Sunday, September 09, 2007

Kunjungan Pejabat Teras Depdiknas ke OU

Minggu (9/9/07), kali ini PERMIAS mendapat kehormatan mendapat kunjungan para pejabar dari DEPDIKNAS RI. Rombongan yang yang terdiri dari delapan orang tersebut sengaja datang ke Athens guna melakukan pertemuan dengan pimpinan Ohio University (OU). Pertemuan tersebut membahas kerja sama lebih lanjut menganai pertukaran pelajar Indonesia ke OU. Seperti diketahui, baru-baru ini OU kedatangan para mahasiswa baru asal Indonesia peserta beasiswa unggulan Diknas RI. Beasiswa tersebut terselenggara berkat kerja sama antara pemerintah Indonesia dengan OU, yang perintisannya sudah dimulai sejak Spring tahun lalu. Waktu itu duta besar Indonesia untuk AS, Bp. Suparno Sudjatnan, beserta atase pendidikannya, Bp. Iskandar sempat berkunjung secara khusus ke OU.

Dalam kesempatan tersebut, PERMIAS mengadakan jamuan makan malam di restoran Lui-Lui yang diperuntukkan untuk para mahasiswa Indonesia dan para tamu dari Diknas. Acara berlangsung meriah dan diselingi dengan diskusi mengenai kondisi pendidikan di Indonesia yang bagi sebagian besar anggota PERMIAS masih sangat memprihatinkan. chz

Friday, September 07, 2007

Indonesian Conversation Hour di Mulai

Juma’t sore (7/9/07), kagiatan Indonesian Conversation Hour di mulai. Acara ini merupakan kelanjutan dari acara rutin PERMIAS yang sempat jeda selama liburan summer. Para anggota Permias berkumpul bersama para mahasiswa non-Indonesia yang sedang mempelajari Bahasa Indonesia setiap hari Jumat jam lima sore untuk melakukan percakapan dalam bahasa Indonesia secara informal.

Acara ini diadakan untuk membantu para mahasiswa non-Indonesia yang sedang belajar bahasa Indonesia. Jadi, selain mendapat pelajaran bahasa Indonesia di kelas, mereka juga mempraktekkannya secara langsung dengan native speker-nya, yaitu para mahasiswa Indonesia yang sudang kuliah di OU.

Mulai Fall ini, jumlah pesertanya bertambah di banding tahun ajaran sebelumnya. Jika sebelumnya hanya diikuti oleh 4-5 peserta, maka sekarang jumlahnya mencapai hampir 10 orang. Hal ini karena dipengaruhi oleh bertambahnya jumlah mahasiswa Ohio University yang mengambil kelas Bahasa Indonesia. chz

Wednesday, September 05, 2007

Permias Kedatangan Anggota Baru

Rabu (5/9/07), setelah beberapa saat sepi ditiggal beberapa anggotanya yang selesai studi di OU dan kembali ke tanah air tercinta, Indonesia, kini permias kedatangan para anggota baru. Mayoritas anggota baru permias tersebut adalah para calon mahasiswa S2 yang mendapat beasiswa unggulan dari Departemen Pendidikan Nasional. Mereka adalah: Arin, Brian, Citra, Dana, eFKa, Gugun, Ita, Niken, Pratiwi, dan Tsui. Para calon mahasiswa graduate untuk sementara masih mengambil kelas bahasa inggris di OPIE (Ohio Program of Intensive English), dan untuk selanjutnya akan masuk kuliah resmi sesuai dengan pilihan jurusannya maisng-masing.

Selain dari penerima beasiswa unggulan, ada juga seorang fulbrighter yang mengambil program PhD di bidang education bernama. Mila berasal dari Gorontalo dan dia adalah slah seorang pengajar di Universitas Negeri Gorontalo. Nelly Martin yang sudah datang ke OU sejak summer mengajar bahasa Indonesia di OPIE menemani Maru yang sudah lebih dari setahun mengajar kelas Bahasa Indonesia di OPIE. Juga datang satu mahasiswa undergraduate yaitu Citra.

Yang menarik, kali ini permias kedatangan juga anggota baru yang masih SMA. Namanya Ahlul dari Macasar. Dia adalah siswa SMA 5 makassar yang sekarang sedang mengikuti program pertukaran relajar (AFS) selama setahun di salah satu highs school di Athens. Meski bukan mahasiswa, Ahlun selalu dianggap sebagai bagian dari permias karena selalu aktif dalam kegiatan permias. Makanya sering juga disebut anggota permias bungsu. (chz)

Monday, July 23, 2007

SOUTHEAST ASIA TEAM IN 2006 RELAY FOR LIFE

Dengan koordinasi oleh Chris Mills, mahasiswa AS yang pernah tinggal 3 tahun di Indonesia, beberapa mahasiswa Indonesia di Ohio University menjadi supporter utama dalam acara Relay for Life. Acara tersebut merupakan sebuah program penggalangan dana untuk mendukung para penderita kanker di AS. Tim yang mayoritas annggotanya adalah para mahasiswa Indonesia tersebut berhasil mengumpulkan dana sebesar $1,765. Bahkan Sandra Nahdar (cowok) dinobatkan sebagai Miss Relay atas kelihaiannya berperan sebagai perempuan dalam lomba yang diselenggarakan oleh panitia. Berikut laporan berita lengkapnya yang di muat di Monsoon edisi Spring 2005-2006.

Ohio University’s Relay for Life, a fundraising event for the American Cancer Society, took place May 19-20 at Ohio University’s driving range. The 18-hour relay walk began at 6:00pm on Friday, May 19 and ended at noon on Saturday, May 20. Chris Mills, graduate student in the Southeast Asian Studies Program, organized a team for this year’s event. Members of ‘Team Semangat’, meaning ‘spirit’ in Indonesian, included Team Captains Chris Mills and John Innis, Lewinna Aguskin, Muhammad Chozin, Dave Cramer, Erda Handayani, Lina Himawan, Drew, and Nancy McDaniel, Farid Muttaqin, Sandra Nahdar, Anis Sundusiyah, Pichayalak Pichayakul, Karla Schneider, Rudi Sukandar and Ezki Widianti.

Team Semangat’s fundraising efforts were a huge success. In addition to personal donations received, the team held a benefit garage sale and sold chicken satay the night of the event. In total, the team raised $1,765 to benefit the American Cancer Society. Team Semangat earned special recognition from the organizers of the event by being awarded the Team Spirit plaque and our own Sandra Nahdar, dressed in an Indonesian kebaya, was awarded the title of ‘Miss Relay’.

Source: http://www.ohiou.edu/seas/Monsoon_Spring_05_06.pdf

Monday, July 16, 2007

Indonesian broadcasters tap Scripps' expertise

July 16, 2007

As oppressive regimes give way to more open, democratic societies around the globe, redeveloping nations often have little idea how to effectively implement a new privilege: freedom of the press. For the past week, the Scripps College of Communication has been helping 17 broadcast journalists from Indonesia face the opportunities and challenges of reporting news in an open society.

The journalists are participating in a State Department-funded exchange program at the E.W. Scripps School of Journalism through Tuesday. Specifically, they are studying coverage of ethnic diversity and conflict. This part of their training will be followed by three-week internships at TV stations around Ohio.

"Press freedom is still a relatively new thing in their country," said Associate Professor of Journalism Mary Rogus, who led a seminar for the journalists in Jakarta in March and is participating in this one. Nearly 10 years after the end of Indonesia's authoritarian Suharto regime, television media is exploding there.

"We (Americans) have been doing this television thing for a long time now, and we've figured some things out," Rogus said. When covering conflict, she said, "It's not our job to fix things, but it is our job to give people the tools to fix things and not make them worse."

Dandhy Dwi Laksono, a news producer for RCTI television news in Jakarta, said he is here to learn more about how American journalists access information from the government. "Journalists in America can focus on the big picture," he said, "(while) in Indonesia, the government holds all the public information for their own interests."

Ironically, the Indonesian journalists have access to documents at Ohio University that are unavailable in their home country. Alden Library has an extensive Southeast Asian Collection, and the university is designated as a Southeast Asian Studies National Resource Center.

"We use the same paradigm (as American TV journalists): footage first, perspective later," Laksono said. But he agrees with Rogus' assessment that journalists should not amplify conflict through their coverage. "Journalists should have nothing to do with nationality or national identity. Our universal language is humanity."

Laksono will intern at WHIO in Dayton, where he plans to work on stories about gun rights and the 911 emergency response system.

"The people we have here in this group, many of them are getting toward the mid-career professional (stage)," said David Mould, associate dean of the Scripps College. "They're not just journalists themselves, but (they are going) to train younger journalists because to be frank, most universities in these countries are doing a terrible job."

Scripps has stepped forward to train journalists in other nations as well. For example, the Ohio University Institute for Telecommunications Studies is partnering with the National University of Kyiv in Ukraine to develop a multimedia production program. Also funded by the U.S. State Department, the program is developing state-of-the-art production facilities and academic offerings in television, documentary and media production.

