Friday, March 30, 2007

LAPORAN: PENYALURAN DANA UNTUK GEMPA YOGYAKARTA

Narrative Report

PENYALURAN DANA UNTUK GEMPA YOGYAKARTA

PERMIAS Athens, Ohio, USA

Yogyakarta dan Jawa Tengah, Februari – Maret 2007

A. Pendahuluan: Gambaran Umum Gempa 27 Mei 2006

Menurut Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG), gempa bumi yang terjadi di Yogyakarta dan Jawa Tengah tanggal 27 Mei 2006 pukul 05.53 WIB telah merenggut nyawa sekitar 6234 orang (Departemen Sosial RI) dan melukai 50.000 orang lebih. Gempa 27 Mei juga memporak porandakan puluhan ribu rumah dan bangunan lain seperti sekolah, masjid, gereja, gedung pertemuan dan lain lain. Dua daerah yang paling parah menderita akibat gempa adalah kabupaten Bantul (Yogyakarta) dengan jumlah korban meninggal 4.280 orang, dan kabupaten Klaten (Jawa Tengah) dengan jumlah korban meninggal 1.036 orang. Kedua kabupaten tersebut terletak tepat berada pada lintasan garis patahan Sesar Opak (Opak Creek), sementara menurut BMG, gempa 27 Mei dipastikan disebabkan oleh aktivitas sesar atau patahan aktif (Kompas, 27 Mei). Gempa susulan terjadi 4-5 kali dan banyak korban meninggal justru pada gempa susulan. Mereka tidak masuk ke rumah untuk mengambil barang-barang dan tidak menyangka terjadi gempa susulan. Banyaknya korban juga disebabkan karena gempa terjadi pada jam 05.53 dimana kebanyakan orang masih berada di dalam rumah.

Kompas melaporkan bahwa “yang dapat dirasakan pada saat gempa bumi terjadi adalah getaran bumi tempat kita berada pada saat itu, bumi bergoyang kesamping dan keatas, itulah gelombang gempa yang sampai ketempat kita” (Kompas, 27 Mei 2006). Gempa 5.9 scala Richter yang terjadi selama 57 detik itu telah menyisakan duka dan trauma yang mendalam, khusunya bagi masyarakat di Yogyakarta dan Jawa Tengah. Bagaimana tidak? Banyak diantara mereka yang melihat anggota keluarga, teman dan tetangga mereka meninggal, terenggut nyawanya oleh bencana gempa yang tiba tiba terjadi. Kehilangan tempat tinggal juga merupakan derita tersendiri. Banyak diantara mereka yang mengumpulkan ribuan demi ribuan dan hanya kurang dari 60 detik rumah mereka hancur beserta isinya.

Berita tersebut segera menyebar ke seluruh penjuru dunia dan mulailah berdatangan bantuan dari berbagai pihak, diantaranya NGOs seperti UNICEF, World Bank, European Community , World Food Program, Tifa Foundation, ACT, dll. Disamping itu beberapa negara yang telah banyak membantu korban gempa adalah: Cuba, Jerman, