Saturday, March 29, 2008

Fitna: Antara Propaganda anti-Islam dan Representasi Realita

Oleh M. Syahril Sangaji

Tepat 20 tahun, sebuah informasi sesat kembali mengguncang dunia Islam. Setelah Salman Rushdie menggegerkan dunia dengan buku Ayat-Ayat Setan pada tahun 1988, kini Fitna, sebuah film dokumenter karya anggota parlemen Belanda, Geert Wilders kembali menampar wajah Islam dan bahkan memicu perdebatan di dalam masyarakat Belanda sendiri. Lalu kenapa Wilders begitu gigih membuat dan mempublikasikan film dokumenter yang justru telah ditolak pemutarannya dari dalam negerinya sendiri? Lalu bagaimana juga seyogyanya umat Islam menyikapi film dokumenter tersebut? Tulisan ini akan mencoba mengupas dua pertanyaan penting tadi dengan menggunakan pisau analisa tekstual (textual analysis) terhadap film Fitna.

Konteks
Menurut Alan Mckee (2003), konteks merupakan aspek penting yang akan membantu kita menganalisa sebuah “teks” (baca; film). Elemen-elemen dalam konteks ini termasuk situasi atau kebutuhan tertentu yang mendorong anggota parlemen Wilders menulis teks Fitna kemudian memproduksinya. Juga yang tak kalah penting untuk diteliti adalah siapa Wilders ini dan siapa target audiensnya. Elemen-elemen yang mengelilingi pembuatan film ini akan memberikan kita informasi yang berguna dan dapat dipertangungjawabkan dalam menjelaskan kenapa isi dan alur film Fitna ini dikonstruksi dan dipresentasikan sedemikian rupa. Sehingga kemudian bisa kita ambil pelajaran positif dari sisi negatif yang diangkat film fitna.

Pertentangan Ideologi
Setelah peristiwa serangan 11 September 2001, isu-isu yang berkaitan dengan Islam menjadi tema sentral di seluruh dunia, walaupun sebagiannya dikemas dalam persepsi negative. Bahkan para pembuat film dokumenter berlomba-lomba memproduksi film-film bertema Islam. Serial film dokumenter seperti America at Crossroads yang dirilis PBS (Public Broadcast Service) pada April 2007, yang mana salah satu serinya, Struggle for the Soul of Islam: inside Indonesia, mengangkat cerita pergulatan Islam moderat vs. Islam radikal di Indonesia. Tema yang sama juga pernah dipotret dalam film Islam vs. Islamists garapan Martyn Burke yang ditarik dari jadwal tayang PBS karena pemerintah Amerika yang diwakili WETA (Washington Educational Training Association) dan PBS memperdebatkan cara pandang Burke terhadap Islamists (Islam fundemantalis) yang secara ideologis dianggap menguntungkan Islam.

Begitu banyaknya film dokumenter tentang Islam, tentunya tak lepas dari konteks keamanan internasional pasca runtuhnya komunis, yang oleh Barat dipersepsikan sebagai ancaman terorisme Islam. Peristiwa pemboman oleh jihadis Islam dalam satu dekade terakhir telah menimbulkan rasa cemas negara-negara Barat. Sebelum serangan 11 September, telah terjadi serangan bom terhadap kedutaan Amerika di Nairobi, Kenya dan Dar es Salam, Tanzania pada tahun 1998 yang mana sekitar 5000 orang mengalami luka-luka dan 300an orang terbunuh secara keseluruhan. Setelah peristiwa 11 September, hampir setiap tahun bom-bom diledakkan oleh kelompok jaringan Al-Qaida dengan sasaran wilayah yang dianggap sebagai simbol Barat, contohnya bom Bali 2002, Casablanca Maroko 2003, bom Madrid 2004, dan pemboman London 2005. Serangkain terror bom oleh kelompok Islam radikal ini telah ikut melahirkan suasana Islamofobia di masyarakat Barat, tentu saja termasuk di dalamnya adalah masyarakat Belanda yang diwakili oleh Wilders, sang sutradara Fitna.

Pasca kejatuhan komunisme dan Soviet, ditandai pembobolan Tembok Berlin, dunia Barat seperti kehilangan musuh utamanya sampai kebangkitan kembali semangat jihad Islam di seluruh dunia yang dipelopori oleh kelompok Islam fundamentalis. Oleh Phares (2007), kelompok-kelompok Islam fundamentalis dan turunan-turunannya walaupun sering berbeda dan berubah-ubah, tetap saja mereka memiliki satu tujuan, yakni memotong demokrasi sampai ke akar-akarnya. Oleh Islamis, demokrasi dianggap sebagai produk buatan manusia oleh karenanya tidak kompatibel dengan syariat Islam yang merupakan ciptaan Allah atau Allahucracy. Semangat kebangkitan Islam ini yang kemudian oleh Barat diterjemahkan sebagai ancaman baru terhadap ketentraman dunia. Islam pun digeneralisir sebagai ideologi tandingan dari demokrasi Barat yang perlu dimusuhi. Tesis clash of civilization-nya Huntington pun seperti terbukti telah menjadi kenyataan, Islam kini berbenturan dengan Barat.

Wilders dan Islam
Walaupun terlahir sebagai keturunan Kristen-Yahudi, Geert Wilders bukanlah seorang penganut agama tertentu alias Atheist. Wilders diyakini mulai terekspos dengan Islam secara langsung ketika ia mengunjungi Iran di tahun 1999 dalam tugas kenegaraan ketika diperbantukan tugas di parlemen. Pada tahun 2004, Wilders terpaksa cabut dari partainya People’s Party for Freedom (VVD) karena tidak setuju dengan kebijakan partainya yang menyetujui masuknya Turki ke dalam Uni Eropa. Tahun 2004 ini juga seorang sutradara film Belanda Theo Van Gogh yang juga pengritik keras Islam dibunuh oleh seorang imigran Islam keturunan Maroko. Rasa simpati mendalam terhadap Van Gogh sekaligus kemarahannya terhadap imigran Islam saat itu ikut membuat keselamatan jiwanya dalam keadaan bahaya. Ditambah lagi gambar kartun nabi Muhammad yang dipajang di situs web-nya semakin membuatnya diancam kelompok eksremis Islam, bahkan dalam kurun dua hari ia mendapat ancaman pembunuhan sebanyak 40 kali.

Wilders dicurigai sering membina hubungan dengan petinggi-petinggi Yahudi di Belanda, terbukti dengan penemuan intelejen Belanda yang mengatakan bahwa pada tahun 2007 Wilders secara teratur mengunjungi kedutaan Besar Israel di Den Haag.
Didapati juga bahwa akhir-akhir ini, Wilders, dalam pidato-pidatonya sering mengeluh akan semakin tumbuh suburnya Islam di Belanda, bahkan katanya jumlah masjid akan segera melebihi jumlah gereja di Belanda sebelum masyarakat Belanda sadar. Katanya lagi jika orang Islam ingin diterima di Belanda maka mereka harus merobek sebagian ayat-ayat Qur’an yang mengajarkan kebencian dan kekerasan.

Fitna
Kepercayaan Wilders terhadap tesis Huntington bahwa Islam tidak sesuai dengan nilai-nilai Barat kemudian menjadi kenyataan setelah menyaksikan serangkaian peristiwa terror atas nama Islam yang disponsori jaringan Al-Qaida dan kelompok extremis Islam lainnya terhadap dunia Barat. Kejadian-kejadian terror ini jugalah yang memperkuat teori Wilder bahwa Islam mengajarkan kekerasan dan kebencian terhadap non-Muslim. Wilders mulai terlihat membenci Islam setelah kejadian Serangan 11 September. Namun, pembunuhan Van Gogh oleh seorang imigran Islam Maroko lah yang semakin meyakinkan dia bahwa Islam lewat Qur’an mengizinkan umatnya menggunakan kekerasan kepada non-Muslim.