"Journalists around the world struggle and sacrifice, even their lives ... to just tell the truth," Rogus said. "I think it inspires us to keep fighting for our freedoms as journalists."

Source: http://www.ohio.edu/outlook/06-07/July/758n-067.cfm

Sunday, July 01, 2007

Ohio University to Provide Media Training to Indonesian Broadcasters Through State Department Grant

July, 2007. An Ohio University project funded by a U.S. Department of State grant will facilitate an exchange between Indonesian and American journalists with the goal of raising professional standards in the reporting of issues of cultural and ethnic diversity and conflict by local TV journalists in Indonesia. The $248,000 grant will bring TV journalists from Indonesia to Ohio to study how U.S. media cover conflict and ethnic and cultural diversity in their communities and will allow a group of Ohio TV journalists to travel to Indonesia to learn how their counterparts there report on such issues.

The State Department grant for “people-to-people” educational exchanges will enable Indonesian journalists to learn directly from the experiences of their U.S. colleagues in reporting on issues that divide communities. Ohio University’s Center for Southeast Asia Studies, working with the Center for Research on Inter-Group Conflict and Conflict Management at the University of Indonesia and the leading journalists’ advocacy group, the Aliansi Jurnalis Independen (AJI), will select 18 participants through an open competition designed to ensure balance in gender, region, religion and ethnicity, and between government and non-government TV. The project will begin with a one-week workshop in March 2007 in Jakarta on conflict reporting led by Ohio University journalism professor Mary Rogus. In late June participants will come to Ohio University for a two-week seminar at the E.W. Scripps School of Journalism, followed by three-week internships at TV stations in Columbus, Cleveland, Cincinnati, Dayton and Zanesville.

While in the U.S. each Indonesian journalist will produce a feature-length story on cultural and ethnic diversity and conflict resolution. The Indonesian journalists will be engaged in the daily work of their U.S. counterparts including: accompanying reporters and videographers as they cover stories on cultural and ethnic issues and community conflict; observing the coverage of community meetings and forums; attending daily newsroom meetings and meeting with assignment editors and producers; meetings with journalists from other media outlets to discuss how cultural and ethnic issues are covered, and the pressures faced by journalists; and meetings with local government officials and representatives from ethnic associations and community groups.

Six Ohio TV journalists will undertake one-week consultancies at the participants’ stations between September 2007 and March 2008.

Indonesia, the world’s fourth most populous country (225 million), has the largest Muslim population in the world. Since the overthrow of President Soeharto in 1998, cultural, religious and ethnic issues have been politicized, and the country has experienced regional and inter-communal conflicts, often with multiple causes. Rival groups have used the media to rally support and occasionally to incite conflict.

The end of authoritarian rule resulted in a media boom, and an increase in the number of regional and local TV and radio stations. TV has become increasingly influential in delivering news and framing issues of cultural and ethnic diversity and conflict. However, many TV journalists lack training or experience, particularly in the reporting of sensitive or potentially divisive issues. Most training efforts have focused on radio and print journalists.

As a US Department of Education designated Title VI National Resource Center for Southeast Asian Studies, Ohio University’s Southeast Asian Studies program provides instruction in language and area studies at the university as well as outreach to students, teachers and residents across the state and beyond. The University has extensive partnerships in Indonesia. In 2000 Ohio University partnered with the University of Indonesia to establish the Center for Research on Inter-group Relations and Conflict Resolution (CERIC) in Depok, Indonesia with support from the Asia Foundation. Ohio University and CERIC were awarded a U.S. Department of State grant to develop training-of-trainer workshops on local-level conflict management, democratic dialogue, tolerance education, and the role of media in reporting on conflict in 2001. Ohio’s Center for Southeast Asian Studies has also facilitated citizen exchanges between Indonesia and the United States through an inter-religious dialogue project funded by the U.S. State Department.

Source: http://www.internationalstudies.ohio.edu/news-events/newsletter/newsbriefs-01.htm

Monday, June 04, 2007

Solidaritas Gempa Jogja dari Permias Athens

May 27, 2007 marked the first anniversary of the earthquake that hit Yogyakarta and Central Java Provinces Indonesia. The 5.9-Richter-scale earthquake on May 27, 2006 claimed more than 6,000 lives, left thousands of others without a roof over their heads, and destroyed infrastructures and social facilities.

Last year, the Athens Chapter of PERMIAS (Indonesian Student Association), with the support of many Ohio University students, faculty and staff, worked to collect donation for the victims. We distributed donation boxes across campus and to several churches and the Islamic Center in Athens. PERMIAS and student volunteers also conducted a fundraising event by having a one-day sale of Indonesian ethnic souvenirs and by selling food on Court Street during the first week of June 2006.

The fund received by PERMIAS from the above activities was $ 3,400. In addition, some people donated their money to help the earthquake victims through "People to People Aid in Support of Nurani Dunia" by money transfer or check. As many local and international institutions helped the victims by providing food, health services and building materials, PERMIAS decided to distribute the $3,400 fund to educational institutions, especially schools whose facilities were destroyed by the earthquake.

On Tuesday Morning, Feb. 27, 2007, in Yogyakarta, Indonesia, a group of volunteers led by Elis Anis (an OU alumnus) delivered the aid from people of Athens to several schools. The aid was delivered in the form of children's playing equipments and toys as well as educational/instructional media to kindergartens in Yogyakarta and Klaten, Central Java.

Ten kindergartens have received the aid. To accommodate the students' need to learn and play, a tent has recently been set up near the school area where students are eager to study despite the fact that they have to sit on the ground. When our volunteers visited the school and delivered the children's toys and educational/instructional media, the teachers and students were excited to receive them. Some teachers expressed their happiness by crying and expressed their gratitude to people of Athens who helped them with educational facilities. Students were cheering when Troy Johnson, an OU graduate student who was conducting research in Indonesia, delivered the aid to their schools.

On behalf of the earthquake victims, PERMIAS would like to express our deepest gratitude to people of Athens and OU students, faculty and staff for their donation. We also would like to thank the volunteers who helped us with the activities to raise the money for the earthquake victims. For more information about the aid distribution, please contact Muhammad Chozin at mc240405@ohio.edu for a visual report on the aid distribution. Reported by Rudi Sukandar

Source Link: http://athensnews.com/index.php?action=viewarticle&section=opinion&story_id=28425

Friday, June 01, 2007

Your turn: Donations for Indonesian earthquake victims met with laughter, joy

Published Friday, June 1, 2007. May 27 marked the first anniversary of the earthquake that hit Yogyakarta and Central Java Provinces in Indonesia. The 5.9-magnitude earthquake in 2006 claimed more than 6,000 lives, left thousands of others without a roof over their heads and destroyed infrastructures and social facilities. Last year, the Athens Chapter of PERMIAS (Indonesian Student Association), with the support of many Ohio University students, faculty and staff, worked to collect donations for the victims. We distributed donation boxes across campus and to several churches and the Islamic Center in Athens. PERMIAS and student volunteers also conducted a fundraising event by having a one-day sale of Indonesian ethnic souvenirs and by selling food on Court Street during the first week of June 2006.

The money received by PERMIAS from the above activities was $3,400. In addition, some people also donated money to help the earthquake victims through “People to People Aid in Support of Nurani Dunia” by money transfer or check. As many local and international institutions helped the victims by providing food, health services and building materials, PERMIAS decided to distribute the $3,400 to educational institutions, especially school facilities that were destroyed by the earthquake. On Tuesday morning, Feb. 27, in Yogyakarta, Indonesia, a group of volunteers led by Elis Anis (an OU alumnus) delivered the aid from the people of Athens to several schools. The aid was delivered in the form of children’s playing equipment and toys, as well as educational/instructional media to kindergartens in Yogyakarta and Klaten, Central Java.

Ten kindergartens have received the aid, and among them were TK Pertiwi Jabung, TK Gesikan, TK Pesu, TK Canan TK ABA Kalitengah, TK ABA Sengon I, TK ABA, TK Franciscus and TK Sengon I. Of these schools, TK Pertiwi Jabung was the most damaged as the school building was completely torn down because of the earthquake. To accommodate the students’ need to learn and play, a tent has recently been set up near the school area where students are eager to study despite the fact that they have to sit on the ground. When our volunteers visited the school and delivered the children’s toys and educational/instructional media, the teachers and students were excited to receive them. Some teachers expressed their happiness by crying and expressed their gratitude to the people of Athens who helped them with educational facilities. Students were cheering when Troy Johnson, an OU graduate student, who was conducting research in Indonesia, delivered the aid to their schools.

