, we were welcomed by Andika, the OSU Permias public relation officer. A bit sleepy and exhausted, we then dress-rehearsed. However, the stage was so small that we eventually decided to perform on the floor, in front of the stage. A bit disappointed, we still danced at our best.
As we still had three more hours to go before the show, we then enjoyed our time. Some were taking pictures, while other grasped the chance to take some rest and had some chats.

On the moment
The moment before the performance began might be the most unforgettable one for us. Feeling on the same boat, we tried to appease each other that we would make the day. Performing in front of the audience that we were not familiar with was surely a daunting task; however, every one seemed to be supportive and tried to calm each other. It was the moment when we had to dress and put on udeng and other accessories that we would call as the unforgettable one. It might be trifles, yet it was meaningful of which we can value the meaning of friendship.

On the show
Time to perform!!
The atmosphere somehow could tell that the troop members felt very uneasy, as the time to entertain was about to start. As mentioned earlier, we felt a bit restless due to the fact that we were surrounded by at least 300 people that we did not know at all. However, the spirit to perform the best seemed to conquer it all. Moreover, the event held before our performance was a real icebreaker for us. It was called as a “tebak lagu show” that took audience to guess the titles of the songs played by the Discjockey. And Mondi was the star of the night. Being one of the finalists, Mondi could finally beat others and became the winner. In this event, again, the solidarity of Athens Permias members came at play. The master of ceremonies (Tries Nainggolan and Desi Wardhana, both OSU students) informed that the friends of the finalist could hint and tell the titles so the samaners were very active and articulate in guessing the titles that made Mondi be the winner and was awarded a $50-gift card.

Been relaxed and enjoying Mondi’s victory, the troop was to be ready to entertain the audience. Being nervous yet ardent, all of the dancers were so successful to perform their best that astonished the audience. FK was unquestionably doing a great job and was able to amaze the audience with her melodious voice. The claps and the warm compliment were truly the best feedback received by the troops and it extremely repaid all the dues and sweat.

On the memory
It was a real memento that every one of us would hold for the rest of our lives. We at least had done something to acknowledge and advertise Indonesia, our beloved country. The thing that we did might have been trifle, yet it was meaningful and worth doing.




to enjoy the performance, Anton kindly taped the dance and posted it on youtube
and photographed the event that could be enjoyed on his flickr account.





Tuesday, April 22, 2008

Saman Dance Troops 2008-ers in the first SEA Night Market 2008

Two Tales of Trilogy

Oleh "Winie" Pratiwi

foto by Cuong Nguyen

Bukan sulap, bukan sihir. The 1st SEA Night Market 2008 memiliki arti tersendiri bagi Saman Troop Dance 2008-ers – a red carpet for a debut performance. Dengan intensitas latihan seminggu sekali pada awal Maret 2008 dan kemudian meningkat menjadi 3 kali seminggu mulai awal April 2008 mampu menghadirkan hari-hari penuh cucuran keringat dan tak lupa pula sedikit kram di sana sini. It was all paid off! Tim Saman 2008 berhasil tampil mempesona pada SEA Night Market – sebuah event perdana yang diselenggarakan oleh Southeast Asian Students Association (SEASA), Ohio University. First time event for the first time showcase, Yes, there’s always the first for everything Nampaknya ungkapan tersebut sangat tepat menggambarkan betapa hari Sabtu, tanggal 19 April 2008 merupakan malam pertama dengan kesan pertama yang begitu menggoda, selanjutnya terlalu menggoda untuk tidak diungkapkan dengan sepatah dua patah kata.

The First Trilogy (the tent – the food – the dance)

The Tent
Adalah Fitria Kurniasih (FK) and our first lady, Arin dengan passion yang luar biasa mempersiapkan segala pernak-pernik yang dibutuhkan untuk mempercantik tenda Indonesia. Duo multitasker dengan managing skill dan event-organizing talent yang tidak diragukan lagi ini mampu bertahan sepanjang malam hingga fajar menyingsing (tanpa ditemani kokok ayam), bersatu bahu membahu menyingsingkan lengan baju menghasilkan kreasi yang mengagumkan – pernak pernik dekorasi, display dan instrument untuk lomba. Ditemani oleh duo jejaka penghuni 402, Brian dan Gugun, tak lupa pula penyebar semangat, Tsurroya dan kunjungan Merlita mampu mengalahkan segenap kelelahan yang tak henti-hentinya menghadang jalan. Class-project pun tak urung jadi kontribusi yang penting untuk menghidupkan atmosfer tenda Indonesia – Thanks to Merlita and her Flash project. The ball hadn’t finished rolling because the preparation had to be started earlier (like it or not). The preparation had been started from 10 am and nobody was thinking of even having a daydream or a wink of sleep, awesome!

The Food
Adalah pasukan Bodrex – Yuuuks, where there are excellent talents in cooking (expertise-nya tidak perlu dipertanyakan lagi) - Tsurroya, Mbak Lina, Mas Farid, Mbak Mila, Mbak Maru dan Irfan had blended in together, bahu membahu menyingsingkan lengan baju untuk mempersembahkan sebuah hidangan penuh warna nan istimewa: siomay with peanut sauce, accompanied by tofu, cabbage, egg, potato and hmm, honey bunny yummy…shrimp cracker alias kerupuk udang. You know what? Sambutan dari tamu-tamu yang datang pada malam itu beyond expectation. Antrian - ular naga panjangnya pun benar-benar membuat kewalahan tangan-tangan lincah para servers. Ssst,... ada yang confess lho kalau tangannya sampe gemetaran seperti resonansi petikan senar gitar. Frankly speaking, antrian Indonesian foodcourt-nya lebih panjaaaaang dan lamaaaaa dari foodcourt negara-negara tetangga. Bukan apa-apa, penulis pun sampai tidak mampu menembus antrian, alhasil akhirnya penulis pun lebih sukses line up di foodcourt milik negara-negara tetangga – Thailand, Vietnam, and Malaysia. Akhirnya ketahuan juga kalau penyebab antrian panjang foodcourt Indo itu antara lain karena ada yang nambah, waduh!

Ada bocoran (yang tidak serius lah tentunya) bahwa penyebab additional-portion demands ini tidak lain dan tidak bukan adalah kombinasi bulir-bulir keringat Mas Farid yang khabarnya bisa menciptakan DNA kegurihan yang tentunya gurih-gurih gimana gitu…. (pastinya enggak sengaja waktu jatuh ke adonan ya mas, eeuuw).

The Dance
Waduh! Kainku ketuker nih, musti cepet-cepet diganti karena kalo enggak, hokinya hilang! Well, itu masih sepenggal cerita pre-stagenya. Penggalan-penggalan lainnya antara lain termasuk ganti baju di ruangan yang notabene bukan buat ganti baju (untung engga ada yang intips yach), belum lagi nerveousness alias gemetaran luar-dalam, jauh-dekat (engga pake Rupiah) dan tak lupa pula, pasti selalu ada cerita barang jatuh dan atau terlepas. Saman Troopers generasi sebelumnya meninggalkan cerita sepatu lepas (hayooo siapa), Saman troopers generasi 2008-ers ini juga tak mau ketinggalan melepaskan sesuatu – kacamata (untung enggak pecah ya). Lebih heboh lagi, konon kabarnya sampai ada jari tangan yang tak sengaja menuju kearah mata one of the dancers waktu perform (nah lho). Pre-stage story ini ternyata merupakan resep sukses debut performance Saman Troopers generasi 2008-ers. Dua belas menit lebih audience terpaku dan terkagum-kagum, belum cukup sampai disitu saja, bahkan para toddlers pun tak mampu menahan gereget-nya untuk ikut mengucapkan komando “Hap” dari FK. Nah, Fitria Kurniasih alias FK ini ternyata mampu menyihir sang troopers dan the whole audience dengan alunan suara yang indah dan membahana. Fk pun mampu dengan lihainya melewati tingkat kesulitan menyanyi untuk tari Saman yang membutuhkan extreme speed-dynamic range – 15 km/jam sampai 100 km/jam (ini guesstimate aja loh) – above all, she is truly talented. Magnificent confession dari sang pendendang Saman adalah pada saat berdendang dengan speed 100 km/jam terasa mengalir seperti air – seolah bibir dan lidah bergerak dengan sendirinya tanpa komando, tanpa rasa haus (walaupun sebenarnya terasa juga hausnya setengah mati, ungkap sang pendendang). Yang tak kalah pentingnya, resep sukses dari debut ini adalah doa bersama sebelum dan sesudah perform, dengan diakhiri yel-yel “pasukan bodrex....yuuuuuks” sebagai penegasan setelah sama-sama saling meng-amin-i. Last but not least, entah mengapa setiap perpindahan segmen Saman, selalu diselingi dengan tepuk tangan yang membahana dari audience, sampai pada akhirnya, gemuruh riuh tepuk tangan-nya jadi serasa encore call.