Pengalaman-pengalaman buruk Wilders dengan Islam yang diungkapkan dalam kalimat provokatif dan nada kebencian di atas akhirnya ia lampiaskan dalam karya dokumenter yang ia beri judul Fitna (Fitnah). Apa yang ia terima selama ini mengenai informasi Islam adalah melalui pengalaman-pengalaman buruknya berhadapan dengan ekstremis Islam. Lalu ia tampilkan akumulasi pengalaman dan kesaksian buruk tersebut dalam sebuah persepsi Fitna, sebuah dokumenter propaganda anti Islam.

Lesson Learned
Wilders meyakini bahwa Islam yang ia tampilkan dalam Fitna adalah benar adanya karena mampu dibuktikan dengan gambar-gambar dan rekaman video yang memperlihatkan kekerasan dan kebencian umat Islam terhadap Barat, Yahudi dan Kristen. Bahkan ayat-ayat suci Al-Qur’an pun dijadikan sumber legitimasi kebenaran film Fitna bahwa Islam sama dengan kekerasan. Lalu apa reaksi umat Islam setelah melihat atau mendengar cerita film ini. Apa yang perlu dilakukan umat Islam Indonesia ketika membaca seruan Wilders di akhir filmnya “stop islamization!” dan “the Islamic ideology has to be defeated now.”

Reaksi dan tanggapan yang paling elegan dari umat Islam tentunya bukan dengan cara meneror mereka yang terlibat dalam pembuatan film berdurasi 16 menit tersebut, lalu mengancam akan membunuhnya. Bukan pula dengan cara berdemonstrasi dan membakar bendera Belanda atau mensweeping turis-turis Belanda di jalan-jalan. Tentulah ini bukan cara yang Islami. Jika cara-cara kekerasan yang dipilih sebagai reaksi terhadap Fitna maka Wilders dan para Islamofobia di Barat akan semakin yakin bahwa Islam yang sesungguhnya adalah Islam yang dipotret dalam film Fitna itu. Sebaliknya jika umat Islam mampu menunjukkan reaksi yang tidak berlebihan dan dikemukakan secara intelektual dalam menyikapi Fitna maka tesis Wilders tentang Islam menjadi gugur dengan sendirinya. Film Control Room (Jehane Noujaim) dan Reel Bad Arabs (Jack Shaheen) merupakan contoh film dokumenter sebagai counter-culture yang bereaksi elegan terhadap persepsi sempit media Barat dalam memotret Islam. Mereka berani memperkenalkan ke komunitas Barat perspektif lain yang menggugat mainstream media Barat mengenai Islam.

Pelajaran lain yang bisa dipetik adalah bahwa sebagian cerita Fitna, khususnya mengenai ceramah-ceramah agama yang menyebarkan kebencian terhadap non-Muslim mungkin ada benarnya. Kenapa banyak golongan non-Muslim sering mempertanyakan kebenaran aspek kekerasan yang melekat dalam gerakan-gerakan Islam. Artinya dalam umat Islam sendiri harus belajar menerima kritik dan melakukan refleksi internal bahwa memang ada sesuatu yang salah dalam pendidikan dan pengajaran agama Islam sejak kecil. Ceramah-ceramah provokatif baik di masjid atau di tempat-tempat pengajian yang mengajarkan umat Islam untuk membenci dan memusuhi non-Muslim seharusnya bisa dicegah oleh seluruh kaum Muslimin. Istilah Islam is under attack seharusnya tidak dijadikan justifikasi mempromosikan kekerasan dalam Islam. Sehingga jangan sampai ulah segilintir orang Islam merusak tatanan nilai-nilai Islam yang universal dan rahmatan lil ‘alamin.

Wednesday, March 26, 2008

Grogi Mendominasi Peserta “Public Speaking Skill”

Begitulah grogi menjadi menu utama "makan siang” para peserta workshop Public Speaking and Interaction Skills Permias Ohio bersama Eko Junor. Workshop yang berlangsung di Baker Center selama dua hari ini (25 & 26 Maret 2008) baru saja selesai dengan antusiasme luar biasa para peserta.

“Saya ingin terlihat dewasa pada saat diperlukan,” Arin, presiden Permias menjawab Eko Junor soal harapan terhadap pelatihan workshop ini. Lain lagi dengan Efka dengan nada kesal katanya, “kalo saya nervous pasti bawaannya jadi jutek banget.” Sebagian besar peserta berkeluh kesah dengan rasa grogi yang mereka alami saat presentasi atau ketika jadi MC. Membuang rasa grogi, adalah harapan terbesar yang ingin dicapai peserta. Tetapi Brian justru punya harapan lain. “Bisa gak yah saya terlihat lebih smart ketika tampil bicara di depan umum?" Tanya Brian penasaran. Sedangkan Arin punya cara sendiri mengatasi groginya. “Kalo grogi saya sering mengatasinya dengan ketawa ketiwi padahal itu gak penting,” imbuh Arin. “Lho bisa saja itu penting! belum tentu apa yang kita rasakan tidak penting dilihat orang sebagai tidak penting juga” potong Eko. Oleh karenanya peserta diminta harus sedari awal bisa membedakan antara what people see and what we feel. Dan ini hanya bisa didapat dengan cara practice dan practice, yakni harus berani menerima atau mengambil tawaran ketika ada kesempatan bicara di depan umum. Practice inilah yang akan melahirkan keterampilan berbicara. Langkah awal dan paling mudah untuk practice adalah saat kita berbicara dengan orang yang baru kita kenal. Inilah ajang mengasah ketrampilan berbicara kita. Oleh karenanya latihan di depan kaca sangat tidak dianjurkan dalam workshop ini sebab beribicara di depan kaca hanyalah melibatkan satu orang, diri kita sendiri.

Gak usah khawatir kalo grogi! kata suami Mira Junor ini memberi motivasi kepada peserta. Semua orang mengalami grogi. Grogi adalah kewajaran yang menghampiri semua orang saat berbicara di depan umum. Bahkan MC atau presenter yang kita lihat di televisi pun mengalami grogi. Banyak MC televisi yang juga adalah pemalu dan pendiam bahkan kadang mereka dalam mood yang berbeda dengan apa yang terlihat di televisi. Tapi mereka dengan cepat bisa switch on their expressions tergantung situasinya. Sebab memang mereka sudah terlatih untuk itu. Tidak mungkin ketika MC lagi bete atau lagi sedih terus membawakan acaranya juga dengan sedih dan bete. Mood sedih dan bete itu cukup dirasakan oleh kita sendiri, audiens tidak perlu tahu dan emang gak pengen tahu, tambahnya memberi contoh. Begitu juga dengan grogi. Grogi itu cukup ada di dalam diri kita saja, untuk dirasakan saja tapi tidak untuk ditunjukkan. Grogi itu alamiah dan tidak ada obat yang bisa menyembuhkan. Akan tetapi kita bisa meminimalisir grogi dengan cara mengendalikan gejala-gejala grogi. Menurutnya nasihat yang paling baik adalah kita jangan pernah pikirkan apa yang orang lain pikirkan tentang kita, tetapi harusnya kita pikirkan apa yang orang lain inginkan.

Setelah mendapat wejangan materi-materi public speaking plus tips and tricks di hari pertama, tiba giliran peserta mempraktikannya di depan kamera pada hari kedua. Peserta Workshop diminta berbicara di depan kamera selama 3 menit dengan tema yang dipilih masing-masing. Mulai dari tema keluarga, film, promosi pariwisata daerah sampai ke CinTa Laura pun dibawakan peserta dengan gaya khas masing-masing. Sehabis peserta mempresentasikan materi cerita mereka, evaluasi pun dilakukan Eko Junor dengan memutar kembali rekaman video presentasi peserta. Gejala grogi yang paling sering dijumpai adalah repetitive movement atau gerakan tangan yang berulang-ulang yang kadang tidak sinkron dengan kata atau kalimat yang diucapkan saat itu. Memegang catatan dan sesekali memasukan tangan ke dalam kantong celana adalah bagian dari upaya menyalurkan rasa grogi yang memang diperlukan, demikian saran Eko yang juga pernah melatih beberapa presenter televisi nasional dan penyiar radio di Indonesia. Gejala grogi lain termasuk kontak mata antara presenter dengan penonton. Secara tidak sadar beberapa peserta ketika berbicara seringkali bola mata hitamnya terlihat ke atas atau ke bawah. Ini yang tidak boleh terjadi saat kita berbicara di depan umum karena audiens kita akan merasa dicuekin atau justru kita terlihat sedang mikir atau malu, ucap trainer yang sedang kuliah di jurusan Ilmu Politik ini. Strategi yang paling bagus untuk mengatasi gejala grogi ini adalah dengan menggunakan mata zombie. Koq mata zombie! Nah, mata zombie itu adalah ketika bicara mata kita seolah-olah melihat ke arah penonton, tetapi kita tidak perlu memperhatikan secara detail ke arah mereka, tambahnya memotivasi.