The money that you donated last year helped bring laughter and joy to the kindergarten students and teachers who have lost their learning and playing facilities because of the earthquake. On behalf of the earthquake victims, PERMIAS would like to express our deepest gratitude to the people of Athens and Ohio University students, faculty and staff for their donations. We would also like to thank the volunteers who helped us with the activities to raise the money for the earthquake victims. For more information about the aid distribution, please contact Muhammad Chozin at mc240405@ohiou.edu for a visual report on the aid distribution. By Rudy Sukandar is a graduate student studying communication

Source: http://thepost.baker.ohiou.edu/Articles/Opinion/2007/06/01/20375/

Saturday, May 05, 2007

Film Indonesia "Berbagi Suami" di putar di Bioskop Athens, Ohio




Salah satu film produksi Indonesia berjudul "Berbagi Suami" diputar dalam acara Festival Film+Vidoe di Athens, Ohio, USA. Hal ini merupakan kebanggaan tersendiri bagi mahasiswa Indonesia yang kuliah di Ohio University; karena dengan diputarnya film tersebut menunjukkan bahwa kualitas film Indonesia sudah diakui di tingkat Internasional. Acara pemutaran film yang berlokasi di sebuah bioskop dekat kampus itupun dipadati banyak penonton, baik dari kalangan mahasiswa maupun penduduk Athens. Tentu saja, tak ketinggalan para penonton dari mahasiswa Indonesia yang kuliah di OU. Berikut cuplikan iklan film tersebut, yang di ambil dari: http://www.athensfest.org/feature_films/features.php?id=2


Berbagi Suami (Love for Share)
Director: Nia Dinata

Indonesia
In Indonesian, with English subtitles
Not rated, 120 min.
April 30, 5:15 pm, Athena Cinema

Monday, April 30, 5:15 PM, Athena Cinema
Tuesday, May 01, 7:30 PM, Athena Cinema
Thursday, May 03, 7:30 PM, Athena Cinema

A sensitive, and surprisingly humorous examination of polygamy in modern Indonesia, the largest Moslem country in the world. The stories of three women, from three different social classes and ethnic backgrounds, are interwoven in a strikingly courageous and ultimately hopeful movie. Each woman's story is told in sequence; Salma is a gynecologist who questions polygamy but as a faithful Moslem, she accepts her fate to have a polygamous husband- and as "first wife," has certain prerogatives not available to her "sister-wives."

Siti is a Javanese village girl who has high hopes for a better life in the metropolitan city of Jakarta. Her dreams shatter once she realizes that living in a city slum in a polygamous household will not take her anywhere. And when Siti has to help the newest wife deliver her baby, without any medical help, and the master of the household barges in unannounced, stone drunk with a strange girl hanging on his arm (a girl who is to be fourth wife), Siti is engaged and driven to explore new possibilities of freedom and choices in her life.

Ming is a waitress in a famous roast duck stall in downtown Jakarta. Her youthful vitality and Chinese-Indonesian mixture of beauty stands out among the busy crowd. Ming dates the stall's cook, among others, but he can barely conceal his jealousy watching Ming flirt with male patrons. The competition gets even tougher when Ming dates a rookie filmmaker who promises her with a role in his first feature. We soon find out that Ming is willing to go a lot further to fulfill her ambitions of stardom, even to become a kept mistress…

Directed by Nia Dinata, who is the leading female Indonesian independent filmmaker. Winner of the Best Feature Film at the 2006 Hawaii International Film Festival.

"There is chemistry zapping all around, giving the film a fluidity and energy that is rewarding to watch."
—Chan Siew Lian, www.think.com

For more information, visit: www.redfilms.com

Co-sponsored by the Program in Southeast Asian Studies at Ohio University.

Saturday, April 28, 2007

Islam, Pesantren and Terrorism from an Inside Perspective

Athens, Friday, April 27, 2007. As a journalist reporting on Islamic terrorism in Indonesia, Nur Huda Ismail has unique insight and access to the terrorists themselves. In his teens, he was a student at the notorious Islamic boarding school (pesantren) known as Ngruki, alma mater of several members of the terrorist group Jamaah Islamiyah, and was roommates with one of the Bali bombers convicted in the first terrorist attack of 2002.
Huda was a special correspondent for the Washington Post's Jakarta bureau from 2003-2004, and a research analyst at the Institute of Defense & Security Studies of Nanyang Technological University, Singapore in 2005. In addition, he is a British Chevening scholar on International Security Studies at St. Andrews University, UK, and is a leading authority on terrorism in Southeast Asia. He was recently featured in the new PBS documentary, Struggle for The Soul of Islam: Inside Indonesia.
See Noor Huda Ismail’s works at: An Indonesian's Prison Memoir Takes Holy War into Cyberspace http://www.washingtonpost.com/ac2/wp-dyn/A62095-2004Dec13?language=printer
His Blog http://noorhudaismail.blogspot.com/
Women who marry terrorists and join the global jihad http://www.thejakartapost.com/yesterdaydetail.asp?fileid=20060307.E03

Friday, April 27, 2007

Three Ohio University students win Fulbrights to teach, research: Scholarships send students to Indonesia, Taiwan, Chile

ATHENS, Ohio (April 27, 2007) -- Three Ohio University seniors have been named U.S. Student Fulbright Scholars. Angela Kilbane and Dale Albanese have each been awarded Fulbright English Teaching Assistantships in Indonesia and Taiwan, and Tim Lorek won a Fulbright Research Scholarship to Chile.


Other finalists are awaiting their results, which could arrive any time between now and the end of June.

Kilbane said her interest in Southeast Asia was piqued during a vacation in Bali while studying in Australia her sophomore year. The week she spent there, coupled with a political science course about Southeast Asia, had her hooked.

"It was completely different from anywhere I'd ever been before," she said of Bali, one of about 17,500 Indonesian islands.

Kilbane, who will graduate in June with a degree in political science and certificates in Southeast Asian studies and teaching English as a foreign language, said she expects that her year abroad will help her choose a career path, which she said could include working with a nongovernmental organization in Indonesia or going to law school.

"I think this opportunity will point me in the direction I need to go in," she said.

Sung-Ho Kim, associate professor of political science, taught two of Kilbane's political science classes and describes her as an exceptional student. He said her character and persuasive abilities led him to recommend her for the award.

"She's a first-ranked student," he said. "She is a quietly persuasive, quietly powerful student."

Albanese, a senior majoring in English and international studies, will teach in Taiwan next year. He has experience studying abroad in Shandong, China, and he earned a certificate in teaching English as a foreign language in Ecuador this past summer.

Though he said he is keeping his career options open, and he names international development as a possible future career, he said he enjoys teaching English.

"You see the immediate effects of what you teach," he said. "It's definitely rewarding to see them want to use English in everyday life."

Liang Tao, associate professor of linguistics, got to know Albanese when he was a student in her class. She praised his talent and drive.

"I felt he would be a good representative of people from the United States to be a positive image for the people of Asia," she said.

Lorek, a senior majoring in history and Spanish, will travel to Santiago, Chile, on a Fulbright research scholarship. His project, "Contemporary Change in the Teaching of History," aims at understanding the changes in history education in Chile under different governmental regimes. The research, he said, combines his multiple academic interests.

"I'll be working specifically with some faculty members and others in the area," he said, explaining that he'll be working with the National Library of Chile. "I'm looking to apply my research there to a master's thesis. And use that as a stepping-stone into doing work in the field of Latin American history."

Lorek, who is the regatta chairman of Ohio University's crew team, has a minor in geography and he is pursuing certificates in Latin American studies and environmental studies.

Patrick Barr-Melej, associate professor of history, taught Lorek in an undergraduate tutorial on 20th century Chilean history and supported him throughout the application process.

"Tim's enthusiasm, strong grasp of the Spanish language, unambiguous intent to build a career in academia, his respect for Chile, Chileans, and their history, his contacts in the Chilean academy, and good old fashioned hard work made him stand out," he said.

Winning such competitive and prestigious awards is the academic equivalent of making the Olympic team. Ohio University students compete for some of the most sought-after awards in the country - such as the Truman and the Marshall. In 2005-06 they won 45 nationally competitive honors, including 13 U.S. Student Fulbright grants. The university led the state for the fourth straight year for its number of Fulbright grantees and is ranked nationally among institutions such as Princeton University and Boston College.

Source: http://www.ohio.edu/outlook/06-07/April/566n-067.cfm

Friday, March 30, 2007

LAPORAN: PENYALURAN DANA UNTUK GEMPA YOGYAKARTA

Narrative Report

PENYALURAN DANA UNTUK GEMPA YOGYAKARTA

PERMIAS Athens, Ohio, USA

Yogyakarta dan Jawa Tengah, Februari – Maret 2007

A. Pendahuluan: Gambaran Umum Gempa 27 Mei 2006

Menurut Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG), gempa bumi yang terjadi di Yogyakarta dan Jawa Tengah tanggal 27 Mei 2006 pukul 05.53 WIB telah merenggut nyawa sekitar 6234 orang (Departemen Sosial RI) dan melukai 50.000 orang lebih. Gempa 27 Mei juga memporak porandakan puluhan ribu rumah dan bangunan lain seperti sekolah, masjid, gereja, gedung pertemuan dan lain lain. Dua daerah yang paling parah menderita akibat gempa adalah kabupaten Bantul (Yogyakarta) dengan jumlah korban meninggal 4.280 orang, dan kabupaten Klaten (Jawa Tengah) dengan jumlah korban meninggal 1.036 orang. Kedua kabupaten tersebut terletak tepat berada pada lintasan garis patahan Sesar Opak (Opak Creek), sementara menurut BMG, gempa 27 Mei dipastikan disebabkan oleh aktivitas sesar atau patahan aktif (Kompas, 27 Mei). Gempa susulan terjadi 4-5 kali dan banyak korban meninggal justru pada gempa susulan. Mereka tidak masuk ke rumah untuk mengambil barang-barang dan tidak menyangka terjadi gempa susulan. Banyaknya korban juga disebabkan karena gempa terjadi pada jam 05.53 dimana kebanyakan orang masih berada di dalam rumah.