The Second Trilogy (great event – great performance – great food)

The impression

“Duh, siapa sih namanya ya yang pakai beskap itu? (kemungkinan expression word yang dimaksud adalah cakap dan gagah). Ya, bahkan Angela Presidik pun dengan penuh kebanggan memakai beskap tak ketinggalan dengan blangkon-nya yang sukses menarik perhatian dan curiosity dari E-12 (bukan begitu?). Nah, yang perlu ditanyakan adalah mengapa Kak Chozin tidak memakai pakaian kebesaran lengkap alias beskap dan hanya memakai blangkon saja (tapi bukan karena beskapnya dipinjam Angela, kan?). Tapi tetaplah, kebersahajaan Kak Chozin tak mudah terlepas begitu saja walau tanpa beskap lengkap.

So to speak, everybody was having a grandeur time. Jangan salah, sandiwara wayang kulit pun menghiasi panggung dengan ditemani pandangan takjub para toddlers and younger kids yang secara serentak mendekati panggung demi menikmati sajian cerita yang ditampilkan (Angela bahkan main musik untuk backsound-nya lho). Stage collaboration pun menjadi bagian yang tak terpisahkan dari rundown acara malam itu demi terciptanya suatu harmoni in the neighborhood. Adalah Tsuroyya, Brian, Arin, dan Gugun yang berkolaborasi dengan Fon, Genny, Christine, Jhon dan Matt dalam sebuah sandiwara yang melibatkan karakter princesses (dengan selendangnya), hunters (dengan stik tongkatnya), dan prince (dengan blangkon-nya – lagi). Melengkapi selayang pandang SEASA, Vietnam dan Thailand pun menghadirkan stage performance yang mampu melengkapi element South East Asia. Overall impression yang didapat pada malam itu adalah tak lain dan tak bukan, another trilogy: great event, great performance, great food.


Video Saman Dance oleh Winie:

http://www.youtube.com/watch?v=S1CdbYqDpcU
Foto-fot acara oleh Cuong Nguyen: http://www.flickr.com/photos/bond159/sets/72157604650807457/with/2430256056/


Friday, April 18, 2008

OU to host first Southeast Asian night market

Oleh Jeanna Packard / For The Post / jp346806@ohiou.edu
Dikutip dari berita di the POST

The scent of raw meat, tropical fruits and vegetables, seafood and hundreds of spices intermingles with the lingering heat and humidity left over from the 100-degree afternoon as vendors begin to preach on behalf of their merchandise and locals gather to drink beer and socialize.

This exotic scene, which is commonplace in Southeast Asia, will be imitated on a smaller scale in Athens tomorrow night.

Ohio University’s first Southeast Asian night market, hosted by the Southeast Asian Studies Association, will offer a recreation of this cultural tradition.

“Night markets are a popular gathering spot for locals and tourists in Southeast Asia,” said Matt Minarchek, a graduate student in OU’s Southeast Asian studies program who lived in Vietnam for a year.

The market environment is loud and intense, said Minarcheck. The air is sticky and there are multiple languages filling the space. Vendors sell anything imaginable — including black-market goods such as knock-off Tommy Hilfiger apparel and DVDs that haven’t been released to the mainstream audiences.

Every spring, the students in the association host an event to bring a piece of Southeast Asian culture to Athens for both those who have never experienced it and those who are longing for the familiarity of home, said Sara Jones, treasurer of the association.

Although there won’t be raw animal carcasses or black-market goods at Athens’ market, there will be free samples of traditional dishes, including Vietnamese goi ga, which is made with shredded chicken, lotus root, peanuts and mint; Indonesian dumplings with shrimp, chicken and veggies; Thai tea and tropical fruits and vegetables, Jones said.

Traditional performances by a Cambodian dance troupe from Columbus, Indonesian performers from OU and traditional games and puppetry will be demonstrated, Jones said. There will also be a souvenir booth featuring items from Southeast Asia donated by students and faculty. Proceeds from the items sold will go towards the medical expenses of a Chinese graduate student undergoing cancer treatment, Jones said.

The market is a great opportunity to experience the culture and talk with people from around the world and is OU's attempt at replicating this widespread Southeast Asian tradition for Athens, Minarchek said.

“Night markets are traditional in Southeast Asia because during the day the sun is scorching and night offers a release from the severe heat,” said Angela Predisik, president of the association. “People are livelier, ready to socialize — the whole atmosphere is colorful and dynamic.”

Website Source: http://www.thepost.ohiou.edu/Articles/Culture/2008/04/18/23897/

Tuesday, April 15, 2008

Permias Sambut Mahasiswa Baru dengan Goyang Dangdut

Athens, Malam Minggu (12/4) pada pukul 7 malam Permias kembali mengadakan acara kumpul-kumpul dalam rangka menyambut 12 mahasiswa baru dari Indonesia. Acara kumpul-kumpul dilangsungkan di apartemen Nelly-Mila, River Park. Datang meramaikan acara tersebut beberapa mahasiswa dari Philipina, Jerman, dan AS.

Seperti biasanya, acara dimuali dengan makan-makan, perkenalan dari mahasiswa baru, dan dilanjutkan dengan permainan Opas yang dipimpin langsung oleh presiden permias, Arin. Opas adalah permainan berbalas-hitung dalam sebuah lingkaran. Bagi siapa saja yang salah berhitung, maka ia akan terkana hukuman dengan menyanyi, berdansa, ataupun baca puisi.

Selingan goyang dhangdhut turut menyemarakkan acara malam itu. Nyanyian dhandhut khas Indonesia seperti ”Kucing Garong” menjadi menu khas yang mengajak semua tamu yang hadir untuk turut bergoyang. Tak pelak lagi, saking serunya acara goyang dangdhut malam itu, Ibu Suri Permias, Lina Himawan juga menceburkan diri dalam lautan goyang dangdhut Permias di kampung Athens. Keterlibatan Ibu Suri Permias dalam goyang dhandhut in memang tidak biasanya. Itu adalah hal yang teramat istimewa dan barangkali hanya bisa disaksikan dalam satu abad sekali.

Mendengar laporan goyang dangdhut Ibu Suri ini, Sandra Daratista, yang tidak sempat hadir dalam acara tersebut melayangkan protes langsung kepada Ibu Suri.

Dear Ibu Lina,...
Hari ini saya mendengar berita dari beberapa orang bahwa Ibu malam minggu kemaren ikut dalam tradisi Joget Dangdut yang di adakan oleh teman-teman di River Park. Sehubungan dengan itu, saya menyatakan protest keras dengan sikap ibu tersebut. karena : 1. Ibu selama ini tidak pernah ikutan joget. 2. Ibu selama ini selalu menolak kalo saya ajak ikut joget. 3. Kalau di puter musik dangdut atau musik joget lainya, ibu selalu menunjukan muka tidak suka. 4. Ibu berjoget disaat saya tidak ada. Oleh karena itu, saya meminta ibu bisa menjelas kan hal ini secara terbuka."
Tembusan : Imeil ini saya lampirkan juga untuk Saudara Chozin, presiden Joget Dangdut sedunia, dan Farid Muttaqin, pemerhati budaya joget dangdut sekaligus penasehat club joget dangdut. Sekalian juga, imel ini saya sertakan untuk Sri Murniati, seorang praktisi joget dangdut dari Jawa Barat.

Atas protes dari sandra tersebut, Ibu Suri menaggapinya sebagai berikut:

"Dear Sdri. Sandra Daratista, Saya mau protes balik. Pertama-tama, selama saya di Athens, Permias belum pernah mengadakan acara joged dangdut bersama. Bagaimana mungkin saya bisa ikut joged kalo event-nya saja tidak ada. Kedua, Sdr. Sandra tidak pernah, saya ulang, TIDAK PERNAH mengajak saya untuk joged bersama. Yang selama ini terjadi, Sdr. Sandra asyik joged sendirian padahal seperti yang saya sebut di point pertama, event-nya tidak pernah diadakan. Jadi yang selama ini terjadi, saya dan rekan-rekan Permias lainnya dipaksa melihat Sdr. Sandra joged sendiri di event yang tidak sepantasnya ada orang berjoged. Maka harap dimaklumi kalau saya memasang muka masam, saya sampai mendapat mimpi buruk karena melihat gaya joged Sdr. Seharusnya Sdr. Sandra mengganti rugi karena apa yang Sdr. selama ini lakukan telah membuat saya trauma. Ketiga, justru karena Sdr. Sandra tidak ada di acara itulah, saya jadi tergerak untuk joged. Ditambah goyangan Sdr. Chozin memang tidak ada duanya, sehingga memberi inspirasi kepada saya untuk ikut berjoged. Tidak sia-sia Sdr. Chozin menjadi Presiden Joget Dangdut. Demikian tanggapan saya utk Sdr. Sandra.” (Lina Himawan "Ibu Suri" Permias Imut).

