Bukan sulap, bukan sihir. The 1st SEA Night Market 2008 memiliki arti tersendiri bagi Saman Troop Dance 2008-ers – a red carpet for a debut performance. Dengan intensitas latihan seminggu sekali pada awal Maret 2008 dan kemudian meningkat menjadi 3 kali seminggu mulai awal April 2008 mampu menghadirkan hari-hari penuh cucuran keringat dan tak lupa pula sedikit kram di sana sini. It was all paid off! Tim Saman 2008 berhasil tampil mempesona pada SEA Night Market – sebuah event perdana yang diselenggarakan oleh Southeast Asian Students Association (SEASA),
The Tent
Adalah Fitria Kurniasih (FK) and our first lady, Arin dengan passion yang luar biasa mempersiapkan segala pernak-pernik yang dibutuhkan untuk mempercantik tenda
The Food
Adalah pasukan Bodrex – Yuuuks, where there are excellent talents in cooking (expertise-nya tidak perlu dipertanyakan lagi) - Tsurroya, Mbak Lina, Mas Farid, Mbak Mila, Mbak Maru dan Irfan had blended in together, bahu membahu menyingsingkan lengan baju untuk mempersembahkan sebuah hidangan penuh warna nan istimewa: siomay with peanut sauce, accompanied by tofu, cabbage, egg, potato and hmm, honey bunny yummy…shrimp cracker alias kerupuk udang. You know what? Sambutan dari tamu-tamu yang datang pada malam itu beyond expectation. Antrian - ular naga panjangnya pun benar-benar membuat kewalahan tangan-tangan lincah para servers. Ssst,... ada yang confess lho kalau tangannya sampe gemetaran seperti resonansi petikan senar gitar. Frankly speaking, antrian Indonesian foodcourt-nya lebih panjaaaaang dan lamaaaaa dari foodcourt negara-negara tetangga. Bukan apa-apa, penulis pun sampai tidak mampu menembus antrian, alhasil akhirnya penulis pun lebih sukses line up di foodcourt milik negara-negara tetangga –
The Dance
Waduh! Kainku ketuker nih, musti cepet-cepet diganti karena kalo enggak, hokinya hilang! Well, itu masih sepenggal cerita pre-stagenya. Penggalan-penggalan lainnya antara lain termasuk ganti baju di ruangan yang notabene bukan buat ganti baju (untung engga ada yang intips yach), belum lagi nerveousness alias gemetaran luar-dalam, jauh-dekat (engga pake Rupiah) dan tak lupa pula, pasti selalu ada cerita barang jatuh dan atau terlepas. Saman Troopers generasi sebelumnya meninggalkan cerita sepatu lepas (hayooo siapa), Saman troopers generasi 2008-ers ini juga tak mau ketinggalan melepaskan sesuatu – kacamata (untung enggak pecah ya). Lebih heboh lagi, konon kabarnya sampai ada jari tangan yang tak sengaja menuju kearah mata one of the dancers waktu perform (nah lho). Pre-stage story ini ternyata merupakan resep sukses debut performance Saman Troopers generasi 2008-ers. Dua belas menit lebih audience terpaku dan terkagum-kagum, belum cukup sampai disitu saja, bahkan para toddlers pun tak mampu menahan gereget-nya untuk ikut mengucapkan komando “Hap” dari FK. Nah, Fitria Kurniasih alias FK ini ternyata mampu menyihir sang troopers dan the whole audience dengan alunan suara yang indah dan membahana. Fk pun mampu dengan lihainya melewati tingkat kesulitan menyanyi untuk tari Saman yang membutuhkan extreme speed-dynamic range – 15 km/jam sampai 100 km/jam (ini guesstimate aja loh) – above all, she is truly talented. Magnificent confession dari sang pendendang Saman adalah pada saat berdendang dengan speed 100 km/jam terasa mengalir seperti air – seolah bibir dan lidah bergerak dengan sendirinya tanpa komando, tanpa rasa haus (walaupun sebenarnya terasa juga hausnya setengah mati, ungkap sang pendendang). Yang tak kalah pentingnya, resep sukses dari debut ini adalah doa bersama sebelum dan sesudah perform, dengan diakhiri yel-yel “pasukan bodrex....yuuuuuks” sebagai penegasan setelah sama-sama saling meng-amin-i. Last but not least, entah mengapa setiap perpindahan segmen Saman, selalu diselingi dengan tepuk tangan yang membahana dari audience, sampai pada akhirnya, gemuruh riuh tepuk tangan-nya jadi serasa encore call.
The impression
So to speak, everybody was having a grandeur time. Jangan salah, sandiwara wayang kulit pun menghiasi panggung dengan ditemani pandangan takjub para toddlers and younger kids yang secara serentak mendekati panggung demi menikmati sajian cerita yang ditampilkan (Angela bahkan main musik untuk backsound-nya lho). Stage collaboration pun menjadi bagian yang tak terpisahkan dari rundown acara malam itu demi terciptanya suatu harmoni in the neighborhood. Adalah Tsuroyya, Brian, Arin, dan Gugun yang berkolaborasi dengan Fon, Genny, Christine, Jhon dan Matt dalam sebuah sandiwara yang melibatkan karakter princesses (dengan selendangnya), hunters (dengan stik tongkatnya), dan prince (dengan blangkon-nya – lagi). Melengkapi selayang pandang SEASA,
Video Saman Dance oleh Winie:
http://www.youtube.com/watch?v=S1CdbYqDpcU
Foto-fot acara oleh Cuong Nguyen: http://www.flickr.com/photos/bond159/sets/72157604650807457/with/2430256056/