Kompas melaporkan bahwa “yang dapat dirasakan pada saat gempa bumi terjadi adalah getaran bumi tempat kita berada pada saat itu, bumi bergoyang kesamping dan keatas, itulah gelombang gempa yang sampai ketempat kita” (Kompas, 27 Mei 2006). Gempa 5.9 scala Richter yang terjadi selama 57 detik itu telah menyisakan duka dan trauma yang mendalam, khusunya bagi masyarakat di Yogyakarta dan Jawa Tengah. Bagaimana tidak? Banyak diantara mereka yang melihat anggota keluarga, teman dan tetangga mereka meninggal, terenggut nyawanya oleh bencana gempa yang tiba tiba terjadi. Kehilangan tempat tinggal juga merupakan derita tersendiri. Banyak diantara mereka yang mengumpulkan ribuan demi ribuan dan hanya kurang dari 60 detik rumah mereka hancur beserta isinya.

Berita tersebut segera menyebar ke seluruh penjuru dunia dan mulailah berdatangan bantuan dari berbagai pihak, diantaranya NGOs seperti UNICEF, World Bank, European Community , World Food Program, Tifa Foundation, ACT, dll. Disamping itu beberapa negara yang telah banyak membantu korban gempa adalah: Cuba, Jerman, Iran, Jepang, Malaysia, Pakistan, Saudi Arabia, Thailand, Qatar, Arab Saudi (sumber: Insist).

Para Mahasiswa Indonesia yang sedang studi di Ohio University juga turut merasakan duka yang mendalam atas musibah tersebut, apalagi beberapa mahasiswa berasal dari Yogya (Chozin dan Elis). Akhirnya dengan support dari teman teman mahasiswa OU, dosen dan masyarakat Athens, PERMIAS Athens menggalang dana untuk membantu meringankan beban para korban gempa. Bersama sama PERMIAS dan masyarakat Athens mengumpulkan dana melalui penjualan suvenir, makanan, dan minuman khas Indonesia. Banyak pihak yang mendonasikan barang barang untuk dijual dalam upaya penggalangan dana. Penggalangan dana juga dilakukan tengah malam sampai pagi dini hari untuk menambah jumlah dolar yang akan didonasikan kepada masyarakat yang terkena gempa. Akhirnya kami mendapatkan total donasi sejumlah $ 3400 atau Rp. 31.000.000. Kami sangat bersyukur atas semua bantuan dari teman teman dan masyarakat Permias yang sudah membantu baik moril maupun materiil.

Berdasarkan rapat pengurus PERMIAS Athens, Penyaluran dana untuk korban gempa Jateng dan DIY diserahkan pelaksanannya kepada alumni OU yang ada di Indonesia ( Elis & Eski ). Eski memiliki tanggung jawab sebagai bendahara dan Elis sebagai koordinator lapangan. Penyaluran dana lewat alumni OU ini diharapkan agar bantuan langsung sampai kepada korban gempa tanpa banyak potongan biaya, dan lebih bisa dipertanggung jawabkan keuangannya. Kemudian atas persetujuan pengurus PERMIAS Athens, koordinator lapangan ( Elis ) meminta bantuan 2 volunter ( Rusdi Santoso dan Azwar ) serta 1 driver ( Ramang Nurdiansyah ). Pada pelaksanaan penyaluran dana, kami juga dibantu oleh Andri Setyawan, Dwi Purmala Setyo dan Paryanto Rohma. Ketiganya hanya murni membantu, tanpa diberikan perdiem.


B. Prioritas Program

Bantuan ini dititik beratkan pada bidang pendidikan. Berdasarkan hasil survey kami, yang paling membutuhkan bantuan adalah Taman Kanak-kanak (TK). Diawal awal tahap recovery korban gempa, sedikit sekali Lembaga Pemerintah / NGOs yang memprioritaskan bantuan pada lembaga Taman Kanak-kanak. Kebanyakan mereka membantu Sekolah Dasar ( SD ) atau SMP dan SMA. Di Kabupaten Klaten masih banyak TK yang belum mendapatkan bantuan gedung, sebagian dari mereka masih melaksanakan kegiatan belajar mengajar di tenda atau di bangunan sementara yang di buat warga, seperti panggung. Hal ini sangat memprihatinkan karna anak-anak juga banyak mengalami trauma dan dunia pendidikan adalah dunia bermain dan belajar mereka, dunia yang bisa menghibur dan melupakan duka mereka. Sementara gedung mereka roboh, mainan mereka hancur lebur, hanya sedikit yang tersisa.

Pada awalnya kami ingin membantu membangunkan sekolah sementara yang terbuat dari bambu, tapi seiring dengan berjalannya waktu, didaerah Bantul Yogyakarta, sudah ada bantuan dari World Bank melalui PPK ( Program Pengembangan Kecamatan ) untuk membuat bangunan baru (gedung baru ) karena TK lama mereka hancur ( rata dengan tanah ). Tapi meskipun punya gedung baru, mainan mereka hancur lebur, hanya sedikit yang tersisa. Padahal dunia TK identik dengan dunia bermain, sehingga kami memutuskan untuk memberikan bantuan berupa alat-alat permainan TK dengan harapan mereka bisa bermain lagi bersama teman-teman mereka dan mengembalikan keceriaan mereka. Sehingga perlu kami garis bawahi bahwa focus kita memang anak anak, karena memang menurut pengamatan kami, sangat sedikit yang memberikan perhatian pada anak anak korban gempa.

C. Jenis Bantuan

Ada 2 jenis mainan untuk TK : 1) mainan luar 2). mainan dalam.

Mainan luar biasanya lebih mahal, tapi kuat dan tahan lama. Mainan luar yang kami berikan diantaranya ayunan, tangga pelangi, titian, dan papan peluncur.

Sedangkan mainan dalam separti kuda goyang, kapal goyang, angsa goyang, aneka puzzle, aneka mainan berdiri, aneka balok, alat musik, dan lain-lain.

Kami juga membantu 16 set ( 16 meja, 32 kursi ) dan di salah satu TK yang hanya memiliki 8 meja usang tak layak pakai dan tak punya kursi. Kami juga memberikan kasur untuk UKS TK di TK Gantiwarno Klaten.


D. Aktivitas Pra-pelaksanaan

1. Penentuan Kriteria

agar kami bisa memberikan bantuan yang tepat sasaran, maka kami membuat beberapa kriteria TK mana saja yang akan memperoleh bantuan.

Beberapa criteria tersebut adalah :

· TK berada dilokasi gempa yang parah yang berlokasi di Bantul ( DIY ) dan Klaten ( Jawa Tengah ).

· TK belum mendapatkan bantuan alat-alat mainan.

· Mainan- mainan pada waktu gempa sebagian besar hancur.

· Diutamakan TK yang berada di pelosok (jauh dari pusat kota) dan terabaikan dari bantuan


2. Pendataan dan survey lapangan

Setelah menentukan kriteria-kriteria tersebut, kooriantor lapangan ( Elis ) bersama volunter ( Azwar dan Rusdi ) melakukan survey lapangan. Azwar khususnya melakukan survey dan mendata TK-TK yang membutuhkan bantuan untuk daerah Yogya (kecamatam Imogiri, Pleret, Banguntapan, Jetis, dan Sewon) . Sedangkan Rusdi didaerah Klaten (Survey meliputi kecamatan Gantiwarno, Wedi, Prambanan, Elis sendiri ikut melakukan survey, baik di Klaten (Gantiwarno, Wedi, Prambanan) maupun Yogya (kecamatan Imogiri) . Setelah data kami dapatkan, kami mengadakan pertemuan dan membahas prioritas TK yang perlu diberikan bantuan. Setidaknya ada 22 TK yang memerlukan bantuan untuk wilayah Klaten dan DIY berdasarkan data yang telah terkumpul.