Sayangnya, para mahasiswa baru yang tergabung dalam club E-12 belum berani unjuk kebolehan dalam bergoyang. Dalam email yang dikirimkan ke jemaat Permias, Lutfan, salah satu anggota E-12 asl ITS, Surabaya ini menyampaikan: ”....terima kasih sebanyak-banyaknya buat "party" dan sambutan khusus dari permias tadi malem,,,,maaf kalau kami masih malu2, he... tapi kami bener2 merasa senang...kapan2 kita main opas lagi mbak Arin! (Lutfan).

Ke depan, diperkirakan goyang dandhut akan menjadi menu utama setiap acara Permias Athens. Selain lebih mudah dilakukan, dangdhut merupakan warisan bangsa yang perlu dilestarikan. Meskipun tinggal jauh dari tanah air, Permias tidak akan melupakan goyang dangdhut. Sekali dangdhut tetap dangdhut,....mari kita goyang Athens dengan dangdhut.


Monday, April 14, 2008

Sandra Akan Bicara Mengenai Media di Indonesia

Our first meeting of the quarter will be this coming Tuesday at 5:30 in the Yamada House Seminar Room (come to the back door). Leading the series off for the quarter will be Sandra
Nahdar. Sandra will talk about how the foreign media get news in Indonesia. He will explain the role of Fixer and assistant journalists in helping a foreign journalist work in Indonesia. He has worked to develop a stories for newspapers, tv, and radio. We are excited to see you all on Tuesday. (there may be pizza, but I'm not confirming this rumor:)

Who: Sandra Nahdar
Where: Yamada International House Seminar room (back
door)
When: Tuesday, April 15th: 5:30 - 6:45
What: Media and Journalism in Indonesia

Southeast Asian Night Market

Come experience Ohio University's 1st Southeast Asian Night Market. Sample
authentic cuisines typical to a night market atmosphere, participate in
traditional games, and watch Ohio University students perform traditional
dances, songs, puppet shows, and more from the different countries and cultures
of Southeast Asia.

MARKET DETAILS:
Saturday, April 19, 2008
Baker Ballroom
5:00 - 8:00 pm

Tickets are $5 and will be available for purchase on the first floor of Alden
Library, the ISFS office in Baker Center, and the Yamada House beginning on
April 14th.
Join the fun, get your tickets early, and send your senses on a trip around the
globe!

Tuesday, April 08, 2008

Spring has Sprung: Inilah Agenda Permias di Spring Quarter 2008

Menyambut datangnya Spring 2008 yang menggugah suasana hati untuk selalu riang gembira, Arin (president Permias Athens), sejak dini sudah memberikan remainder kepada warganya tentang rencana kegiatan-kegiatan Permias. Berikut rancanan program-program Permias Athens selama Spring 2008:

1. Sambutan buat mahasiswa baru, Rabu (9/4/08) jam 7 pm @baker ballroom center.
Bwat yang penasaran sama temen2 baru kita kaya apa rupa rupinya...monggoo jangan malu2,,,,(ppssstt. ...ada makanan gratis loowhhh)

2. SEA night market : 19 April 2008, 5-7pm @baker ballroom center
Bwat yang pengen ikutan partisipasi (baca: bantu2...hehhehe. ..tapi gak sampe jadi babu ko,,,paling jadi upik abu??)heuheue .... koordinatornya : Brian...utk kapten masak : Tsuy...utk kapten booth : Efka... bwat volunteer... harap langsung daftar ke orang2 ybs...hehehe. Kita bakalan jualan makanan...kalo gak salah bakso tahu...(slurrppp. ...enakk ) sama gorengan...( ubi...hmmm. ..abis itu jangan pada deket2,,takut tiba2 ada yang mengeluarkan bunyi2an,,,hihi)

3. Colombus night : 26 April 2008 @OSU colombus.
Rencananya tim samaners (baca: pasukan bodrex) kita akan tampil di acaranya yg diadain sama permias colombus...mudah2an jadi...ada yang mau ikut??hehe.. .jadi suporter??lumyan bwat tim hore2...(psstt. ..tapi biaya ditanggung sendiri yaa??)

4. International Week : 11 -17 May 2008

5. International Street Fair : 17 May 2008

Sebagai tambahan: tanggal 16 mei 2008, bakalan ada acara Relay for Life, yaitu sebuah acara fundraising untuk penderita cancer di AS. Dua taun yang lalu Permias Athens pernah punya tim sendiri yang khusus berpartisipasi dalam acara tersebut. Apakah dari temen2 permiasa ada yang ingin bentuk tim dan ikutan acra ini??

Monday, April 07, 2008

PERMIAS will Perform Saman Dance at the Southeast Asian Night Market

The Indonesian Student Association (PERMIAS) will perform Saman Dance at the the Ohio University's first Southeast Asian Night Market on Saturday, April 19, 2008 at 5:00pm - 8:00pm in Bake Center Ballroom.

Come experience Ohio University's first Southeast Asian Night Market. Sample Southeast Asian Night Market is a sample authentic Southeast Asian cuisines typical to a night market atmosphere, participate in traditional games and other activities, watch Ohio University students perform traditional dances, songs, puppet shows and more from the different countries in Southeast Asia.

Tickets are $5 and will be available for purchase on the first floor of Alden Library, the ISFS office in Baker Center, and the Yamada House beginning on April 12th.

OU Kedatangan 12 Mahasiswa Indonesia Lagi

Athens (6/4/2008). Mengawali Spring Quarter ini, Ohio University kembali kedatangan 12 mahasiswa dari Indonesia. Mereka datang ke OU dalam rangka program kursus bahasa Inggris di OPIE (Ohio Program of Intensive English) dengan biaya dari the US State Department. Mereka akan mengikuti program kursus selama 8 minggu dan akan kembali ke Indonesia tanggal 1 Juni 2008. Berikut kutipan report dari Eko Junor kepada Permias:

"....Karena para Permias junior tadi latihan Saman (dan para Permias senior ngurusin hantu lt.2 Alden??) maka Permias Junor yang mengikuti rangkaian kegiatan hari ini. FYI, tadi orang-orang OPIE yang ngurusin itu adalah Lindsay, Heather, dan Emily.

Tadi sih masih keliatan yang muka-muka jetlag, tapi yang bikin malu sebenernya ada beberapa yang telat bangun dan gak diingetin oleh temen-temannya. Karena itu kita nunggu dua kali: di depan Scott Quad dan di depan Bromley, bersama para pengurus OPIE! Jadi aku terpaksa menghimbau tadi untuk jangan bikin malu nama Indonesia, dan agar saling mengingatkan/ membangunkan.

Masalah kedua yang muncul tadi adalah mereka pada semangat 4000 utk menelfon keluarganya masing2, dan akhirnya nyadar bahwa setiap kali kirim SMS ke Indonesia biayanya juga Rp.4000 atas pulsa mereka! So I told them kalo udah di sini jangan foya2 menelfon dan SMS. Aku saranin utk manfaatin "teknologi Singgih" di sini berupa internet gratis (yg juga ada di undergrad dorms katanya), jadi pake YM atau Skype.

Tapi teuteup mereka bersikeukeuh utk "nelfon pake kartu internasional aja deh!" Waktu di Walmart aku sodorin yang $10 (150minutes within the US), tapi mereka takut kalo $10 itu nanti cuma dapet kurang dari 100 menit (ya iyalaaah, kata gue). Bahkan ada yang polosiwati (padahal cowok): "emang biayanya lebih mahal ya kalo nelfon ke Indonesia?" Aku serasa mau pingsan, tapi akhirnya aku mengingatkan dengan halus bahwa sekarang kita "half way around the world", dan "sekarang loe tau biaya telfon di Indonesia murah... Rp.0.0000000001/ detik." Eh, itu mah iklan XL ya?

[FYI mereka berasal dari berbagai wilayah di Indonesia, termasuk Papua dan Aceh. In other words, their familiarity to technology/instant messaging/Skype may differ a lot. Their larger group disebar ke 7 kampus di AS, tapi aku bilang mereka beruntung ke OU yang kampusnya cantik, segalanya serba dekat, dan relatif aman]

Selanjutnya utk mencari solusi, I brought them to the prepaid cards yang udah dapet telfon gratis, tapi mereka mintanya yang GMS card doank. Aku bilang nggak ada, dan aku tambahin: "kalo org2 Indonesia yang udah 2 tahun di sini aja pake telfon+kartu beginian, pasti ada artinya khan?". And after all that... mereka malah pulang tangan hampa! Sampe si Heather guru OPIE juga heran, waktu di mobil on the way home dia liat gak satupun yang beli intl calling card maupun prepaid card.

Bersama ini aku ajak teman2 utk membantu mereka dlm berbagai hal, terutama utk yang telat melulu (ada 2 yg disinyalir lelet kronis) dan utk solusi mereka melepas kangen sama Tanah Air. Emang sih baru beberapa hari yang lalu mereka masih di Indonesia, tapi Senin udah placement tes TOEFL dan Selasa udah kuliah. Seharusnya udah gak ada lagi tuh pikiran terpecah, apalagi yang rekanannya State Dept itu (Rebecca, seniornya si Oni temennya Farid dkk) yang ngingetin bahwa setiap nilai dan tingkat kehadiran mereka akan dilaporkan ke Washington DC karena mereka dibayarin oleh "American taxpayers' money". Nah lho...!”