Walaupun waktu telah menunjukkan pukul 5 sore, masih ada materi yang tersisa dalam pelatihan yang telah dimulai sejak jam 1 sampe jam 5, sehingga ditambah lagi satu jam. Sisa waktu ini pun dipakai untuk mencover beberapa materi, khususnya tentang MC. Akhirnya, semangat dan motivasi ingin belajar tampil di depan umum oleh teman-teman Permias membuat waktu enam jam pelatihan di hari kedua itu berjalan begitu cepat bahkan terasa kurang.

Monday, March 24, 2008

Kunjungan Keluarga Pak Imam Prasodjo di Athens

Ungkapan terima kasih duiluncurkan secara bertubi-tubi kepada keluarga Pak Imam Prasodjo yang telah menyelenggarakan acara makan-makan buat anak-anak bala Permias Athens dengan sukes luar biasa. Contohnya ucapannya berikut ini: Dear Bapaknya Dila, Ibunya Dila, Rauf, & (tentunya) Dila,....Terima kasih atas undangan makan malamnya hari ini. Mudah-mudahan acara berkumpul bersama (baca: makan-makan) seperti ini dapat terus dilestarikan, selalu dan selamanya (Niken).

Yup! tadi malam (Minggu, 23/03/08) seiring dengan kedatangan keluarga Pak Imam Prasodjo di Athens, seluruh penduduk Indonesia (yang di Athens) berkumpul bersama di rumah Bu Elizabeth Collins untuk Potluck. Acara tersebut juga dijadikan sebagai ajang perpisahan buat Dana yang akan kembali ke Indonesia esok harinya. Dana pulang dalam rangka kelahiran putra pertama dari istri pertamanya.

Seperti biasanya, acara dimulai dengan makan-makan bersama, kemudian ngobrol, dan dilanjutkan dengan nonton film bersama. Kebetulan dirumah Ibu Collins tersedia TV layar lebar dengan sound system Bose yang suaranya super-duper luar biasa. Kali ini film yang ditonton adalah film China berjudul "Kungfu Hustle"; jadilah acara nonton film bersama itu serasa nonton di bioskop. chz


Thursday, March 13, 2008

Puisi Siang Bolong Bersama Prof. Harry Aveling

Masih dalam rangka menyambut ulang tahun Southeast Asia yang ke-40, beberapa warga Permias Athens yang dimotori oleh mantan ketuanya, Farid Muttaqin, sengaja menculik Prof. Harry Aveling untuk diajak makan siang bersama. Acara makan siang dilaksanakan secara terbatas di restoran China Fortune pada hari Selasa, tanggal 12 Maret 2008.

Harry Aveling adalah pengajar di sastra La Trobe University, Australia yang juga merupakan Visiting Professor of Linguistics and Southeast Asian Studies di OU. Beliau khusus datang dari Australia sebagai salah satu panelis dalam acara ulang tahun Southeast Asia Studies Program. Beliau banyak menerjemahkan karya-karya sastra Indonesia dan Melayu dan beberapa buku karyanya kini sudah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia. Informasi lebih lanjut mengenai beliau bisa dilihat di link ini: http://www.latrobe.edu.au/socsci/staff/aveling/aveling.html

Atas permintaan dari Chozin, dalam kesempatan acara makan siang tersebut, Pak Harry Aveling sempat membacakan beberapa sajak karya Chairil Anwar dan Sapardi Djoko Damono. Rekaman saat beliau membacakan puisi di depan anak-anak Permias dapat dilihat dalam link youtube berikut ini (rekaman oleh Adrian Budiman):

http://www.youtube.com/watch?v=rOQ5DSMo7oU
http://www.youtube.com/watch?v=TTbFnI-CY_U

Farewell Party dengan Eka: Merayakan Keragaman

"....I thank YOU PERMIAS-Athens 2006-2008 for the wonderful, loving and safe community that you have created for me. .....I am gonna miss you so much as soon as I get on the airplane this Sunday. But please, keep Athens fabulous, loving and safe for people like us. Because we could be strangers you meet at the library, your teachers, you class mates, your best friends, your brothers and sisters...And you don't want to hurt them. With Love and Respect". (Eka)

Kalimat yang ditulis khusus oleh Eka dengan warna Pink tersebut menandai perpisahan Eka dengan seluruh warga Permias Athens pada Minggu (16/03/08) lalu. Malam itu, seluruh teman dan handaitaulan secara khusus memadati apartemen RiverPak 1027 untuk merayakan farewell party dengan Eka; sebab esoknya Eka akan segera pindah ke Washington DC setelah sukses menyelesaikan studinya di OU.

Acara perpisahan tersebut berlangsung dengan sangat meriah. Tamu yang datang bukan hanya mahasiswa Indonesia akan tetapi juga kolega-kolega Eka dari berbagai bangsa. Bahkan, sebagai kenang-kenangan, masing-masing group mewakili kebangsaanya menyanyikan lagu secara khusus buat Eka.

Selamat jalan Eka, semoga sukses menempuh hidup baru di Washington DC. Jangan lupa untuk kembali berkunjung ke desa Athens yang damai ini. Kami semua akan merindukanmu. Rindu kami padamu layaknya rindu gurun kepada hujan....halah..>!
Foto2 acara by Ryoko, klik di sini

Wednesday, March 12, 2008

PERMIAS dapat Funding dari ISU sebesar $1.580 untuk kegiatan Spring 2008

Laporan dari Brian Arieska

Kabar berita gembira, bahwasanya proposal kegiatan Permias Spring Quarter 2008 telah berhasil mendapatkan persetujuan dari ISU (International Student Union) untuk mendapatkan funding sebesar $ 1.580,00 (seribu lima ratus delapan puluh dollar). Keputusan resmi lolosnya proposal tersebut dilangsungkan dalam voting oleh General Body ISU yang diselenggarakan pada hari Senin, 9 Maret 2008 di Baker 240.

Adapun rincian besaran dana yang disetujui oleh ISU untuk proposal kegiatan Permias Spring 2008 adalah sebagai berikut: pembelian kostum Saman: $1000, pembelian rebana: $200, biaya pembelian utensils, glass, refreshment (traditional) : $346.

Kegiatan Permias Spring 2008 akan difokuskan pada dua hal: pembelian baju tari saman & rebana dari Indonesia (yang nantinya akan jadi hak milik Permias, namun akan di-maintain oleh OVIC, Ohio Valley International Council) dan kegiatan pelatihan seni tari untuk seluruh warga OU (yang berminat) setiap hari jumat (April 11, 18, 25, dan Mei 2, 9, 16, 23, 30) di gedung Gordy 109.

Sunday, March 09, 2008

Dinner Bersama Alumni Permias

Athens (08/03/08). Menyambut para alumninya yang datang dalam acara 40th Anniversary of Southeast Asian Studies Program, Permias secara khusus mengadakan acara dinner bersama. Acara yang diadakan di restaurant China King itu menghadirkan beberapa alumni Permias diantaranya: Mbak Meta, Mbak Ester, Mbak Amelia, Mbak Aya, Mbak Tiwi, Mas Rudi, dan Pak Yojo. Satu alumni, Pak Iqbal, tidak bergabung dikarenakan sedang ada acara lain.

Acara juga diisi dengan kenalan oleh masing-masing anggota Permias yang dipimpin langsung oleh President Permias, Arin. Menurut Arin, “…seneng banget rasanya bisa ngumpul bareng2 sama mba2 alumni yang ternyata masih pada berjiwa muda...”

Malam itu, China King benar-benar dibuat heboh, karena setelah dinner, acara disambung dengan acara ulang tahunnya Sekretaris Permias (Ita) dan juga Eka. Tiupan lilin ulang tahun benar-benar menandai okupasi Permias terhadap China King malam itu, karena setelah itu kegaduhan oleh warga Permias menjadikan para tamu-tamu China King pada hengkang. “Walopun diluar badai salju menerpa..gak ada yang bisa ngalahin kehebohan di dalem China King...”, kata Bu President

Berikut adalah testimony oleh salah satu alumni yang sempat hadir dalam acara tersebut:

Terima kasih atas jamuan mangkan malamnya semalam di China King yang dulu namanya China Garden dan Yun's Palace (ini sejarahnya). Tempat ini dulu tempat beli makanan ekonomis yang kiloan itu. Rasanya nggak berubah setelah 5 tahun yang lalu. Dulu, biasanya aku beli dengan menu: Nasi, donat, buncis saute dan sedikit sayur or brokoli (nggak nyambung to?) yang penting mbayarnya sekitar 2 dolaran buat makan siang. Dimakan di Baker sambil ngelamun kalau makan siang di Indonesia lebih enak daripada itu dan lebih murah hehehehehe.

Ternyata, dalam pertemuan malam itu dunia terasa sesempit daun kelor bahasa Inggrisnya it's a small world bahasa Jepangnya semai sekai dan lagunya sering diputar di Disney World. Semuanya serba terkoneksi. Eka adalah adik kelas di UGM bedanya 10 tahun angkatan (tuwek bener ye, aku). Sandra adalah rekan sesama PCMI, Ita pegawai Diknas yang pernah melayani (walah, melayani.... sorry, istilahnya apa coba?), Arin bokapnya pernah ketemu aku di Bandung bosnya KLN, Diknas. Harap maklum, sebagai pegawai negeri kelayapannya daerah Diknas. Baik yang nyari beasiswa, nyari dana, kenaikan pangkat dan lain-lainnya. Kebetulan bukuku juga disponsori oleh BU-nya Diknas. Sisanya, belum dieksplor dengan baik dan benar, mungkin kalau dieksplor mungkin ketemu tetangga lama, lho. What a small world!

Dan jangan lupa bahwa alumni kayak kita ini, jangan salah, selalu membuat keributan dan kehebohan di mana-mana. Bayangken, si Anthony aja nggak nyangka bahwa ternyata kami (Meta dan Iqbal) masih muda-muda begini, keren-keren lagi (kalau yang ini tak tambah2in sih...) Nggak tahu bayangannya, kita kayak apa ya? Lebih akademikus gitu ya? Gimana sih akademikus itu? Kata Amel sih, aku sudah memenuhi kriteria itu: Pengajar, berkacamata, punya buku....Halah. Sok, imut. Meski ibu-ibu, tapi kami adalah alumnus funky and gaul dan tepatnya alumnus OU penggemar masak memasak. Jadi jangan salah. Mungkin gelar kami sebaiknya adalah Masak Ahli. Jangan tanya ilmu tentang Asia Tenggara. Mas Putut tahu persis, kita bukan pelajar yang serius. Huahahahaha. ...Tapi kita sangat serius dalam becanda (Maaf, kami tidak membuat kalian bangga ya sebagai pelajar OU? hehehe). OK then, ada ada bulan ada hiu. Ketemuan lagi yuuuks (apa pula ini...). Meta

40th Anniversary of Southeast Asian Program

Celebrating the 40th year of Southeast Asian Studies Program Anniversary, Ohio University’s held unique 40-year history in Southeast Asia focus on “40 Years of Engagement with Southeast Asia” conference. The conference celebrated Ohio University’s national prominence in the field of Southeast Asian Studies and recognize contributors to the program’s growth and success.
Laurie Sears, Professor of History and Director of the Southeast Asia Center at the University of Washington, gave the keynote address - “Twenty-first Century Area Studies: Between Cosmopolitanism and Diaspora” - on Friday, March 7 at 3:00pm in Walter Hall 145.
A dinner for conference guests followed in the Ping Center Lounge, hosted by the Southeast Asian Studies Association (SEASA), with special guests President Emeriti Dr. Charles Ping and Dr. Vernon Alden.
Roundtable discussions was the format of the conference sessions on Saturday, March 8 which inviting SEA alumni to present their experience after graduation. (source: http://www.internationalstudies.ohio.edu)
Here is panelist profiles:

the 40 Years of Engagement with Southeast Asia

LIFE AFTER SOUTHEAST ASIAN STUDIES

9:30-11:00 – Multicultural Center Multipurpose Room

Alumni Panelist Profiles

Meta Astuti meta_mks@yahoo.com – Class of 2003
Meta is now a lecturer in the Hasanuddin University (UNHAS) Japanese Studies Program and head of the Japanese Culture Research Center. She teaches Japanese language including writing, grammar and etc… and also teaching cross cultural studies such in Japanese studies, Japan-Indonesia relations and Japanese sociology. On occasion, she has also taught East Asian History and Southeast Asian History for the UNHAS History Department. Meta has a keen interest in Japanese language teaching methods and has presented a paper at the Southeast Asian Summit on the Japanese Language Education in Bandung in 2006 and at the International Seminar for Japanese Education in 2007. Her first book Apakah Mereka Mata-Mata: Orang Jepang di Indonesia 1868-1942 (Are they Spies? Japanese in Indonesia 1868-1942) was recently published by Ombak Publisher in January 2008. http://www.facebook.com/album.php?aid=13624&id=541248049 She has also published participatory maps - Green map of Buton Castle and Trail map of Buton Castle - in 2004 in collaboration with The Japan Foundation in Jakarta and the Royal Netherlands Embassy. She is currently actively involved in ASPBJI (Association of Japanese Teacher in Indonesia) as head of South Sulawesi chapter, PPIJ (Japan-Indonesia Friendship Association) as Secretary of South Sulawesi chapter, PERSADA (Japanese Alumni Association) as an active committee member, and BPPI (Indonesian Heritage Society) as a council member.

Michael Byron BYRON@Juniata.Edu – Class of 1987
Michael is Associate Professor of Education in the Education Department at Juniata College in Huntingdon, PA. He teaches a Social Studies methodology course for elementary education majors and supervises elementary and early childhood student teachers. He is the Certification Officer for the Education Department and also serves as the Title II Program Representative.

Heather Slough Catton hcatton@sfasu.edu – Class of 1996
Currently, Heather is the Assistant Director of Research and Sponsored Programs at Stephen F. Austin State University in Nacogdoches, Texas. This is the 'grants office' where faculty and staff come for help in writing proposals and managing their externally funded projects - research, etc. She has been in this position for six years. Prior to her current position, she worked for an international public health NGO in Washington, DC (PSI) where she was the new business development manager (proposal/grant writing) and an associate program manager for West and Central Africa programs (she also has a degree in French).

Amelia Hapsari cahapsari@yahoo.com – Class of 2005 (Telecommunications)
After graduating from OU, Amelia took some time to do a freelance job with the International Organization for Migration, which was training the Indonesian National Police about Human Rights and Community Policing. She worked with them for about 3 months as a course reporter. Her task was to record the dynamics of the training, create a report, and make necessary suggestions to improve the training. Since then, she has been working for China Radio International for 2 and 1/2 years. Her task is to polish Indonesian language news and to create radio features about China and Indonesian-China relations that are suitable for an Indonesian audience. The experience in China has been very interesting because it is a state-media apparatus of Chinese government.

John Morgan johnintorrance@webtv.net – Class of 1977
John is currently a high school social science teacher in California. He has been happily married for 32 years. He and his wife have an apartment in Papar in the Malaysian state of Sabah and travel back and forth to Malaysia often. He speaks Malay and is currently learning Kadazan, a language spoken in North Borneo.