3. Survey Harga

Disamping survey lokasi, kami juga survey harga mainan TK di beberapa toko baik di Jateng dan DIY dan kami menemukan toko mainan “ Az-zahra “ yang berlokasi di Cawas, Klaten sebagai toko yang paling murah. Untuk satu mainan luar, selisih antara toko Az Zahra di banding toko lainnya sekitar Rp. 300.000 – Rp. 400. 000. Tidak hanya lebih murah, kami juga mendapat potongan harga (discount) untuk beberapa mainan luar seperti ayunan, titian, dan tangga pelangi. Ketika pemilik toko mengetahui barang barang yang kami pesan untuk korban gempa, mereka tidak memungut biaya pengiriman barang dari Klaten ke Yogya, maupun dari toko Az Zahra ke Rumah Rusdi (base camp di Klaten), padahal jarak Kecamatan Cawas dengan Gantiwarno maupun jarak ke Yogyakarta cukup jauh. Kami akhirnya mantap memutuskan untuk pesan di Az Zahra, tapi kami juga pesan beberapa paket puzzle di Yogya karena saat itu kami sedang dikejar waktu.

4. Rapat koordinasi

Selama masa pra-pelaksanaan, setidaknya koordinator lapangan bersama 2 volunter mengadakan 4 kali rapat koordinasi dan puluhan kali koordinasi lewat telephon maupun sms. Semua ini dimaksudkan untuk menyatukan langkah dan merencanakan program dengan sebaik mungkin. Sebagai koordinator lapangan saya cukup salut terhadap loyalitas 2 volunter yang selalu datang dalam rapat koordinasi, meskipun hujan dan jaraknya agak jauh (Rapat sering diadakan di Yogya, sementara Rusdi rumahnya di Klaten). Rapat koordinasi biasanya berlangsung 1 – 2 jam dan menghasilkan kesepakatan kesepakatan dan perencanaan yang lebih matang.

E. Pelaksanaan Penyaluran Dana dan Respon Penerima

1. Bantuan Tahap I (Daerah Klaten, Jawa Tengah)

Untuk tahap I ini kami menyalurkan bantuan di daerah Klaten, khusunya beberapa kecamatan yang terkena dampak gempa dengan katagori berat, yakni kecamatan Gantiwarno dan Wedi. Kami membaginya dalam 3 hari: 27 Feb, 28 Feb dan 1 Maret. Total TK yang berikan bantuan ada 11, yang terdiri dari TK 5 Pertiwi (TK Umum), 5 TK ABA (Islam) dan 1 TK Fransiskus (Kristen). Dalam pendataan kami, sulit menemukan TK Kristen, sehingga hanya ada 1 TK Kristen yang diberikan bantuan. Kebanyakan TK adalah TK Pertiwi dan TK ABA.

Berikut ini ilustrasi penyaluran dana gempa tahap I:

Pagi itu Selasa, 27 Februari, Rombongan Penyaluran Dana Permias (Troy Johnson, Elis, Azwar, Rusdi, Ramang) dan dibantu dua sukarelawan Andri Setyawan dan Dwi Purmala Setyo, telah berkumpul di Rumah Rusdi (Gantiwarno, Klaten, Jawa Tengah).. Kami sedang memilah milah mainan mainan TK ketika tiba tiba kami menyadari waktu telah menunjukkan pukul 08.00 pagi. Kami segera bergegas untuk berangkat. Semua mainan sudah kami naikkan ke 2 mobil pick up. Mainan tersebut berupa ayunan, papan luncur, titian, kuda goyang, mobil goyang, angsa goyang, aneka mainan berdiri, puzzle, balok dan lain lain. Rusdi di mobil pick up besar bersama driver sebagai penunjuk jalan, dibelakang nya ada mobil pick up kecil, lalu mobil audio visual dan paling belakang adalah mobil rombongan volunter. Kami sangat senang pada akhirnya penyaluran dana bisa terlaksana. Hari itu kami mengunjungi 6 TK di Klaten.

Sampailah kami di TK Pertiwi Jabung, kecamatan Gantiwarno. Daerah ini termasuk daerah parah nomer 2 setelah Bantul, pada musibah gempa Bumi Yogyakarta dan Jateng. TK Pertiwi Jabung roboh total, meja kursi dan alat alat mainan hancur, tidak ada yang tersisa. Mereka belajar di tenda pemberian salah satu funding international. Di dalamnya ada tikar dan beberapa meja. Mereka belajar lesehan. Ketika kami datang dan membawa banyak alat alat mainan, anak anak TK berhamburan datang, berteriak teriak dengan muka yang sangat ceria. Ramang, Dwi Purmala, Rusdi dan Azwar menurunkan beberapa mainan disitu dan anak anak TK itu tak sabar lagi, mereka segera mencoba mainan baru mereka. Ada yang naik kuda goyang, angsa goyang, ada yang mendekap puzzle, dan ada yang berlarian riang. Rusdi dan Azwar memegang spanduk. Andri sudah siap dengan kameranya. Kemudian secara simbolis Troy Johnson (Alumni OU yang sedang berada di Indonesia) menyerahkan mainan tersebut kepada Ibu Hartini (kepala TK Pertiwi Gabung) disertai dengan tepuk tangan dan ucapan terimakasih dari anak anak TK yang berjumlah 20 dan 2 guru TK Pertiwi Jabung. Troy juga menyampaikan bahwa PERMIAS dan masyarakat Athens telah menyumbang sekitar Rp. 31.000.000,- untuk TK TK Didaerah gempa. Bantuan datang dari mahasiswa, dosen, masyarakat Athens, jemaat gereja dan juga dari Islamic center.

Kami kemudian melanjutkan perjalanan ke TK ABA Jabung. Seperti halnya TK Pertiwi Jabung, TK ABA ini juga roboh total, meja kursi serta mainan hancur. Kami memberikan bantuan berupa titian, paket puzzle, angsa goyang, kuda goyang, kapal goyang dan mobil goyang. Ada 30 anak TK disitu dengan 2 orang guru. Anak anak juga sangat senang dengan kehadiran rombongan Penyaluran Dana Permias. Mereka berebutan mencium tangan kami sambil mengucapkan terimakasih.

TK yang ketiga (TK Gesikan) berada agak jauh dan melewati medan yang agak berat. Daerah gantiwarno dikelilingi oleh pegunungan. TK ini juga terkena dampak yang berat dari gempa. Gedungnya roboh total, mainan hancur. Waktu kami survey ke TK Gesikan, mereka masih sekolah di tenda, sekarang gedungnya baru saja didirikan lagi dengan bantuan dari beberapa NGOs. Atap atap nya masih belum sempurna. Meja kursinya juga masih seadanya. Tetapi itu semua tidak mengurangi keceriaan anak anak yang berjumlah 30 itu. Mereka menyalami team Permias dan setelah kami menyerahkan bantuan secara resmi, anak anak itu pun langsung menaiki ayunan yang kami berikan. Beberapa diantaranya berteriak teriak dan saling bertepuk tangan.

Kami melanjutkan perjalanan ke daerah Pesu, Kec. Wedi, kabupaten Klaten. Memasuki TK Pesu, kami sangat prihatin. Mereka belajar diatas panggung sementara karena gedungnya roboh, tidak ada kursi di panggung itu, hanya 8 meja usang yang sebenarnya sudah tidak layak lagi. Di pojok ruangan ada almari usang yang menampung beberapa berkas TK yang masih tersisa setelah gempa. Kami menurunkan 32 kursi dan 16 meja dan langsung menatanya di panggung tersebut. Ibu Suhartini, Kepala TK Pesu dalam sambutannya menyatakan bahwa dia sangat terharu bahwa ada yang memberikan bantuan meja kursi. Bu Tini juga bilang alangkah bahagianya anak anak esok hari ketika melihat di sekolah panggung mereka sudah ada kursi dan meja yang baru (waktu itu anak anak sudah pulang sekolah). Bu Tini hampir menitikkan air matanya ketika mengulurkan tangan sambil berucap beribu terimakasih kepada wakil dari Permias. Bu Tini juga bercerita karena memakai panggung untuk TK dan tidak tertutup sepenuhnya, kalau hujan, anak anak akan kehujanan dan mereka akan berkumpul berdesak desakan ke tengah agar mereka sedikit terlindung dari angin dan hujan. Sampai sekarang mereka belum menerima bantuan dari manapun.

TK berikutnya adalah TK Canan dengan 30 murid dan 3 guru. Sesuai dengan hasil survey kami, kami memberikan bantuan yang mereka perlukan, yaitu titian, puzzle, berbagai mainan berdiri, dan kasur kecil untuk PPPK. Anak anak menyambut kami dengan agak malu malu, tapi akhirnya akrab setelah kami menyapa dan memberikan mainan mainan itu.

Lalu sampailah kami di TK ABA Kalitengah, Wedi, Kab. Klaten. Daerah wedi juga termasuk daerah yang parah terkena gempa. Gedung TK ABA Kalitengah rusak berat, padahal mereka mempunyai murid 117. Mereka membaginya dalam 3 kelas dengan 3 guru. Saat kami sampai sana, sebagian murid sudah pulang, tinggal satu kelas yang belum pulang, dimana mereka sedang belajar sempoa dengan salah satu guru mereka. Lalu mereka menyammbut kami dengan berebut menyalami tangan kami. Lalu bersama sama mereka menyanyi disini senang disana senang. Kemudian kami pamit setelah menyerahkan bantuan tersebut. Mereka berterimakasih atas bantuan Permias dan bilang mainan mainan itu akan sangat berguna bagi mereka karena mereka punya murid yang sangat banyak.