Saturday, March 29, 2008

Belajar dari Fitna: Perlu ada Metode Tafsir Alternatif untuk Ayat-Ayat Perang

Oleh Sri Murniati (Unie)

Teman saya mengirim link website film berjudul Fitna yang dibuat oleh politisi Belanda, Geert Wilders (sayangnya, sekarang filmnya sudah dihapus dari website tersebut). Film ini secara umum mengungkapkan bahwa tindakan kekerasan yang dilakukan oleh Muslim dan retorika kekerasan yang berputar di kalangan masyarakat Muslim memang mendapatkan justifikasi dari kitab suci umat Islam, al-Qur’an. Ada 5 ayat al-Qur’an yang dikutip film tersebut yaitu Qs. Al-Nissa (4): 56 dan 89, Qs. Al-Anfal (8): 39 dan 60, serta Qs. Muhammad (47): 4.

Otak saya agak cukup mendidih juga ketika pertama kali menonton film dokumenter itu. Bagaimana tidak? Ayat-ayat tersebut ditampilkan dan dibacakan bersama-sama dengan foto-foto tragedi penghancuran gedung WTC, bom London, bom Madrid, pembunuhan Theo Van Gogh di Belanda, ancaman terror, ungkapan-ungkapan tanpa sesal oknum muslim yang pernah melakukan terorisme, perempuan Afghnistan berjubah yang ditembak tak berdaya oleh laki-laki berpakaian Muslim, dan dengan puluhan gambar mengerikan lainnya, yang membuat wajah buruk Islam komplet sudah. Pokoknya islam dan muslim itu doyan kekerasan, anti kebebasan, ingin mendominasi dunia, serta merendahkan martabat dan membatasi hak perempuan. Akhir video ditutup dengan kampanye “stop islamisasi”.

“Huh…, berat tarikan nafas saya. Sangat simplisistik, menggeneralisir, dan tentu saja provokatif. Bagaimana akan terjadi dialog antara mereka yang mengaku sebagai pejuang “kebebasan dan hak asasi manusia” dengan muslim yang dianggap tidak suka kebebasan, kalau image yang ditampilkan oleh kedua belah pihak selalu sepihak?

Meski demikian, ada point dalam film itu yang perlu menjadi bahan pemikiran bagi umat Islam terutama tentang bagaimana kita memahami dan bersikap terhadap ayat-ayat tertentu dalam al-Qur’an yang literally memotivasi untuk melakukan kekerasan (ayat-ayat qital).

Saya agak tergoda dengan pilihan ayat yang ditampilkan di film tersebut. beruntung sekali karena saya sempat mencatat terjemahan ayat-ayat Qur’an yang ditampilkan di situ. Terjemahan ditampilkan dalam bahasa Inggris. Agak mengerikan memang, kalau tidak tahu Bahasa Arab sama sekali. Sekedar gambaran: to strike the terror into the heart of enemies”, “to roast those who have disbelieved our signs”, “smite at the unbelievers’necks if you meet them”. Sambil menuliskan kata-kata itu saya bergumam dalam hati, “pasti terjemahan ini dilebih-lebihkan”. Apalagi sang pembuat film memang tidak mencantumkan sumber terjemahannya.

Sampai di rumah, saya cek Terjemahan Qur’an Mohammed Marmaduke Pickthall (The Meaning of the Glorious Quran) dan Yusuf Ali (The Holy Quran). Saya kecele, terjemahan mereka memang tidak jauh beda. Yang agak dilebih-lebihkan barangkali kata-kata “strike terror” yang digunakan untuk menerjemahkan kata “yurhibuna”. Nampaknya sang pembuat film memanfaatkan terjemahan modern kata ini. Terorisme dalam bahasa Arab memang irhab.

Setelah saya cek terjemah, saya mulai membaca teks qur’annya. Saya baca berulang-ulang. Maaf dikata, ayat-ayat yang sudah ratusan kali saya baca dan tak pernah menyebabkan reaksi apapun sebelumnya, rasanya kini agak cukup menggangu. Kata “perangi”, “pancunglah batang leher”, “tawan dan bunuhlah mereka” bertebaran dalam ayat-ayat tersebut.

Umum diketahui, soal menyimpulkan hukum dari nash qur’an biasanya para ulama menyarankan untuk menggunakan kaidah ushul fiqh “al hukmu biumum al lafdzi la bikhusus al-sabab” (hukum itu diturunkan dari kalimat teks, bukan kekhususan sebabnya). Tapi saya kira, jika kita mempergunakan kaidah ini untuk membaca beberapa ayat yang saya sebutkan di atas, citra Islam sebagai agama yang menganjurkan kekerasan akan semakin menebal.

Mengandalkan konteks untuk membaca ayat ini dengan demikian akan sangat menolong. Setiap ayat memiliki paling tidak dua konteks: konteks penurunan dan konteks dalam teks qur’annya sendiri. Memahami konteks paling tidak akan menolong kita memahami motivasi penurunan ayat-ayat tersebut dan menjaga kita untuk tidak berbuat serampangan. Seperti kata Fazlurrahman, memahami konteks akan menolong kita menemukan “makna universal” qur’an yang harus menjadi basis bagi penerapan ayat-ayat tersebut pada saat ini.

Usut punya usut, seluruh ayat yang dikutip dalam film itu ternyata memang ayat-ayat madaniyah (diturunkan di Madinah atau setelah hijrah). Masa pasca hijrah memang merupakan waktu yang cukup kritis bagi umat Islam. Saat itu, Nabi mulai berperang berhadap-hadapan dengan orang Mekah. Puluhan perang terjadi antara komunitas muslim dengan orang Mekah. Orang Yahudi dan beberapa orang yang disebut dalam al-Qur’an sebagai orang munafik di Madinah seringkali berada di pihak orang Mekah, ketimbang di pihak komunitas muslim. Singkatnya, umat Islam saat ini dalam situasi perang yang hampir tak berkesudahan. Mempertimbangkan konteks ini, tidaklah mengherankan bila al-Qur’an menurunkan perintah menakut-nakuti musuh dengan senjata apapun yang dimiliki (Qs al-Anfal: 60), perintah untuk membunuh mereka dimana pun bertemu (Qs.Muhammad: 4), harap berhati-hati dengan orang Munafiq (Qs Annisa: 89).

Perlu dicatat, sang pembuat film memang agak menafikan konteks ayat ini. Penampilan terjemah Qs. Annisa ayat 56 mengesankan kalau umat Islam harus membakar orang kafir karena mereka tidak mempercayai tanda-tanda Tuhan. Padahal kalau ayat itu dibaca bersama-sama ayat sebelumnya, mereka tidak berbicara tentang hal tersebut, tetapi mereka mendeskripsikan pedihnya siksa neraka yang akan diterima oleh orang yang tidak percaya pada tanda-tanda peringatan dari Allah.

Menelusuri konteks ayat dan konteks penurunan memang membuat kita bisa memaklumi mengapa al-Qur’an berbicara dengan intonasi seperti itu. Memang agak sedikit menentramkan. Kita cukup berkata bahwa saat ini umat Islam tidak dalam kondisi perang, maka perintah dalam ayat-ayat tersebut tidak berlaku. Tapi menurut saya, ada tiga masalah dengan cara pandang seperti ini.

Pertama, tidak semua orang berfikir bahwa umat Islam saat ini tidak sedang berperang. Muslim seperti Imam Samudera dan kawan-kawannya berfikir bahwa dunia Islam sedang dalam perang tak berkesudahan (we are under constant attack). Maka ayat itu harus berlaku.

Kedua, kalau memang ayat-ayat itu hukumnya tidak berlaku, berarti ada banyak sekali bagian-bagian dalam al-Qur’an yang tidak berlaku saat ini, lantas mau kita apakan ayat-ayat itu? Dimoratoriumkan seperti usulan Tariq Ramadan untuk ayat-ayat Hudud?

Ketiga, kalaupun seandainya kelak terjadi perang, akankah resep al-Qur’an yang, maaf, agak berdarah-darah itu yang akan kita terapkan untuk menghadapi musuh? Saya agak ragu dan tidak mau.

Saya masih percaya bahwa al-Qur’an shahih li kulli zaman wa makan. Karena itulah, saya agak keberatan dengan tesis bahwa ayat-ayat itu tidak berlaku saat ini. Saya percaya bahwa Islam rahmatan lil alamin dan anti kekerasan. Perlu ada metode penafsiran yang bisa mengakomodasi kemungkinan penerapan ayat-ayat seperti itu. Ide Fazlurrahman mungkin menarik, tapi pesan universal apa yang bisa kita tarik dari ayat-ayat bernada kekerasan tersebut? Pe-eR kita bersama dengan demikian untuk metode penafsiran yang tidak membuat ayat qur’an terkesan tak relevan dan pada saat yang sama membuatnya berlaku tanpa harus membuat pertumpahan darah? Sementara itu, ide moratorium mungkin perlu dipertimbangkan.