Nurhaya Muchtar ayamuchtar@yahoo.com – Class of 2005 (Communication and Development Studies)
Nurhaya is currently a second year doctoral student of Communication and Information in the University of Tennessee, Knoxville. My concentration is Journalism and Electronic Media. Following her graduation from the Communication and Development Studies program in 1995, she worked for Voice of America in Washington DC prior to pursuing doctoral studies.

Karla Schneider schneidk@ohio.edu – Class of 2002
While in the Southeast Asian Studies graduate program, Karla was a political office intern at the American Embassy in Kuala Lumpur, Malaysia, and conducted field research with Aliran, a human rights NGO based in Penang, Malaysia. She wrote her thesis on the intersection of politics and government with human rights work in Malaysia, specifically focusing on how the creation of SUHAKAM impacted the ability of human rights NGOs to enact change. Karla has worked in the Center for International Studies at Ohio University since graduating in 2002. She was Assistant Director of Southeast Asian Studies from 2002 until spring 2007. As Assistant Director of the program, Karla was responsible for grant management and reporting, organizing conferences and lecture series, representing the program at Title VI and other US Department of Education meetings, and providing general assistance to the program’s students and faculty. Karla is now Assistant Director of the Center for International Studies which entails managing communications and publicity needs for the Center’s five graduate programs, undergraduate program and outreach program, organizing the weekly International Studies Forum series, serving as the Center’s Budget Unit Manager, and acting as the campus coordinator for the PING and MUSKIE fellowship programs. She supervises the Peace Corps Recruiting Office on campus and maintains her connection with Southeast Asia through her role as Coordinator of the Tun Abdul Razak Distinguished Professorship program in affiliation with the Office of the Associate Provost for International Programs and as an international recruiter for Ohio University.

Esther Sianipar juniariana@yahoo.com – Class of 2001
Esther joined the IndoPacific Edelman team as a Sr. Consultant in January 2008 in the government relations, corporate and public affairs. Esther handles crisis management and litigation communication strategy. Prior to joining IndoPacific Edelman, Esther was Specialist Staff on Foreign Affairs for Commission I (Commission of Foreign Affairs, Defense & Security and Informatics & Communication), House of Representatives - Republic of Indonesia (DPR-RI) where her responsibilities included preparing numerous formal political speeches, and political as well as analytical research papers on related government policies, amendments, international and national policies and affairs, networking, and generating stakeholders. Esther has also worked for an international NGO, Johns Hopkins University, Center for Communication Programs of Coalition for Healthy Indonesia (Koalisi untuk Indonesia Sehat, KuIS) based in Jakarta where she was entrusted to develop strategic communication and business plan on public health in Indonesia, generate grants targeted at various stakeholders, philanthropy organizations and business communities and administer advocacy on public health issues. Immediately after graduation, Esther worked for the Program for Southeast Asia Studies at Arizona State University, Tempe, AZ as the Outreach Coordinator where she recruited and advised students, organized media outreach, series of lecturers, conferences, trainings, and workshops and other direct communication and marketing programs.

Nick Zefran nvzefran@aol.com – Class of 1989
Nick currently works for the federal government as Director of Member Services for the National Civilian Community Corps. The program has been described as the domestic Peace Corps, a program for 18-24 year olds who want to give back to communities here in the USA. It's a residential, team based program that responds to disasters, human needs issues, fire fighting and the environment. The MAIA program provided him the impetus to spend 14 years working in the refugee camps of Southeast Asia. He worked in the refugee camps in Indonesia, Thailand, Philippines and Hong Kong from 1979 -1994.

Tuesday, March 04, 2008

Acara Perpisahan Untuk Song

Oleh Muhammad Chozin

Bertempat di Baker Center 231, Rabu (5/3/2008) PERMIAS secara khusus menyelenggarakan acara diskusi dalam rangka perpisahan Song yang akan kembali ke Korea Selatan tanggal 11 Maret 2008 ini. Dalam acara diskusi terbatas tersebut, Song yang bernama lengkap Seung Won Song mempresentasikan disertasinya yang bertemakan Pancasila.

Menurut pengusul acara, Putut Wijanarko, PERMIAS perlu memberikan apresiasi secara khusus kepada Song mengingta amat sangat sedikit sarjana asing yang mempelajari Pancasila. Ditambah, Song adalah warga Korea yang mempelajari Indonesia.

Selain para mahasiswa Indonesia, nampak hadir juga direktur Program Southeast Asian Studies, Prof. Gene Ammarell. Selesai diskusi, acara dilanjutkan dengan makan malam bersama Song di restauran langganan warga Permias, Buffalo Wings. Song bisa dihubungi via email: swsong@hotmail.com.

Sunday, March 02, 2008

Final Indonesian Badminton Tournament 2008


Akhirnya, setelah melewati perjalanan panjang yang penuh halangan dan rintangan, para perempat finalis single dan semifinalis double Indonesian Badminton Tournament 2008 (IBT-2008) melanjutkan aksinya untuk menjadi yang terbaik dalam dunia perbulutangkisan se-Athens.

Pada pertandingan perempat final single muncul nama-nama baru yang meramaikan perbulutangkisan kota Athens. Sebut saja Valhan, pendatang baru Permias ini mampu mengalahkan Farid, salah seorang pemain senior dalam perbulutangkisan Athens, untuk melaju ke semifinal. Kejutan lainnya datang dari Dana. Pemain yang tidak diunggulkan ini mampu mengalahkan Il Sangaji, salah satu pemain bulutangkis veteran yang juga merupakan finalis tahun lalu. Dana, tanpa perlawanan yang berarti dari Il Sangaji, mampu melaju kesemifinal. Dua orang semifinalis lainnya adalah Peter yang mengalahkan pemain muda Denmark Troels Nielsen, dan Anton yang langsung melaju ke semifinal tanpa bertanding karena Tiwi telah mundur sebelum bertanding.

Seperti telah diprediksi sebelumnya, Anton dan Peter melaju ke final. Anton berhasil mengalahkan Valhan dua set langsung. Valhan, yang sedang dalam kondisi terbaiknya, pada awal-awal pertandingan mampu melayani permainan Anton. Namun, kondisi fisik dan pengalaman juga yang akhirnya berbicara. Anton berhasil mengalahkan Valhan. Di pertandingan semifinal lainnya, Peter yang telah banyak makan asam garam di dunia perbulutangkisan Athens mampu mengalahkan Dana dengan skor yang cukup telak.

Difinal, Anton berhasil mengalahkan Peter dan mempertahankan gelar juara single dari tahun lalu (ya iyalah....dia yang paling jago.......). Peter yang rencananya akan mundur dari dunia perbulutangkisan Athens karena tahun ini merupakan tahun terakhir dia di Athens, merasa sangat senang karena mampu melaju hingga final, walaupun ia belum dapat mengalahkan Anton.

Pada semifinal double, pertandingan antara Il/Tapos melawan Anton/Michael merupakan pertandingan yang sangat "rame". Rame, karena selama pertandingan kedua tim terus saling ejek untuk menjatuhkan mental lawannya. Pertandingan yang diwasiti oleh Gugun ini akhirnya dimenangkan oleh pasangan Il/Tapos. Pada pertandingan lainnya antara pasangan Valhan/Brian dan Peter/Fuh, pertandingan berjalan cukup ketat. Namun, pasangan Valhan/Brian belum mampu mengalahkan pasangan Peter/Fuh.

Difinal, Peter/Fuh berhadapan dengan pasangan Il/Tapos. Awalnya pertandingan berjalan cukup ketat, namun Fuh sering kali membuat kesalahan yang merugikan timnya. Karena sistem yang digunakan adalah rally point, maka setiap kesalahan yang dilakukan oleh pemain menjadi keuntungan (point) bagi lawannya. Akibatnya, pasangan Il/Tapos keluar sebagai juara untuk kategori double.
Pada tournament kali ini Peter menyabet dua gelar sekaligus, runner-up single dan double.

Tournament ditutup oleh pembagian "piala" dan hadiah yang diserahkan oleh Ibu Presiden Permias, Ketua Pelaksana IBT 2008, dan Koorlap IBT 2008 dan ditutup dengan foto bersama.

Bimbim ULTAH, Undang Makan-makan Laghe......

Berbagai jenis dan model ucapan terima kasihpun diluncurkan oleh para anggota permias seiring dengan selesainya acara makan-makan seri kedua di rumah keluarga Bimbim-Anggi. Ya,...Sabtu malam Minggu (3/1/08), Bimbim family kembali mengundang folks Permias Athens makan malam bersama dalam acara syukuran ulang tahun Bimbim yang ke-31.

Sebelum makan-makan, acara diawali dengan berbagai sambutan dan ucapan selamat ulang tahun oleh Permias (diwakili oleh President), Pak Yojo (sesepuh kota Athens), dan beberapa kawan sejawat yang lainnya. Beberapa bingkisan ulang tahun juga langsung mengalir kepada Bimbim: Pak Yojo dengan coklat berbentuk hati, Lina Cs dengan kue ulang tahunnya, Eka dengan sumbangan lagu khusus Valentine-nya, dan juga pasangan Unie-Adam dengan bingkisan minuman khasnya. Sementara warga Permias yang lain cukup dengan mengumpulkan tanda tangan dalam sebuah kartu ucapan Ulang Tahun (biasa, gak modal....he he he!).

Seperti biasa, selesai makan-makan acara dilanjutkan dengan bertukar guyonan dan banyolan khas ala Permias. Seperti biasa bintang-bintang nge-banyol seperti Nelly, Sandra, dan Farid menunjukkan kebolehannya mengocok perut. Hebatnya, kali ini muncul bintang nge-banyol baru asal Surabaya bernama Manda. Saat ini, dara muda belum genap 19 tahun penggemar berat Cinta Laura ini boleh dibilang merupakan bintang yang sedang naik daun dalam belantika per-banyolan Permias. Dengan logat khas Suroboyoan-nya, kata-kata yang meluncur dari mulutnya cukup untuk menjadikan hadirin ngakak se-ngakak-ngakaknya sampai mata terbelalak dengan mulut mengangkang.

Foto-foto acara by Sandra Nahdar

Wednesday, February 27, 2008

Badminton Competition: Peserta Mbludak

Berdasarkan email Arin dan IL

Athens (23/2/2008). Menurut laporan pandangan mata dan juga laporan pengalaman dari para peserta yang hadir, acara Badminton Tournament yang di selenggarakan oleh PERMIAS kemaren berlangsung dengan sukses. Terbukti lebih dari 30 peserta dari berbagai negara seperti AS, China, India, Jepang, Korea, Malaysia, Ameraka Latin, Syiria dan tentunya Indonesia mendaftarkan diri untuk bertanding dalam turnamen tahunan Permias itu.

Mbludaknya jumlah peserta ini diungkapkan oleh salah satu wasit IL “youtube” sangaji: “Aku yg datang pas setengah dua pun tekaget2 dengan jumlah peserta yg melimpah. sampe2 courts di area A Ping Center gak ada space lg buat org lalu lalang sehingga sering kali terpaksa banyak yg harus melewati masuk ke dalam garis lapangan yg sedang ada pertandingannya”.

Alhamdulillah walaupun ada beberapa rintangan dan halangan, semua itu bisa teratasi dengan baik. Crew Permias dari Commons 1306: Tsuy, Ita, Citra, Wini, Niken, Efka jauh-jauh hari sudah bantuin bikin agar-agar yang menyegarkan para peserta. Efka...mba yang satu ini sudah berhasil memukau para peserta dengan pialanya dan juga banner nya yang unik dan lucu,,,ihihi. ..mantaabbh! !! Teh Unie...korlap cabe rawit...turut mensukseskan acara dengan membuat jadual main yang ketat.

Para wasit: IL, Farid, Anton, Firman, Valhan, Brian, Citro, Gugun, Dana, Sandra, dan Taposh (yang ini outsource dari negeri Bangladesh) juga menjadi kunci tertibnya acara. Sementara seksi dokumentasi : Eka, Efka dan Sandra turut berperan dalam mengabadikan moment ini. Crew Permias lain: Maru, mbak Tiwi, mbak Lina, Nelly, Mondi, Chozin, Caesar, Anggi, Bu Yojo juga hadir turut memeriahkan suasana dengan sebagian ikut bertanding dengan semangat 45-nya.

Minggu ini pertandingannya belum selesai dan rencana akan dilanjutkan babak final Sabtu minggu depan. Jadi buat yang masih pengen liat atraksi temen2 yang masuk semi final, minggu depan,,,hari sabtu,,di Ping...(jamnya lupa euyy,,jam brapa ya Gunn,,)? Dateng aja yaaksss!!! “Guguuunn...Citrooo. ..COngratuLation Guys GREAT JOB guYYss!! KEep Up The good sPIRit!!!!”, demikian ungkap sang president Permias, Arin Ceria, menyemangati crew pantia.

Sunday, February 24, 2008

FK Terpilih sebagai Sekretaris Save the Children Chapter OU

Laporan dari Sandra Nahdar

Athens (22/2/2008). Hari ini, salah satu anggota Permias Athens, Fitria Kurniasih atau yang biasa dipanggil FK, baru saja terpilih sebagai sekretaris Save the Children, Chapter OU. Selain FK, pemilihan yang berlangsung di Baker Centre Room 233 pukul 6 sore waktu Athens tersebut juga menetapkan Kristin Dunsky (Mahasiswa peserta Indonesian Conversation Hour) juga sebagai Vice President untuk Undergraduate Affairs.

Save the Children Chapter OU adalah cabang kampus pertama Save the Children di kampus-kampus seluruh USA. Organisasi ini merupakan organisasi nasional USA dengan cakupan kerja internasional meliputi 110 negara. Informasi lebih lanjut mengenai Save the Children dapat dibuka di: http://www.savethechildren.org

Dengan terpilihnya FK sebagai sekretaris, secara tidak langsung, Permias makin banyak punya "ambassador" yang aktif dalam organisasi tingkat internasional. Selamat buat FK, semoga bisa menjalankan tugasnya dengan sukses dan membawa nama harum bangsa!

Saturday, February 16, 2008

Tim PERMIAS Babat Habis Lawannya Pada Kompetisi Futsal di OU

Dilaporkan oleh Gugun Gunardi

Kami melaporkan hasil pertandingan PisPL (Ping indoor soccer Premier League ) dari lapangan area A Ping Center. Pagi ini pukul 11.00 pm, Tim Indonesia yang menamakan dirinya Sriwijaya FC (yang ditentukan secara "semena-mena" oleh sang kapten) berhasil memenangkan dua pertangdingan pertamanya dengan skor 8-0 untuk pertandingan pertama dan 8-5 pada pertandingan kedua.

Pada pertandingan pertama, Sriwijaya FC yang menggunakan tiga pemain asing, berhasil menguasai jalannya pertandingan tanpa adanya perlawanan berarati dari tim lawan. Tercatat 80% penguasaan bola ada pada Sriwijaya FC (berlebihan ya......) dan Sriwijaya FC menang telak 8-0.

Pada pertadingan kedua, Sriwijaya FC awalnya sempat tetinggal 0-1 oleh tim lawan. Namun, berhasil unggul menjadi 3-2. Menit pertengahan babak pertama pertandingan berjalan sangat ketat. Dengan menerapkan pola pressing yang sangat ketat, akhirnya tim lawan berhasil mengejar ketinggalan menjadi 3-3. Akhir babak pertama Sriwijaya FC berhasil unggul 4-3. Babak kedua, Sriwijaya FC lebih tenang dalam memainkan bola sehingga lapangan tengah berhasil dikuasai. Hingga pertengahan babak kedua Sriwijaya masih unggul 6-4. Dengan penuh percaya diri Sriwijaya FC menambah pundi-pundi golnya, sehingga skor menjadi 8-4. Tim lawan berusaha kembali menekan, dan dimenit-menit akhir tim lawan berhasil memperkecil ketinggalan menjadi 8-5.

Dari 16 gol yang diciptakan oleh Sriwijaya FC, 4 gol diciptakan oleh Anton dan 2 (atau 3) dicetak oleh Brian. Sedangkan sisa gol diciptakan oleh dua pemain asing Massa dan Freddy. Adapun Farid "salossa" berhasil mencetak satu gol, namun wasit membatalkannya karena saat itu posisinya berada dlm posisi offside (posisi dlm kotak yg tidak boleh mencetak gol). Namun sepertinya Valhan "van der vaart" belum menemukan kondisi permainan terbaiknya. Tercatat 6 peluang yg diperolehnya, namun tak satupun yg berbuah gol. Begitu pun dgn striker veteran permias Il capitano (salah ya....itu bkn nama org.....), maksudnya Il Sangaji, belum juga menemukan performa terbaiknya.

Adapun anggota daftar pemain lengkap Sriwijaya FC adalah: Anton (captain), Brian, Farid, Gugun, Il Sangaji, Valhan, Massa (fgn), Freddy (fgn), Michael (fgn)

Persiapan Spring, PERMIAS Mulai Geber Latihan Tari Saman

Laporan dari Winie

Masih pada inget Spring Fest yang akan digeber tahun ini khan?...Naaah, berhubung ini event yang bagus banget buat mengekspresikan dan sekaligus mengenalkan Indonesian culture di ladang bule, maka warga PERMIAS akan ekspresikan Indonesia dengan bahasa tubuh….a.k.a dance performance.

Sehubungan dengan time alert dan kematangan performance, latihan akan segera dimulai, starting from tomorrow; Sunday February 17, 2008 at 1.00 pm (13.00) - Gordy 311.

Mengutip first lady PERMIAS kita bahwa “pada latihan perdana ini nanti, sama2 akan kita diskusikan the next big step” so diharapkan buat kedatangan teman2 semua yang ingin berpartisipasi. Untuk kesempatan perdana ini, latihan akan difokuskan pada tari Saman dulu, but the next big thing-nya, rencananya sih akan ditambah dengan tari2 an laennya yang akan kita diskusikan sambil jalan. So what do you guys say?....let’s do it

Sunday, February 10, 2008

Muhammad Chozin Wins the Southeast Asia Photo Contest held in Ohio University

A photograph by Muhammad Chozin, a student in Southeast Asian Studies Program, titled "Children of the Earth", was chosen as a winner in the Southeast Asia photo exhibit and contest in Athens County, Ohio. The photo was taken in Chozin's home town of Yogyakarta during his summer break 2007. In his title chozin wrote additional sentence: "Kids in Yogyakarta, Indonesia spend their free time after school by swimming in the river. They are taking their evening shower in the river with friends, so they do not have to take shower at home".

Judges chose your photo from an outstanding collection of entrants, based on its photographic quality and significance to Southeast Asia. Judges for the competition included Julia Van Wagenen, visual communications undergraduate student here at Ohio University. Julia works closely with international projects in Yamada House and is also currently pursuing research work in Southeast Asia. Dr. Adam Knee, Assistant Professor in the School of Film, lent his eye for aesthetics to the judging panel. Adam has worked in Southeast Asia for many years and is one of the leading researchers in the country on Thai film. The final judge, Dr. Betsy Partyka, is the Director of the Latin American studies program at Ohio University. She has worked in international studies and research throughout her career.

The photo exhibit is touring throughout area schools for the next few weeks. It will then return to OU campus for the Southeast Asian Studies Program's 40th Anniversary celebration during the first week of March. It will then continue on its tour of area schools until April, when it will be displayed in Casa Nueva Restaurant and Cantina. Then, in May, it will be on tour as part of the International Week festivities.

Unfortunately, because of very strict laws concerning children in photography in the United States, the photo may cause some controversy in its depiction of children in their underwear; therefore, this photo is not be displayed with the exhibit.

Friday, February 08, 2008

Guest Speaker from Indonesia: Damairia Pakpahan

reported by Chozin

Athens (2/06/2007), the Center for Southeast Asian Studies and the Women's Studies program at Ohio University presented a talk by Damairia Pakpahan entitled, "(En)Gendering Justice: Life, Work, and the Women's Movement in Indonesia."

The talk was held on Wednesday, February 6 from 5:10-6:30pm at Baker Center room 243. Moderated Dr. by Elizabeth Collins, the lecture was attended by about 75 students.

Damairia Pakpahan is an Indonesian activist who works on, among other things, migrant and domestic workers' issues in Indonesia. Currently, she is a fellow at the International Center for Tolerance Education in New York.

Indonesia Movie "Mengejar Mas-mas" at Ohio University

reported by Chozin

On Thursday, 2/7/2008 at the Baker Center, the Center for Southeast Asian Studies in partnership with the Dr. Shao You-Bao Overseas Chinese Documentation and Research Center showed an Indonesian movie tittled Mengejar Mas Mas (2007, 94 min., Indonesian w/subtitles).

The show was a part of a new film series to be held every two weeks. This series aims to not only introduce the public to modern Southeast Asian cinema, but also to how some (Southeast Asian) films represent and incorporate the Overseas Chinese. The series is FREE

Sunday, February 03, 2008

Selamat Tinggal Pengurus Lama, Selamat Bekerja Pengurus Baru

Berita berdasarkan kontribusi dari Farid, dkk.

Sudah sekitar setahun pengurus Permias OU periode 2007-2008 di bawah Farid bekerja dan membawa Permias sampai pada tahun 2008. Sementara, pengurus baru untuk periode 2008-2008 di bawah Ibu Presiden, Dyah Ariningtyas (Arin) siap menunjukkan semangatnya unhtuk mensukseskan segala kegiatan Permias OU hingga tahun 2009 (kalau mau nambah juga boleh). Untuk « meresmikan » masa peralihan dari pengurus lama ke pengurus baru, Permias OU menyelenggarakan serah terima. Dengan dihadiri hampir seluruh anggotanya, acara tersebut diadakan di ruang 514 Baker University Center pada jam 12.00-2.00 waktu Athens pada hari Sabtu, 2 Februari 2008.

Permias 2008

Pada kesempatan itu, seluruh anggota pengurus lama sengaja berpakaian rapi layaknya para pejabat Orde Baru. Bapak Sandra dan Bapak Chozin bahkan bergaya menteri kabinet pembangunan ‘porak-poranda’ dengan jasnya (maklum, selama ini gak pernah dipakai). Diawali dengan ramah tamah, senda gurau khas anggota Permias dan menikmati pizza (sogokoan pengurus lama biar LPJ-nya diterima), acara resmi dibuka dan dipimpin oleh Sandra Nahdar.

Permias 2008

Sandra memberi kesempatan kepada seluruh anggota pengurus lama memberikan laporan, kesan dan pesan selama menjadi pengurus Permias. Kesempatan pertama diberikan kepada Farid, ketua Permias yang mendapat julukan Mr. Dry alias garing. Farid menyampaikan beberapa poin, yaitu, ucapan terima kasih atas segala dukungan seluruh anggota Permias terhadap program-program pengurus. Farid juga menyampaikan refleksinya tentang Permias. Menurutnya, Permias adalah kumpulan ide-ide, inisiatif-inisitiaf dan aksi-aksi dari seluruh anggotanya, maka sangat penting bagi pengurus untuk memotivasi seluruh anggota agar bisa mengekspresikan semua potensinya itu. Farid menambahkan, setiap generasi punya style masing-masing dalam mewarnai Permias. Dari lubuk hati terdalam, Farid meminta maaf jika gaya generasinya yang “garing” membuat Permias jadi “salah kaprah.” Karena panjangnya laporan yang dibuat pengurus lama, Farid hanya menginformasikan kalau semua dokumen Permias di bawah pengurus lama sudah dibundel dalam satu CD. Selain laporan kegiatan, CD tersebut berisi notulen rapat, catering guidance, proposal, flyer-flyer kegiatan, sejarah Saman Dance Troupe, dan lain-lain.

Unie sebagai bendahara melanjutkan acara dengan laporan keuangannya. Unie menekankan pentingnya tertib administrasi keuangan untuk memudahkan manajemen, terutama dalam mengatur keuangan yang bersangkutan dengan Ohio University. Unie memberi informasi tentang gambaran umum kondisi keuangan Permias terakhir yang memiliki saldo sekitar $2000 termasuk tambahan bantuan $1000 dari Atase Pendidikan dan Kebudayaan, Kedubes RI di DC. Unie juga mengatakan, jumlah anggota yang lebih banyak sangat membantu pemasukan keuangan Permias dan berpesan supaya bendahara baru lebih “berani” menagih iuran anggota (tambahan dari penulis hii).

Maru sebagai sekretaris menyampaikan kembali tugas utamanya yaitu, mencatat dan mem-file hasil-hasil rapat Permias. Notulensi rapat Permias selama periode 2007-2008 sudah termasuk dalam lampiran laporan yang ada di CD. Secara khusus, Maru mengucapkan terima kasih atas dukungan Permias terhdapa program Conversation Hours bagi murid-murid Bahasa Indonesia yang dibimbingnya bersama Nelly.

Muhammad Chozin, manajer website Permias, menginformasikan perkembangan terakhir pembuatan web resmi Permias OU. Web yang akan diberi nama www.permias-ohio.us ini sudah sampai tahap poersiapan launching. Tim web masih mengapload beberapa data dan berharap akan bisa dilaunching dalam 1-2 minggu ini. Menurutnya, salah satu fungsi website Permias adalah sebagai kantor online, tempat menyimpan beberapa dokumen organisasi yang bisa diakses oleh seluruh anggota yang membutuhkan. Chozin juga menyampaikan kesannya yang mendalam tentang kebersamaan dan fleksibilitas sebagai salah satu kunci “kesuksesan” dalam Permias, di mana masing-masing bisa saling mengisi jika yang lain sibuk dengan tugas-tugas kuliah. Eka Sabeh, ISU representative, juga menyampaikan kesan yang sama mengenai kebersamaan dan fleksibilitas dalam Permias tersebut.

Setelah semua anggota yang hadir menerima laporan pertanggungjawaban pengurus lama, acara dilanjutkan dengan serah terima secara simbolik. Pengurus lama, diwakili Farid yang didampingi seluruh anggota pengurus, menyerahkan beberapa dokumen Permias kepada Arin. Setelah itu, Arin memberikan sambutanya sebagai presiden Permias baru. Arin memohon dukungan semua anggota sehingga program-program Permias di bawah kepengurusannya bisa berjalan dengan sukses.

Setelah prosesi acara serah terima selesai dan ditutup oleh Sandra, acara dilanjutkan dengans sesi yang paling ditunggu-tunggu, yaitu berfoto bersama.

Permias 2008

Hasil foto2 lain, juga bisa dinikmati di link berikut:

http://www.flickr.com/photos/kedungsondari/

Selamat bekerja buat pengurus baru, semoga selalu sukses menjadikan Permias OU lebih maju.

Friday, February 01, 2008

Indonesian Night, Yang Beda yang Membuat Gembira

Dilaporkan oleh Farid Muttaqin

Awalnya sekedar gagasan sederhana untuk menyelenggarakan Indonesian Dinner, makan malam ala Indonesia. Ala Indonesia, baik dari segi makanan yang disajikan ataupun “suasana” yang dibangun. Dengan jumlah warga Permias saat ide ini dicoba dimunculkan kembali, yaitu yang hanya 10an orang, sepertinya akan sangat kepayahan untuk membuat acara cultural night yang mewah.

Tapi gagasan sederhana itu akhirnya menjadi acara penuh gebyar karena hadiah sangat berharga dengan datangnya para warga baru. Rapat persiapan pertama yang hanya diadakan kurang lebih dua minggu sebelum acarapun memutuskan dengan berani supaya Indonesian Night dibuat dengan penuh beda. Semua bersemangat mengerjakan tugasnya masing-masing. Dengan segala persiapan di tengah kesibukan kuliah, pada Jum’at, 25 Januari 2008 jam 6.30-9.00 di Ballroom Baker Center, akhirnya Indonesian Night-pun digelar.

Dengan persiapan yang sangat “mepet”, diputuskan kalau makanan akan dipesan di Taste of Bali, restoran Indonesia yang ada di Columbus. Makanan yang disajikan berupa nasi putih, rending, gado-gado, sambal goreng kentang, kerupuk udang dan cendol. Teh hangat, kopiko dan permen jahe juga tersedia.

Meski hanya mencetak 150 tiket yang semuanya terjual beberapa hari sebelum acara, sekitar 200-an orang hadir di acara tersebut. Tak hanya mereka yang tertarik dan akrab dengan kajian-kajian Indonesia, banyak warga Ohio University dan warga kota Athens yang ikut menikmati acara tersebut. Seluruh anggota Permias OU berdandan khusus dengan memakai berbagai pakaian tradisional Indonesia.

Ballroom Baker Center yang menjadi venue acara ini didekorasi dengan berbagai pernak-pernik khas Indonesia seperti wayang kulit dan ketupat. “Alas meja” dilengkapi dengan peta Indonesia berbingkai foto seluruh warga Permias OU.

Dengan konsep acara yang diusahakan berbeda dengan acara cultural night yang lain, Permias OU berusaha menghibur para audience dengan berbagai macam penampilan seni-budaya, termasuk ritual “selametan”, dan makanan khas Indonesia. Keramahan dan keintiman baik antar tamu dengan tamu maupun antara tamu dengan “tuan rumah” menjadi suasana yang ditawarkan acara ini. Para tamu sudah disuguhi tayangan video tentang Indonesia untuk membawa imajinasi mereka ke suasana Indonesia yang sebenarnya.

Beberapa agenda seni-budaya yang ditampilkan di acara tersebut adalah ritual welcoming guest dengan memberi cenderamata pada perwakilan tamu. “Ritual” lain yang diperkenalkan dalam acara ini adalah potong tumpeng, sebagai simbolisasi berbagi rasa sukur. Wakil Presiden Permias 2007/2008, Sandra Nahdar, juga membawakan keahliannya, Tari Piring. Saman Dance juga kembali dibawakan yang kali ini oleh dua grup berbeda, yaitu Sanggar Tari Athens Middle School yang dibimbing Sandra Nahdar dan Permias Saman Dance Troupe. Para murid bahasa Indonesia di OU juga tidak mau kalah menghibur para tamu dengan beberapa lagu daerah yang mereka bawakan dengan ceria.

Sembari mengantri makan, para tamu tak dibiarkan diam dan menunggu sampai bosan. Di-host oleh Arin, panitia menyediakan game, memberi pertanyaan-pertanyaan tentang Indonesia, dan memberi hadiah bagi mereka yang bisa menjawab. Semua anggota Permias memang benar-benar ingin menghibur para tamu malam itu.

Lantunan suara merdu para biduan Permias, seperti Eka Dwipayana, Wini Pratiwi, Karmila Mahmud dengan iringan gita Il Sangaji dan Mas Rudi Sukandar, membawakan lagu-lagu merdu Indonesia dan lagu-lagu daerah, benar-benar menjadi pengring dinner yang membuat tamu semakin menikmati berbagai makanan yang disajikan.

Di ujung acara, “tuan rumah” melai menampilkan poco-poco dan mengajak seluruh tamu berpoco-poco ria bersama. Tidak pandang bulu, profesor, mahasiswa, anak-anak semua ikut bergembira dengan gerakan poco-poco yang mereka ikuti.

Akhirnya, setelah lelah, acara ditutup dengan seluruh crew acara naik ke atas panggung dan memberi salam terima kasih pada seluruh tamu. Banyak komentar positif dari para tamu terhadap Indonesian Night ini. Beberapa mengatakan acara tersebut sebagai salah satu acara cultural night paling hebat di OU. Kehabatan ini sebenarnya tidak lepas dari kehabatan para tamu dalam mengapresiasi semua yang kita tampilkan dan kita sajikan di acara tersebut.

Semoga, tahun depan Permias OU bisa mengadakan Indonesian Night dengan lebih hebat lagi, dengan belajar pada kekurangan-kekurangan Indonesian Night tahun ini.