Hari Kedua, Rabu, 28 Februari 2007

Hari ini Troy tidak bisa ikut ke Lapangan karena ada tugas yang harus diselesaikan. Kami pun pagi pagi sudah bersiap karena waktunya sangat singkat sekali. TK TK di Yogya dan Jateng rata rata masuk jam 7 pagi dan pulang jam 10 pagi. Padahal jarak antara TK satu dan lainnya cukup jauh. Hal ini mengharuskan kami untuk bisa mengatur waktu sebaik mungkin.

TK pertama yang kami kunjungi hari itu adalah TK ABA Sengon I yang mempunyai murid 28 orang dengan 3 guru. TK itu roboh waktu gempa, dan sekarang mereka baru saja pindah dari tenda ke Gedung yang sudah permanen. Tidak hanya anak anak yang terlihat senang menyambut kedatangan kami. Masyarakat sekitar juga sangat senang. Mereka sempat bertanya kami dari mana dan kami jawab kalau kami wakil dari Permias. Masyarakat ikut senang dan mengucapkan terimakasih atas bantuannya. Kami sangat senang melihat anak anak itu mencoba menaikin mainan mainan baru mereka. Setelah kami serahkan secara resmi, kami pamit untuk melanjutkan perjalanan.

Lalu kami sampai di TK Pertiwi Cucukan dan disambut dengan sangat baik oleh 2 Guru disana. Anak anak sudah tidak sabar lagi segera menaiki kuda goyang dan mobil goyang yang kami bawa. Lalu kami berfoto bersama dan beberapa anak berani menyatakan perasaan gembira mereka dengan bantuan yang kami berikan. Ibu Sumini, guru TK Cucukan sempat bertanya apakah kami bisa membantu membuatkan MCK buat mereka, tapi saya jawab bahwa dengan sangat menyesal kita tidak bisa membantu sarana fisik. Bu Suminipun berkata oh tidak apa apa kalau begitu. Kami sudah merasa sangat berterimakasih atas bantuan mbak mbak dan mas mas.

Yang unik di TK Pertiwi cucukan ini, bukan hanya anak anak TK dan guru guru TK yang menyambut kami, tapi juga ada seorang wanita tua yang kelihatannya agak stress ikut menyambut kami. Dia memperkenalkan diri sebagai Mbah Kondang Sak Ndonya (Nenek yang terkenal sedunia). Dia membuat kami tertawa terpingkal pingkal. Dia bertanya mana diantara kalian yang menjadi ponakan nya Pak Presiden? Saya Mbah Kondang, SE. Tapi kami tidak punya cukup banyak waktu, jadi kami pamit dan melambaikan tangan kepada anak anak TK yang sebagian besar masih asyik dengan mainan barunya.

Kami tiba di TK ABA Sengon III. Gedung TK ini tidak terlalu parah rusaknya, tetapi mainan nya banyak yang hancur, terutama mainan luar. Kami membawa ayunan dan paket puzzle serta mainan berdiri. Tidak ada semenit kami meletakkan ayunan, lebih dari 20 anak berebut menaiki ayunan baru itu. Mereka tidak mendengarkan teriakan ibu Guru yang minta mereka gantian. Lalu Azwar mendekati mereka dan bilang kalau ayunan dinaikin banyak orang nanti cepat rusak, lalu mereka mau gantian memakai ayunan tersebut. Kami sudah mau pamit, ketika Ibu kepala Sekolah TK ABA Sengon membawa 10 botol sprite dan minta kami istirahat sejenak sambil minum sprite. Kamipun minum, berterimakasih dan pamit melanjutkan perjalanan.

Memasuki TK Fransiskus, tampak satu tenda yang digunakan sebagai ruang belajar anak anak TK. Ada 35 murid, 2 guru dan 1 suster. Sayangnya murid muridnya sudah pulang sehingga kami tidak bisa bertemu mereka. Tapi masih ada satu suster dan satu guru yang menyambut kami. Waktu memang sudah menunjukkan pukul 10 pagi. Suster itu bercerita apa yang terjadi dengan TK saat gempa terjadi. Tapi mereka bersyukur bahwa TK mereka hanya retak retak dan sudah diperbaiki sekarang. Suster sama sekali tidak menyangka bahwa TK mereka akan diperhatikan dan menerima bantuan berbagai alat mainan. Kamipun menjawab bahwa kami memang sudah seharusnya membantu TK TK di daerah gempa, tidak hanya TK Islam, tapi juga TK Kristen dan TK Pertiwi. Lalu kami pamit karena masih ada satu TK lagi yang harus kami kunjungi.

Perjalanan dari TK Fransiskus ke TK berikutnya (TK Ngandong) sangat jauh, jalanan masih banyak yang bebatuan (belum aspal) dan jalanan naik turun. Akhirnya kami sampai di TK Ngandong dan bertemu dengan Kepala Sekolah (Ibu Surayem). TK ini menempati gedung sementara (gedhek) yang terbuat dari bambu. Berdekatan dengan bangunan sementara SD yang juga berasal dari Bambu. Rusdi (volunteer) menyerahkan secara resmi bantuan alat alat mainan ke Ibu Surayem dan Bu Surayem sangat berterimakasih atas bantuan Permias yang pasti sangat berguna bagi anak anak.

TK Ngandong adalah TK terakhir yang kami berikan bantuan untuk tahap I (wilayah Klaten, Jawa Tengah). Dengan demikian, berakhirlah penyaluran dana tahap I ini dan kamipun beristirahat, makan siang, lalu mengevaluasi kegiatan penyaluran dana ini.

Hari ketiga, 1 Maret 2007. Pada hari ini hanya Rusdi yang ke lapangan. Rusdi memberikan beberapa mainan tambahan karena setelah hari kedua, ternyata masih banyak mainan mainan kecil yang tersisa.

Penyaluran Dana Tahap II (Wilayah Bantul, Yogyakarta).

Untuk Tahap 2 dilaksanakan 3 hari: 6 Maret, 7 Maret, dan 14 Maret 2007. Ketika pendataan, ada 11 TK yang benar benar membutuhkan bantuan, akan tetapi karena lamanya waktu pelaksanaan penyaluran dana gempa PERMIAS, beberapa TK sudah mendapatkan bantuan, sehingga hanya 7 yang kami berikan bantuan, kemudian kami mencari data lagi dan ada 2 TK tambahan yang diberikan bantuan. Jadi total bantuan untuk TK di Yogya ada 9.

TK pertama yang kami berikan bantuan adalah TK PKK 91 Sompok. Kami masih ingat pada wakttu kami survey dua bulan yang lalu, TK PKK 91 Sompok belum memiliki gedung. Mereka membuat tempat darurat, bekas bekas pintu rumah disatukan membentuk persegi empat dan kemudian diberi atap. Tapi kami bersyukur, pada saat kami datang mereka sudah mendapatkan bantuan dari World Bank berupa uang 50 juta untuk membangun TK. Tapi mereka memang hanya punya mainan yang sangat terbatas, itupun sudah usang. Tak heran ketika kami datang dan para volunteer cowok menurunkan papan luncur, mereka tampak bersorak dengan muka yang ceria. Salah satu anak TK yang sangat gendut, Arifin, berkali kali mencium tangan kami, sambil mengucapkan terimakasih sebagai tanda kegembiraan nya. Begitu Papan Luncur diletakkan di depan sekolah, Arifin dan teman teman langsung menaikinya, terus dan terus. Lalu kami juga menurunkan kuda goyang dan 2 ngsa goyang yang langsung di naiki teman teman Arifin. Anak anak lain yang pemalu hanya melihat dari dekat atau menggoyang goyangkan mainan baru tersebut. Kami juga memberiman bantuan alat musik seperti gendang, kulintang, dan Gambang. Tak lupa kami memberikan paket puzzle dan mainan berdiri. Setelah penyerahan bantuan, kami bermaksud untuk pamit, ketika Ibu Guru TK PKK Sompok meminta kami untuk minum air putih yang sudah disediakan. Kamipun minum, ternyata ada snack nya juga dan Ibu Guru itu bilang kalau snak dan minuman itu dari masyarakat yang ikut senang karena TK PKK 91 Sompok mendapatkan bantuan mainan.

Lalu sampailah kami ke TK ABA 4 Ngrancah. Bantuan yang kami berikan adalah papan luncur, perahu goyang, kertas lipat, plastisin, krayon, paket mainan berdiri dan titian. Kami diterima oleh 3 guru yang kelihatan masih muda. Dalam sambutannya, Ibu Erna, kepala sekolah TK ABA 4 Ngrancah menceritakan bahwa dulu mereka meliburkan sekolah sampai 2 minggu setelah gempa, kemudian karena TK mereka roboh total, mereka dibuatkan tenda, dan mulailah anak anak itu belajar di tenda. Baru satu minggu mereka pindah ke gedung baru. Mereka bersyukur mereka mendapatkan bantuan lewat Program Pengembangan Kecamatan (PPK) yang didanai oleh World Bank dan Bu Erna juga mengungkapan rasa terimakasihnya karena anak anak sangat senang mendapatkan maian baru yang diberikan oleh PERMIAS.

TK ketiga yang kami kunjungi adalah TK ABA 6 Mojohuro. Kami disambut sangat antusias oleh anak anak dan guru guru di sana. Ada 66 Anak dan 4 guru. Sama dengan TK TK di Bantul, mereka juga baru 1 minggu menempati gedung baru dengan bantuan PPK. Kami sempat masuk ke kantor mereka dan melihat piala piala yang berderet deret. Mereka bersyukur bahwa piala piala banyak yang terselatakan dan tidak ikut hancur. Mereka sangat senang dan berterimakasih atas bantuan dari Permias. Adapun bantuan yang kami berikan adalah: Ayunan, Perahu goyang, kuda goyang, angsa goyang, paket puzzle, paket balok, dan paket mainan berdiri. Lucu sekali melihat anak anak berebut menaiki ayunan. Kami tentu sangat senang dan berharap mereka akan semakin rajin dan senang belajar di TK tersebut.

Lalu kami melanjutkan perjalanan ke TK Masyito Gondosuli. TK ini memiliki 46 murid dan 3 guru. Mereka punya 2 kelas dan dengan gedung yang masih baru, bahkan aroma cat nya pu masih terasa, Kami berkumpul di depan gedung, lalu saya (Elis) dan Bu Marni, guru TK Masyito Gondosuli duduk paling depan dengan murid murid perempuan, lalu murid murid laki laki berbaris di belakang. Kami pun berbincang bincang dengan murid murid yang imut imut itu. Kebanyakan mereka masih malu malu untuk bicara, tapi meski pelan, kami masih bisa mendengar bahwa mereka waktu terjadi gempa takut, menangis, dan harus tidur di tenda. Kini mereka sudah tidak tidur di tenda lagi karena orang tua mereka sudah mendapatkan bantuan untuk membangun rumah mereka. Para wali murid juga ikut duduk dan melihat acara penyerahan bantuan Permias. Hari ini 4 TK sudah kami kunjungi dan kami beri bantuan, kamipun pulang dengan menempuh sekitar 1 jam perjalanan dari lokasi ke rumah kami di pusat kota Yogya.

Hari kedua ini kami bermaksud mengunjungi 5 TK, tapi ternyata informasi dari Azwar, 2 TK sudah mendapatkan bantuan mainan, akhirnya kami hanya memberikan pada 3 TK dan melalui seorang teman yang rumahnya di Bantul, kami mendapatkan 2 TK lagi yang masih membutuhkan bantuan. TK Pertama hari ini yang kami kunjungi adalah TK ABA Sulung Kidul yang memiliki 35 murid dan 3 guru. Kami diterima sangat baik oleh Ibu Yamini, Kepala Sekolah TK ABA Sulung Kidul. Waktu kami datang, anak anak masih di kelas. Kami sangat prihatin melihat mainan mainan yang usang dan hanya terbatas jumlah dan jenisnya. Lalu kami menurunkan ayunan, paket puzzle, paket balok dan paket mainan berdiri. Tidak lama kemudian anak anak berhamburan keluar, mereka kelihatannya masih malu malu, tapi segera berebutan menaiki ayunan setelah Bu Yamini, guru mereka bilang bahwa mereka boleh mencoba ayunan baru mereka. Lalu bersama sama, Ibu Yamini dan anak anak bilang terimakasih kakak atas bantuannya. Kami pun membalasnya dengan senyum sambil memberikan nasehat kepada anak anak agar mereka semakin rajin masuk sekolah dan belajar bersama Ibu Guru.

TK berikutnya adalah TK PKK 63 di Tanjung Karang, Jetis, Bantul. Mereka memiliki 40 murid dan 4 guru. Pada saat gempa ada 4 murid yang meninggal, bangunan TK rata dengan tanah. Kami diterima oleh Ibu Daswati, kepala sekolah TK PKK 63 Tanjung dan kami memberikan bantuan berupa: titian, perahu goyang, angsa goyang, plastisin, paket puzzle dan paket maiann berdiri. Mereka merasa mainan tersebut sangat berharga dan akan sangat membantu proses belajar di TK PKK tersebut. Kami senang mendengarnya dan setelah berbincang bincang cukup, kami segera pamit untuk melanjutkan ke TK berikutnya.

TK terakhir yang kami kunjungi hari itu adalah TK masyito Mojosari di Wonolelo Pleret, Bantul. Jarak antara TK kedua dengan TK masyito Mojosari lumayan jauh, medannya juga seperti pegunungan. TK tersebut memiliki 35 murid dan 3 guru. Masih ada tenda bekas tempat anak anak belajar dulu. Lalu juga ada bangunan yang sedang di rehab di lokasi TK tersebut. Mereka mendapatkan bantuan dari PPK (Program pengembangan kecamatan) untuk membangun gedung TK. Mereka sangat gembira karena ada yang membantu gedung dan Permias datang membantu dengan alat alat mainan. Anak anak terlihat masih agak malu malu, lalu kami berkumpul dan kami bertanya rumah siapa yang terkena gempa? Hampir semua angkat tangan. Beberapa diantara mereka berani bercerita tentang rumah mereka yang roboh, tentang ketakutan mereka, tapi juga tentang perasaan gembira mereka berkumpul kembali di gedung baru dengan teman teman. Kami membayangkan kebahagiaan mereka akan bertambah saat menaiki Tangga pelangi yang baru saja kami turunkan dari mobil pick up. Lalu kami dijamu oleh Ibu Guru TK tersebut dengan bermacam snak yang sangat enak. Kamipun makan jamuan tersebut karena waktu sudah hampir jam 12 dan tentu saja kami sudah lapar. Setelah selesei, kami perpamitan, Guru guru TK Masyito mengantarkan kami sampai jalan dan kamipun melambaikan tangan. Dengan demikian berakirlah aktivitas hari itu.

Penyaluran Dana Tahap III (akan segera dilaksanakan)

EVALUASI

Dari pelaksanaan penyaluran dana Permias, kami ingin sharing ke teman teman berbagai kendala dan sekaligus evaluasi program penyaluran dana ini.

· Kendala pertama adalah lamban nya proses pengiriman uang. Kami menunggu lama datangnya uang yang dikirim oleh Karla karena waktu itu Karla sedang ke Malaysia, sementara waktu itu (Junly 2006) adalah waktu yang tepat karena koordinator lapangan belum masuk kerja, dan 2 volunter juga masih banyak waktu longgar.

· Kendala Waktu Pemesanan Barang. Setelah uang samapi di Indonesia, kami segera berkoordinasi untuk melaksanakan penyaluran dana Permias. Lalu setelah survey kami memesan mainan-mainan yang mau diberikan untuk TK. Ternyata prosesnya sampai 6 minggu.

· Kendala Transfer Uang Aceh – Yogya. Kegiatan penyaluran dana sempat tertunda dua kali karena uang dari Bendahara belum cair, padahal proposal sudah di approve oleh Permias. Hal itu disebabkan keluarga bendahara ( suami Mbak SQ) sedang di rawat di Rumah Sakit, dan juga setelah itu Mbak SQ mendapat musibah, keluarganya ada yang meninggal dunia.

Karena lambannya proses penyaluran dana tersebut, beberapa TK yang akan kita beri bantuan sudah mendapatkan bantuan dari organisasi lain. AZwar membahasakan bahwa kami kehilangan momen. Kemudian kami survey lagi untuk mencari TK mana yang memerlukan bantuan. Kami tidak mau memberikan bantuan kepada TK yang hanya kami temui di jalan, tapi kami benar benar memastikan bahwa TK tersebut belum mendapatkan bantuan mainan.

· Kendala lain yang kami temui adalah pendeknya jam sekolah TK. Kami harus terburu buru dari satu TK ke TK lainnya karena TK TK tersebut selesei jam 09.30. Belum lagi ban mobil pick up yang kami gunakan bocor, 5 menit sebelum kami berangkat ke Bantul, sehingga memakan waktu 1 jam untuk menambal ban nya.

· Dalam prakteknya, pada waktu pelaksanaan, 2 volunter tidak cukup, dan kami bersyukur bahwa kami dibantu oleh Andri, Dwi, dan Paryanto yang tidak minta perdiem, semata mata mereka hanya ingin membantu kegiatan ini.

Satu yang terlupa dari aktivitas penyaluran dana ini adalah media coverage. Karena sibuknya persiapan penyaluran, kami lupa memberitahu kepada wartawan , padahal dulu banyak teman teman wartawan yang bersedia untuk meliput. Tapi mungkin hal ini juga bukan hal yang essential karena yang utama bantuan telah sampai kepada yang berhak menerimanya.

PENUTUP

Sebagai penutup, Saya sebagai koordinator lapangan, juga Azwar, Rusdi dan Ramang, ingin memanjatkan rasa syukur kepada Tuhan atas terselesaikannya program penyaluran dana Permias ini. Rasa haru masih terngiang di kepala ketika mengingat keceriaan anak anak TK yang mendapatkan banyak mainan baru dari Permias. Juga masih kami ingat respon guru guru TK yang rasanya kebahagiaan mereka mewakili perasaan kami.

Berbagai kendala telah kami lalui: cuaca yang panas, jarak lokasi yang jauh, ban bocor, dll. Meski banyak kendala, tapi kami merasa senang karena bantuan tersebut sangat bermanfaat bagi anak anak TK korban gempa. Meski sudah tidak trauma lagi, tapi sebagian teman teman mereka ada yang meninggal. Mainan mainan yang diberikan oleh Permias setidaknya sudah membantu mengembalikan keceriaan mereka.

Ungkapan syukur, terimakasih, dan doa dari para penerima bantuan juga harus kami sampaikan kepada teman teman Permias dan Masyarakat Athens. Mereka menyampaikan salam kepada teman teman semua dengan diiringi doa teman teman Permias di Athens akan menuai kesuksasan dalam belajarnya. Juga doa agar Tuhan membalas kebaikan teman teman dan Masyarakat Athens pada umumnya.

Kepada Mbak SQ, saya ingin berterimakasih atas koordinasi dan juga nasehat nasehatnya. Kepada kedua volunteer, Azwar dan Rusdi, secara pribadi saya ingin menyampaikan terimakasih atas bantuan dan kerja keras serta kesabarannya dalam membantu Permias. Juga kepada driver, Ramang dan 3 volunter lain Andri, Dwi dan Paryanto, saya juga ingin mengucapkan terimakasih. Juga kepada teman teman Permias, terimakasih atas kepercayaan yang telah diberikan, semoga laporan ini bisa dijadikan bahan pertanggungjawaban kepada masyarakat Athens dan teman teman Ohio University. Bravo Permias. Bantuanmu buat anak anak korban gempa memiliki arti tersendiri bagi mereka.

Friday, December 08, 2006

Renang di Aquatic Center

Foto sexy Yoga "Ade Rai" von Athens

Belakangan ini beberapa Lelewan dan Lelewati sering renang di Aquatic Center. Katanya mau kayak jadi Ade Rai, terutama bro Yoga. Lihat foto-fotonya di sini.

Friday, November 17, 2006

Bobcats di Mac Championship

Yoga dan Farid bonek dari Athens


Rombongan Indonesia tidak mau kalah menyerbu Detroit untuk mendukung Bobcats melawan Eastern Michigan merebut kejuaraan MAC. Sayangnya Bobcats kalah. Bagi Bobcats, itu pertandingan final MAC pertama sejak tahun 1968. Lama banget ya. Tapi masih mendingan, karena prestasi Bobcats tahun ini sudah melebihi harapan--bisa jadi juara MACEast. Foto-fotonya di sini.

Saturday, November 04, 2006

Kunjungan Atdikbud ke Athens


Tanggal 3 November 2006, ada kunjungan Atase Pendidikan dan Kebudayan, Kedubes RI, Bpk Dr. Harris Iskandar, menyambangi Athens. Kunjungan ini untuk menjajaki kerja sama pendidikan pemerintah Indonesia dengan Ohio University. Selain itu, juga untuk melihat kegiatan Permias: The Indonesian Movie Night. Ini foto Dr. Harris Iskandar di lantai 1 Alden Library, yang banyak menyimpan buku dari Asia Tenggara itu. (Prends, ganti dengan foto yang lebih cocok ya.)

Dari ki-ka: Dr. Harris Iskandar, Jeff Shane, Putut Widjanarko

Friday, November 03, 2006

Indonesian films to show in Scripps

Friday, November 3rd, 2006. Seeing movies often allows people to identify with the characters. However, moviegoers this weekend can feel the excitement, loneliness and dream of the people living in the most populated Muslim country in the world.

The Indonesian Student Organization, PERMIAS, will host the Indonesian Film Festival, which will include four Indonesian movies, today and tomorrow in Scripps Hall Auditorium. “The Indonesian Film Festival is aimed at promoting Indonesian culture, making people in Ohio University

Source: http://thepost.baker.ohiou.edu/searchresults.php?search=permias&submitsearch=Search

Thursday, November 02, 2006

SEA Poetry Night

Acara Southeast Asian Poetry Night. Seru. Lihat clipnya di sini.

Southeast Asian Culture Showcased at Poetry Night

By Maria Gallucci

Nov. 2, 2006. An exchange of language and poetry took place Nov. 2 as students and faculty of Ohio University gathered in Galbreath Chapel to celebrate the cultures of Southeast Asia.

Southeast Asian Poetry Night is an opportunity for international students to share their native cultures with the audience and other students. It also gives American students a chance to practice their language of study while incorporating its cultural elements.

The event was sponsored by Southeast Asian Studies and the Southeast Asian Studies Association. The Southeast Asian languages and cultures represented that night include Khmer, Tagalog, Indonesian, Thai, Cambodian, Vietnamese and Malaysian. Participants also dressed in native clothing, wearing silk embroidered hats and dresses and brightly printed cloths.

“Poetry Night gives students and the audience first-hand exposure to each culture and offers a different perspective not found inside the classroom,” said Katie McWhorter, graduate student and president of the Southeast Asian Studies association.

For American students studying Indonesian and Thai, the poetry night was a chance to gain confidence in their language skills and to put their knowledge to use, said Maryani Maryani, a third-year graduate student from Indonesia.

Maryani and her three Indonesian 211 students recited a poem they had written in English and translated into Indonesian.

Performing in front of an audience was a great experience, said Kristin Dunksy of the poem recital.

Molly Roth, also a student of Maryani, said writing and translating a poem was good practice for their language skills.

“(Poetry Night) is a chance to express yourself, and also (a chance) to see what other people have to share from their countries,” said Anton Wiranata, a graduate student from Indonesia. He added that the event was also a refreshing opportunity to meet new people and to take a break from studying.

Source: http://www.internationalstudies.ohio.edu/news-events/newsletter/newsbriefs-03.htm

Wednesday, November 01, 2006

A New PhD in town


Ada PhD baru dari kawah Athens, Putut Widjanarko, yang menulis tentang orang Indonesia Muslim di New York City. Oral defense-nya tanggal 1 November 2006. Ini fotonya setelah sidang itu. Dari ki-ka: Elin Driana (sang istri yang ehm...ehmm .. ehm itu), Drew McDaniel (pembimbing utama), Putut, Karen Riggs, Bill Frederick, dan Bob Stewart.

Monday, May 29, 2006

Dari Mahasiswa di Amerika Untuk Korban Gempa Yogyakarta

Mahasiswa Indonesia yang belajar di luar negeri tak membiarkan keprihatinan bangsanya berlarut-larut. Mereka melakukan usaha pengumpulan dana, untuk kemudian disalurkan bagi korban bencana gempa bumi di Yogya dan Jateng.

Karena mereka tinggal berjauhan rapat penggalangan dana pun dilakukan melalui mailing list. Seperti di indonesia-ou@yahoogroups.com, atau permias-athens@yahoogroups.com, terlihat rapat yang serius. Namun demikian rapat atau pertemuan tatap muka langsung juga dilaksanakan. Seperti di Athens, pada tanggal 27 Mei 2006 tepatnya di kediaman Prof. Elizabeth Collins, guru besar study agama di Ohio University.

Menurut koresponden hminews.com di sana, M. Chozin, proyek pengadaan dana ini diberi nama Fund Raising for Yogyakarta Earthquake. Program ini dibagi menjadi beberapa kegiatan. Pertama adalah membangun donation box di beberapa lokasi, diantaranya mulai minggu pagi tim diterjunkan ke empat gereja yang berbeda dengan 4 tim yang berbeda. Selanjutnya donation box juga akan pasang di beberapa lokasi mulai hari Selasa di Alden Library OU, OASIS, Gordy Hall, Groover, China King, Islamic Center, Beberapa Gereja, Front Room Baker Center, College Gates, dan beberapa tempat lain di sekitar Ohio University.

Kemudian acara berikutnya adalah Souvenir and Food Sales. Acara ini akan dilaksanakan hari Kamis tanggal 1 Juni 2006 mulai pukul 10.00 sampai pukul 15.00 waktu setempat. Hingga berita ini diturunkan kepastian lokasi masih dalam koordinasi.

Acara berikutnya adalah Souvenir Donation. Dalam acara ini, panitia menerima sumbangan berupa barang-barang atau souvenir apa saja yang bisa dijual pas acara hari Kamis nya.

Sumbangan akan disalurkan melalui People to People AID in Support to Nurani Dunia yang ada di Ohio University untuk selanjutnya diteruskan ke Yogya melalui perwakilan yang dianggap accountable untuk menyalurkan dana yang terkumpul. Sumbangan bisa berupa uang, cek, ataupun barang2 yang akan dijual bersama hari Kamis tanggal 1 Juni 2006.

Source: http://hminews.com/index.php?action=news.detail&id_news=350