Fitna: Antara Propaganda anti-Islam dan Representasi Realita

Oleh M. Syahril Sangaji

Tepat 20 tahun, sebuah informasi sesat kembali mengguncang dunia Islam. Setelah Salman Rushdie menggegerkan dunia dengan buku Ayat-Ayat Setan pada tahun 1988, kini Fitna, sebuah film dokumenter karya anggota parlemen Belanda, Geert Wilders kembali menampar wajah Islam dan bahkan memicu perdebatan di dalam masyarakat Belanda sendiri. Lalu kenapa Wilders begitu gigih membuat dan mempublikasikan film dokumenter yang justru telah ditolak pemutarannya dari dalam negerinya sendiri? Lalu bagaimana juga seyogyanya umat Islam menyikapi film dokumenter tersebut? Tulisan ini akan mencoba mengupas dua pertanyaan penting tadi dengan menggunakan pisau analisa tekstual (textual analysis) terhadap film Fitna.

Konteks
Menurut Alan Mckee (2003), konteks merupakan aspek penting yang akan membantu kita menganalisa sebuah “teks” (baca; film). Elemen-elemen dalam konteks ini termasuk situasi atau kebutuhan tertentu yang mendorong anggota parlemen Wilders menulis teks Fitna kemudian memproduksinya. Juga yang tak kalah penting untuk diteliti adalah siapa Wilders ini dan siapa target audiensnya. Elemen-elemen yang mengelilingi pembuatan film ini akan memberikan kita informasi yang berguna dan dapat dipertangungjawabkan dalam menjelaskan kenapa isi dan alur film Fitna ini dikonstruksi dan dipresentasikan sedemikian rupa. Sehingga kemudian bisa kita ambil pelajaran positif dari sisi negatif yang diangkat film fitna.

Pertentangan Ideologi
Setelah peristiwa serangan 11 September 2001, isu-isu yang berkaitan dengan Islam menjadi tema sentral di seluruh dunia, walaupun sebagiannya dikemas dalam persepsi negative. Bahkan para pembuat film dokumenter berlomba-lomba memproduksi film-film bertema Islam. Serial film dokumenter seperti America at Crossroads yang dirilis PBS (Public Broadcast Service) pada April 2007, yang mana salah satu serinya, Struggle for the Soul of Islam: inside Indonesia, mengangkat cerita pergulatan Islam moderat vs. Islam radikal di Indonesia. Tema yang sama juga pernah dipotret dalam film Islam vs. Islamists garapan Martyn Burke yang ditarik dari jadwal tayang PBS karena pemerintah Amerika yang diwakili WETA (Washington Educational Training Association) dan PBS memperdebatkan cara pandang Burke terhadap Islamists (Islam fundemantalis) yang secara ideologis dianggap menguntungkan Islam.

Begitu banyaknya film dokumenter tentang Islam, tentunya tak lepas dari konteks keamanan internasional pasca runtuhnya komunis, yang oleh Barat dipersepsikan sebagai ancaman terorisme Islam. Peristiwa pemboman oleh jihadis Islam dalam satu dekade terakhir telah menimbulkan rasa cemas negara-negara Barat. Sebelum serangan 11 September, telah terjadi serangan bom terhadap kedutaan Amerika di Nairobi, Kenya dan Dar es Salam, Tanzania pada tahun 1998 yang mana sekitar 5000 orang mengalami luka-luka dan 300an orang terbunuh secara keseluruhan. Setelah peristiwa 11 September, hampir setiap tahun bom-bom diledakkan oleh kelompok jaringan Al-Qaida dengan sasaran wilayah yang dianggap sebagai simbol Barat, contohnya bom Bali 2002, Casablanca Maroko 2003, bom Madrid 2004, dan pemboman London 2005. Serangkain terror bom oleh kelompok Islam radikal ini telah ikut melahirkan suasana Islamofobia di masyarakat Barat, tentu saja termasuk di dalamnya adalah masyarakat Belanda yang diwakili oleh Wilders, sang sutradara Fitna.

Pasca kejatuhan komunisme dan Soviet, ditandai pembobolan Tembok Berlin, dunia Barat seperti kehilangan musuh utamanya sampai kebangkitan kembali semangat jihad Islam di seluruh dunia yang dipelopori oleh kelompok Islam fundamentalis. Oleh Phares (2007), kelompok-kelompok Islam fundamentalis dan turunan-turunannya walaupun sering berbeda dan berubah-ubah, tetap saja mereka memiliki satu tujuan, yakni memotong demokrasi sampai ke akar-akarnya. Oleh Islamis, demokrasi dianggap sebagai produk buatan manusia oleh karenanya tidak kompatibel dengan syariat Islam yang merupakan ciptaan Allah atau Allahucracy. Semangat kebangkitan Islam ini yang kemudian oleh Barat diterjemahkan sebagai ancaman baru terhadap ketentraman dunia. Islam pun digeneralisir sebagai ideologi tandingan dari demokrasi Barat yang perlu dimusuhi. Tesis clash of civilization-nya Huntington pun seperti terbukti telah menjadi kenyataan, Islam kini berbenturan dengan Barat.

Wilders dan Islam
Walaupun terlahir sebagai keturunan Kristen-Yahudi, Geert Wilders bukanlah seorang penganut agama tertentu alias Atheist. Wilders diyakini mulai terekspos dengan Islam secara langsung ketika ia mengunjungi Iran di tahun 1999 dalam tugas kenegaraan ketika diperbantukan tugas di parlemen. Pada tahun 2004, Wilders terpaksa cabut dari partainya People’s Party for Freedom (VVD) karena tidak setuju dengan kebijakan partainya yang menyetujui masuknya Turki ke dalam Uni Eropa. Tahun 2004 ini juga seorang sutradara film Belanda Theo Van Gogh yang juga pengritik keras Islam dibunuh oleh seorang imigran Islam keturunan Maroko. Rasa simpati mendalam terhadap Van Gogh sekaligus kemarahannya terhadap imigran Islam saat itu ikut membuat keselamatan jiwanya dalam keadaan bahaya. Ditambah lagi gambar kartun nabi Muhammad yang dipajang di situs web-nya semakin membuatnya diancam kelompok eksremis Islam, bahkan dalam kurun dua hari ia mendapat ancaman pembunuhan sebanyak 40 kali.

Wilders dicurigai sering membina hubungan dengan petinggi-petinggi Yahudi di Belanda, terbukti dengan penemuan intelejen Belanda yang mengatakan bahwa pada tahun 2007 Wilders secara teratur mengunjungi kedutaan Besar Israel di Den Haag.
Didapati juga bahwa akhir-akhir ini, Wilders, dalam pidato-pidatonya sering mengeluh akan semakin tumbuh suburnya Islam di Belanda, bahkan katanya jumlah masjid akan segera melebihi jumlah gereja di Belanda sebelum masyarakat Belanda sadar. Katanya lagi jika orang Islam ingin diterima di Belanda maka mereka harus merobek sebagian ayat-ayat Qur’an yang mengajarkan kebencian dan kekerasan.

Fitna
Kepercayaan Wilders terhadap tesis Huntington bahwa Islam tidak sesuai dengan nilai-nilai Barat kemudian menjadi kenyataan setelah menyaksikan serangkaian peristiwa terror atas nama Islam yang disponsori jaringan Al-Qaida dan kelompok extremis Islam lainnya terhadap dunia Barat. Kejadian-kejadian terror ini jugalah yang memperkuat teori Wilder bahwa Islam mengajarkan kekerasan dan kebencian terhadap non-Muslim. Wilders mulai terlihat membenci Islam setelah kejadian Serangan 11 September. Namun, pembunuhan Van Gogh oleh seorang imigran Islam Maroko lah yang semakin meyakinkan dia bahwa Islam lewat Qur’an mengizinkan umatnya menggunakan kekerasan kepada non-Muslim.

Pengalaman-pengalaman buruk Wilders dengan Islam yang diungkapkan dalam kalimat provokatif dan nada kebencian di atas akhirnya ia lampiaskan dalam karya dokumenter yang ia beri judul Fitna (Fitnah). Apa yang ia terima selama ini mengenai informasi Islam adalah melalui pengalaman-pengalaman buruknya berhadapan dengan ekstremis Islam. Lalu ia tampilkan akumulasi pengalaman dan kesaksian buruk tersebut dalam sebuah persepsi Fitna, sebuah dokumenter propaganda anti Islam.

Lesson Learned
Wilders meyakini bahwa Islam yang ia tampilkan dalam Fitna adalah benar adanya karena mampu dibuktikan dengan gambar-gambar dan rekaman video yang memperlihatkan kekerasan dan kebencian umat Islam terhadap Barat, Yahudi dan Kristen. Bahkan ayat-ayat suci Al-Qur’an pun dijadikan sumber legitimasi kebenaran film Fitna bahwa Islam sama dengan kekerasan. Lalu apa reaksi umat Islam setelah melihat atau mendengar cerita film ini. Apa yang perlu dilakukan umat Islam Indonesia ketika membaca seruan Wilders di akhir filmnya “stop islamization!” dan “the Islamic ideology has to be defeated now.”

Reaksi dan tanggapan yang paling elegan dari umat Islam tentunya bukan dengan cara meneror mereka yang terlibat dalam pembuatan film berdurasi 16 menit tersebut, lalu mengancam akan membunuhnya. Bukan pula dengan cara berdemonstrasi dan membakar bendera Belanda atau mensweeping turis-turis Belanda di jalan-jalan. Tentulah ini bukan cara yang Islami. Jika cara-cara kekerasan yang dipilih sebagai reaksi terhadap Fitna maka Wilders dan para Islamofobia di Barat akan semakin yakin bahwa Islam yang sesungguhnya adalah Islam yang dipotret dalam film Fitna itu. Sebaliknya jika umat Islam mampu menunjukkan reaksi yang tidak berlebihan dan dikemukakan secara intelektual dalam menyikapi Fitna maka tesis Wilders tentang Islam menjadi gugur dengan sendirinya. Film Control Room (Jehane Noujaim) dan Reel Bad Arabs (Jack Shaheen) merupakan contoh film dokumenter sebagai counter-culture yang bereaksi elegan terhadap persepsi sempit media Barat dalam memotret Islam. Mereka berani memperkenalkan ke komunitas Barat perspektif lain yang menggugat mainstream media Barat mengenai Islam.

Pelajaran lain yang bisa dipetik adalah bahwa sebagian cerita Fitna, khususnya mengenai ceramah-ceramah agama yang menyebarkan kebencian terhadap non-Muslim mungkin ada benarnya. Kenapa banyak golongan non-Muslim sering mempertanyakan kebenaran aspek kekerasan yang melekat dalam gerakan-gerakan Islam. Artinya dalam umat Islam sendiri harus belajar menerima kritik dan melakukan refleksi internal bahwa memang ada sesuatu yang salah dalam pendidikan dan pengajaran agama Islam sejak kecil. Ceramah-ceramah provokatif baik di masjid atau di tempat-tempat pengajian yang mengajarkan umat Islam untuk membenci dan memusuhi non-Muslim seharusnya bisa dicegah oleh seluruh kaum Muslimin. Istilah Islam is under attack seharusnya tidak dijadikan justifikasi mempromosikan kekerasan dalam Islam. Sehingga jangan sampai ulah segilintir orang Islam merusak tatanan nilai-nilai Islam yang universal dan rahmatan lil ‘alamin.

Wednesday, March 26, 2008

Grogi Mendominasi Peserta “Public Speaking Skill”

Begitulah grogi menjadi menu utama "makan siang” para peserta workshop Public Speaking and Interaction Skills Permias Ohio bersama Eko Junor. Workshop yang berlangsung di Baker Center selama dua hari ini (25 & 26 Maret 2008) baru saja selesai dengan antusiasme luar biasa para peserta.

“Saya ingin terlihat dewasa pada saat diperlukan,” Arin, presiden Permias menjawab Eko Junor soal harapan terhadap pelatihan workshop ini. Lain lagi dengan Efka dengan nada kesal katanya, “kalo saya nervous pasti bawaannya jadi jutek banget.” Sebagian besar peserta berkeluh kesah dengan rasa grogi yang mereka alami saat presentasi atau ketika jadi MC. Membuang rasa grogi, adalah harapan terbesar yang ingin dicapai peserta. Tetapi Brian justru punya harapan lain. “Bisa gak yah saya terlihat lebih smart ketika tampil bicara di depan umum?" Tanya Brian penasaran. Sedangkan Arin punya cara sendiri mengatasi groginya. “Kalo grogi saya sering mengatasinya dengan ketawa ketiwi padahal itu gak penting,” imbuh Arin. “Lho bisa saja itu penting! belum tentu apa yang kita rasakan tidak penting dilihat orang sebagai tidak penting juga” potong Eko. Oleh karenanya peserta diminta harus sedari awal bisa membedakan antara what people see and what we feel. Dan ini hanya bisa didapat dengan cara practice dan practice, yakni harus berani menerima atau mengambil tawaran ketika ada kesempatan bicara di depan umum. Practice inilah yang akan melahirkan keterampilan berbicara. Langkah awal dan paling mudah untuk practice adalah saat kita berbicara dengan orang yang baru kita kenal. Inilah ajang mengasah ketrampilan berbicara kita. Oleh karenanya latihan di depan kaca sangat tidak dianjurkan dalam workshop ini sebab beribicara di depan kaca hanyalah melibatkan satu orang, diri kita sendiri.

Gak usah khawatir kalo grogi! kata suami Mira Junor ini memberi motivasi kepada peserta. Semua orang mengalami grogi. Grogi adalah kewajaran yang menghampiri semua orang saat berbicara di depan umum. Bahkan MC atau presenter yang kita lihat di televisi pun mengalami grogi. Banyak MC televisi yang juga adalah pemalu dan pendiam bahkan kadang mereka dalam mood yang berbeda dengan apa yang terlihat di televisi. Tapi mereka dengan cepat bisa switch on their expressions tergantung situasinya. Sebab memang mereka sudah terlatih untuk itu. Tidak mungkin ketika MC lagi bete atau lagi sedih terus membawakan acaranya juga dengan sedih dan bete. Mood sedih dan bete itu cukup dirasakan oleh kita sendiri, audiens tidak perlu tahu dan emang gak pengen tahu, tambahnya memberi contoh. Begitu juga dengan grogi. Grogi itu cukup ada di dalam diri kita saja, untuk dirasakan saja tapi tidak untuk ditunjukkan. Grogi itu alamiah dan tidak ada obat yang bisa menyembuhkan. Akan tetapi kita bisa meminimalisir grogi dengan cara mengendalikan gejala-gejala grogi. Menurutnya nasihat yang paling baik adalah kita jangan pernah pikirkan apa yang orang lain pikirkan tentang kita, tetapi harusnya kita pikirkan apa yang orang lain inginkan.

Setelah mendapat wejangan materi-materi public speaking plus tips and tricks di hari pertama, tiba giliran peserta mempraktikannya di depan kamera pada hari kedua. Peserta Workshop diminta berbicara di depan kamera selama 3 menit dengan tema yang dipilih masing-masing. Mulai dari tema keluarga, film, promosi pariwisata daerah sampai ke CinTa Laura pun dibawakan peserta dengan gaya khas masing-masing. Sehabis peserta mempresentasikan materi cerita mereka, evaluasi pun dilakukan Eko Junor dengan memutar kembali rekaman video presentasi peserta. Gejala grogi yang paling sering dijumpai adalah repetitive movement atau gerakan tangan yang berulang-ulang yang kadang tidak sinkron dengan kata atau kalimat yang diucapkan saat itu. Memegang catatan dan sesekali memasukan tangan ke dalam kantong celana adalah bagian dari upaya menyalurkan rasa grogi yang memang diperlukan, demikian saran Eko yang juga pernah melatih beberapa presenter televisi nasional dan penyiar radio di Indonesia. Gejala grogi lain termasuk kontak mata antara presenter dengan penonton. Secara tidak sadar beberapa peserta ketika berbicara seringkali bola mata hitamnya terlihat ke atas atau ke bawah. Ini yang tidak boleh terjadi saat kita berbicara di depan umum karena audiens kita akan merasa dicuekin atau justru kita terlihat sedang mikir atau malu, ucap trainer yang sedang kuliah di jurusan Ilmu Politik ini. Strategi yang paling bagus untuk mengatasi gejala grogi ini adalah dengan menggunakan mata zombie. Koq mata zombie! Nah, mata zombie itu adalah ketika bicara mata kita seolah-olah melihat ke arah penonton, tetapi kita tidak perlu memperhatikan secara detail ke arah mereka, tambahnya memotivasi.

Walaupun waktu telah menunjukkan pukul 5 sore, masih ada materi yang tersisa dalam pelatihan yang telah dimulai sejak jam 1 sampe jam 5, sehingga ditambah lagi satu jam. Sisa waktu ini pun dipakai untuk mencover beberapa materi, khususnya tentang MC. Akhirnya, semangat dan motivasi ingin belajar tampil di depan umum oleh teman-teman Permias membuat waktu enam jam pelatihan di hari kedua itu berjalan begitu cepat bahkan terasa kurang.

Monday, March 24, 2008

Kunjungan Keluarga Pak Imam Prasodjo di Athens

Ungkapan terima kasih duiluncurkan secara bertubi-tubi kepada keluarga Pak Imam Prasodjo yang telah menyelenggarakan acara makan-makan buat anak-anak bala Permias Athens dengan sukes luar biasa. Contohnya ucapannya berikut ini: Dear Bapaknya Dila, Ibunya Dila, Rauf, & (tentunya) Dila,....Terima kasih atas undangan makan malamnya hari ini. Mudah-mudahan acara berkumpul bersama (baca: makan-makan) seperti ini dapat terus dilestarikan, selalu dan selamanya (Niken).

Yup! tadi malam (Minggu, 23/03/08) seiring dengan kedatangan keluarga Pak Imam Prasodjo di Athens, seluruh penduduk Indonesia (yang di Athens) berkumpul bersama di rumah Bu Elizabeth Collins untuk Potluck. Acara tersebut juga dijadikan sebagai ajang perpisahan buat Dana yang akan kembali ke Indonesia esok harinya. Dana pulang dalam rangka kelahiran putra pertama dari istri pertamanya.

Seperti biasanya, acara dimulai dengan makan-makan bersama, kemudian ngobrol, dan dilanjutkan dengan nonton film bersama. Kebetulan dirumah Ibu Collins tersedia TV layar lebar dengan sound system Bose yang suaranya super-duper luar biasa. Kali ini film yang ditonton adalah film China berjudul "Kungfu Hustle"; jadilah acara nonton film bersama itu serasa nonton di bioskop. chz


Thursday, March 13, 2008

Puisi Siang Bolong Bersama Prof. Harry Aveling

Masih dalam rangka menyambut ulang tahun Southeast Asia yang ke-40, beberapa warga Permias Athens yang dimotori oleh mantan ketuanya, Farid Muttaqin, sengaja menculik Prof. Harry Aveling untuk diajak makan siang bersama. Acara makan siang dilaksanakan secara terbatas di restoran China Fortune pada hari Selasa, tanggal 12 Maret 2008.

Harry Aveling adalah pengajar di sastra La Trobe University, Australia yang juga merupakan Visiting Professor of Linguistics and Southeast Asian Studies di OU. Beliau khusus datang dari Australia sebagai salah satu panelis dalam acara ulang tahun Southeast Asia Studies Program. Beliau banyak menerjemahkan karya-karya sastra Indonesia dan Melayu dan beberapa buku karyanya kini sudah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia. Informasi lebih lanjut mengenai beliau bisa dilihat di link ini: http://www.latrobe.edu.au/socsci/staff/aveling/aveling.html

Atas permintaan dari Chozin, dalam kesempatan acara makan siang tersebut, Pak Harry Aveling sempat membacakan beberapa sajak karya Chairil Anwar dan Sapardi Djoko Damono. Rekaman saat beliau membacakan puisi di depan anak-anak Permias dapat dilihat dalam link youtube berikut ini (rekaman oleh Adrian Budiman):

http://www.youtube.com/watch?v=rOQ5DSMo7oU
http://www.youtube.com/watch?v=TTbFnI-CY_U

Farewell Party dengan Eka: Merayakan Keragaman

"....I thank YOU PERMIAS-Athens 2006-2008 for the wonderful, loving and safe community that you have created for me. .....I am gonna miss you so much as soon as I get on the airplane this Sunday. But please, keep Athens fabulous, loving and safe for people like us. Because we could be strangers you meet at the library, your teachers, you class mates, your best friends, your brothers and sisters...And you don't want to hurt them. With Love and Respect". (Eka)

Kalimat yang ditulis khusus oleh Eka dengan warna Pink tersebut menandai perpisahan Eka dengan seluruh warga Permias Athens pada Minggu (16/03/08) lalu. Malam itu, seluruh teman dan handaitaulan secara khusus memadati apartemen RiverPak 1027 untuk merayakan farewell party dengan Eka; sebab esoknya Eka akan segera pindah ke Washington DC setelah sukses menyelesaikan studinya di OU.

Acara perpisahan tersebut berlangsung dengan sangat meriah. Tamu yang datang bukan hanya mahasiswa Indonesia akan tetapi juga kolega-kolega Eka dari berbagai bangsa. Bahkan, sebagai kenang-kenangan, masing-masing group mewakili kebangsaanya menyanyikan lagu secara khusus buat Eka.

Selamat jalan Eka, semoga sukses menempuh hidup baru di Washington DC. Jangan lupa untuk kembali berkunjung ke desa Athens yang damai ini. Kami semua akan merindukanmu. Rindu kami padamu layaknya rindu gurun kepada hujan....halah..>!
Foto2 acara by Ryoko, klik di sini

Wednesday, March 12, 2008

PERMIAS dapat Funding dari ISU sebesar $1.580 untuk kegiatan Spring 2008

Laporan dari Brian Arieska

Kabar berita gembira, bahwasanya proposal kegiatan Permias Spring Quarter 2008 telah berhasil mendapatkan persetujuan dari ISU (International Student Union) untuk mendapatkan funding sebesar $ 1.580,00 (seribu lima ratus delapan puluh dollar). Keputusan resmi lolosnya proposal tersebut dilangsungkan dalam voting oleh General Body ISU yang diselenggarakan pada hari Senin, 9 Maret 2008 di Baker 240.

Adapun rincian besaran dana yang disetujui oleh ISU untuk proposal kegiatan Permias Spring 2008 adalah sebagai berikut: pembelian kostum Saman: $1000, pembelian rebana: $200, biaya pembelian utensils, glass, refreshment (traditional) : $346.

Kegiatan Permias Spring 2008 akan difokuskan pada dua hal: pembelian baju tari saman & rebana dari Indonesia (yang nantinya akan jadi hak milik Permias, namun akan di-maintain oleh OVIC, Ohio Valley International Council) dan kegiatan pelatihan seni tari untuk seluruh warga OU (yang berminat) setiap hari jumat (April 11, 18, 25, dan Mei 2, 9, 16, 23, 30) di gedung Gordy 109.

Sunday, March 09, 2008

Dinner Bersama Alumni Permias

Athens (08/03/08). Menyambut para alumninya yang datang dalam acara 40th Anniversary of Southeast Asian Studies Program, Permias secara khusus mengadakan acara dinner bersama. Acara yang diadakan di restaurant China King itu menghadirkan beberapa alumni Permias diantaranya: Mbak Meta, Mbak Ester, Mbak Amelia, Mbak Aya, Mbak Tiwi, Mas Rudi, dan Pak Yojo. Satu alumni, Pak Iqbal, tidak bergabung dikarenakan sedang ada acara lain.

Acara juga diisi dengan kenalan oleh masing-masing anggota Permias yang dipimpin langsung oleh President Permias, Arin. Menurut Arin, “…seneng banget rasanya bisa ngumpul bareng2 sama mba2 alumni yang ternyata masih pada berjiwa muda...”

Malam itu, China King benar-benar dibuat heboh, karena setelah dinner, acara disambung dengan acara ulang tahunnya Sekretaris Permias (Ita) dan juga Eka. Tiupan lilin ulang tahun benar-benar menandai okupasi Permias terhadap China King malam itu, karena setelah itu kegaduhan oleh warga Permias menjadikan para tamu-tamu China King pada hengkang. “Walopun diluar badai salju menerpa..gak ada yang bisa ngalahin kehebohan di dalem China King...”, kata Bu President

Berikut adalah testimony oleh salah satu alumni yang sempat hadir dalam acara tersebut:

Terima kasih atas jamuan mangkan malamnya semalam di China King yang dulu namanya China Garden dan Yun's Palace (ini sejarahnya). Tempat ini dulu tempat beli makanan ekonomis yang kiloan itu. Rasanya nggak berubah setelah 5 tahun yang lalu. Dulu, biasanya aku beli dengan menu: Nasi, donat, buncis saute dan sedikit sayur or brokoli (nggak nyambung to?) yang penting mbayarnya sekitar 2 dolaran buat makan siang. Dimakan di Baker sambil ngelamun kalau makan siang di Indonesia lebih enak daripada itu dan lebih murah hehehehehe.

Ternyata, dalam pertemuan malam itu dunia terasa sesempit daun kelor bahasa Inggrisnya it's a small world bahasa Jepangnya semai sekai dan lagunya sering diputar di Disney World. Semuanya serba terkoneksi. Eka adalah adik kelas di UGM bedanya 10 tahun angkatan (tuwek bener ye, aku). Sandra adalah rekan sesama PCMI, Ita pegawai Diknas yang pernah melayani (walah, melayani.... sorry, istilahnya apa coba?), Arin bokapnya pernah ketemu aku di Bandung bosnya KLN, Diknas. Harap maklum, sebagai pegawai negeri kelayapannya daerah Diknas. Baik yang nyari beasiswa, nyari dana, kenaikan pangkat dan lain-lainnya. Kebetulan bukuku juga disponsori oleh BU-nya Diknas. Sisanya, belum dieksplor dengan baik dan benar, mungkin kalau dieksplor mungkin ketemu tetangga lama, lho. What a small world!

Dan jangan lupa bahwa alumni kayak kita ini, jangan salah, selalu membuat keributan dan kehebohan di mana-mana. Bayangken, si Anthony aja nggak nyangka bahwa ternyata kami (Meta dan Iqbal) masih muda-muda begini, keren-keren lagi (kalau yang ini tak tambah2in sih...) Nggak tahu bayangannya, kita kayak apa ya? Lebih akademikus gitu ya? Gimana sih akademikus itu? Kata Amel sih, aku sudah memenuhi kriteria itu: Pengajar, berkacamata, punya buku....Halah. Sok, imut. Meski ibu-ibu, tapi kami adalah alumnus funky and gaul dan tepatnya alumnus OU penggemar masak memasak. Jadi jangan salah. Mungkin gelar kami sebaiknya adalah Masak Ahli. Jangan tanya ilmu tentang Asia Tenggara. Mas Putut tahu persis, kita bukan pelajar yang serius. Huahahahaha. ...Tapi kita sangat serius dalam becanda (Maaf, kami tidak membuat kalian bangga ya sebagai pelajar OU? hehehe). OK then, ada ada bulan ada hiu. Ketemuan lagi yuuuks (apa pula ini...). Meta

40th Anniversary of Southeast Asian Program

Celebrating the 40th year of Southeast Asian Studies Program Anniversary, Ohio University’s held unique 40-year history in Southeast Asia focus on “40 Years of Engagement with Southeast Asia” conference. The conference celebrated Ohio University’s national prominence in the field of Southeast Asian Studies and recognize contributors to the program’s growth and success.
Laurie Sears, Professor of History and Director of the Southeast Asia Center at the University of Washington, gave the keynote address - “Twenty-first Century Area Studies: Between Cosmopolitanism and Diaspora” - on Friday, March 7 at 3:00pm in Walter Hall 145.
A dinner for conference guests followed in the Ping Center Lounge, hosted by the Southeast Asian Studies Association (SEASA), with special guests President Emeriti Dr. Charles Ping and Dr. Vernon Alden.
Roundtable discussions was the format of the conference sessions on Saturday, March 8 which inviting SEA alumni to present their experience after graduation. (source: http://www.internationalstudies.ohio.edu)
Here is panelist profiles:

the 40 Years of Engagement with Southeast Asia

LIFE AFTER SOUTHEAST ASIAN STUDIES

9:30-11:00 – Multicultural Center Multipurpose Room

Alumni Panelist Profiles

Meta Astuti meta_mks@yahoo.com – Class of 2003
Meta is now a lecturer in the Hasanuddin University (UNHAS) Japanese Studies Program and head of the Japanese Culture Research Center. She teaches Japanese language including writing, grammar and etc… and also teaching cross cultural studies such in Japanese studies, Japan-Indonesia relations and Japanese sociology. On occasion, she has also taught East Asian History and Southeast Asian History for the UNHAS History Department. Meta has a keen interest in Japanese language teaching methods and has presented a paper at the Southeast Asian Summit on the Japanese Language Education in Bandung in 2006 and at the International Seminar for Japanese Education in 2007. Her first book Apakah Mereka Mata-Mata: Orang Jepang di Indonesia 1868-1942 (Are they Spies? Japanese in Indonesia 1868-1942) was recently published by Ombak Publisher in January 2008. http://www.facebook.com/album.php?aid=13624&id=541248049 She has also published participatory maps - Green map of Buton Castle and Trail map of Buton Castle - in 2004 in collaboration with The Japan Foundation in Jakarta and the Royal Netherlands Embassy. She is currently actively involved in ASPBJI (Association of Japanese Teacher in Indonesia) as head of South Sulawesi chapter, PPIJ (Japan-Indonesia Friendship Association) as Secretary of South Sulawesi chapter, PERSADA (Japanese Alumni Association) as an active committee member, and BPPI (Indonesian Heritage Society) as a council member.

Michael Byron BYRON@Juniata.Edu – Class of 1987
Michael is Associate Professor of Education in the Education Department at Juniata College in Huntingdon, PA. He teaches a Social Studies methodology course for elementary education majors and supervises elementary and early childhood student teachers. He is the Certification Officer for the Education Department and also serves as the Title II Program Representative.

Heather Slough Catton hcatton@sfasu.edu – Class of 1996
Currently, Heather is the Assistant Director of Research and Sponsored Programs at Stephen F. Austin State University in Nacogdoches, Texas. This is the 'grants office' where faculty and staff come for help in writing proposals and managing their externally funded projects - research, etc. She has been in this position for six years. Prior to her current position, she worked for an international public health NGO in Washington, DC (PSI) where she was the new business development manager (proposal/grant writing) and an associate program manager for West and Central Africa programs (she also has a degree in French).

Amelia Hapsari cahapsari@yahoo.com – Class of 2005 (Telecommunications)
After graduating from OU, Amelia took some time to do a freelance job with the International Organization for Migration, which was training the Indonesian National Police about Human Rights and Community Policing. She worked with them for about 3 months as a course reporter. Her task was to record the dynamics of the training, create a report, and make necessary suggestions to improve the training. Since then, she has been working for China Radio International for 2 and 1/2 years. Her task is to polish Indonesian language news and to create radio features about China and Indonesian-China relations that are suitable for an Indonesian audience. The experience in China has been very interesting because it is a state-media apparatus of Chinese government.

John Morgan johnintorrance@webtv.net – Class of 1977
John is currently a high school social science teacher in California. He has been happily married for 32 years. He and his wife have an apartment in Papar in the Malaysian state of Sabah and travel back and forth to Malaysia often. He speaks Malay and is currently learning Kadazan, a language spoken in North Borneo.

Nurhaya Muchtar ayamuchtar@yahoo.com – Class of 2005 (Communication and Development Studies)
Nurhaya is currently a second year doctoral student of Communication and Information in the University of Tennessee, Knoxville. My concentration is Journalism and Electronic Media. Following her graduation from the Communication and Development Studies program in 1995, she worked for Voice of America in Washington DC prior to pursuing doctoral studies.

Karla Schneider schneidk@ohio.edu – Class of 2002
While in the Southeast Asian Studies graduate program, Karla was a political office intern at the American Embassy in Kuala Lumpur, Malaysia, and conducted field research with Aliran, a human rights NGO based in Penang, Malaysia. She wrote her thesis on the intersection of politics and government with human rights work in Malaysia, specifically focusing on how the creation of SUHAKAM impacted the ability of human rights NGOs to enact change. Karla has worked in the Center for International Studies at Ohio University since graduating in 2002. She was Assistant Director of Southeast Asian Studies from 2002 until spring 2007. As Assistant Director of the program, Karla was responsible for grant management and reporting, organizing conferences and lecture series, representing the program at Title VI and other US Department of Education meetings, and providing general assistance to the program’s students and faculty. Karla is now Assistant Director of the Center for International Studies which entails managing communications and publicity needs for the Center’s five graduate programs, undergraduate program and outreach program, organizing the weekly International Studies Forum series, serving as the Center’s Budget Unit Manager, and acting as the campus coordinator for the PING and MUSKIE fellowship programs. She supervises the Peace Corps Recruiting Office on campus and maintains her connection with Southeast Asia through her role as Coordinator of the Tun Abdul Razak Distinguished Professorship program in affiliation with the Office of the Associate Provost for International Programs and as an international recruiter for Ohio University.

Esther Sianipar juniariana@yahoo.com – Class of 2001
Esther joined the IndoPacific Edelman team as a Sr. Consultant in January 2008 in the government relations, corporate and public affairs. Esther handles crisis management and litigation communication strategy. Prior to joining IndoPacific Edelman, Esther was Specialist Staff on Foreign Affairs for Commission I (Commission of Foreign Affairs, Defense & Security and Informatics & Communication), House of Representatives - Republic of Indonesia (DPR-RI) where her responsibilities included preparing numerous formal political speeches, and political as well as analytical research papers on related government policies, amendments, international and national policies and affairs, networking, and generating stakeholders. Esther has also worked for an international NGO, Johns Hopkins University, Center for Communication Programs of Coalition for Healthy Indonesia (Koalisi untuk Indonesia Sehat, KuIS) based in Jakarta where she was entrusted to develop strategic communication and business plan on public health in Indonesia, generate grants targeted at various stakeholders, philanthropy organizations and business communities and administer advocacy on public health issues. Immediately after graduation, Esther worked for the Program for Southeast Asia Studies at Arizona State University, Tempe, AZ as the Outreach Coordinator where she recruited and advised students, organized media outreach, series of lecturers, conferences, trainings, and workshops and other direct communication and marketing programs.

Nick Zefran nvzefran@aol.com – Class of 1989
Nick currently works for the federal government as Director of Member Services for the National Civilian Community Corps. The program has been described as the domestic Peace Corps, a program for 18-24 year olds who want to give back to communities here in the USA. It's a residential, team based program that responds to disasters, human needs issues, fire fighting and the environment. The MAIA program provided him the impetus to spend 14 years working in the refugee camps of Southeast Asia. He worked in the refugee camps in Indonesia, Thailand, Philippines and Hong Kong from 1979 -1994.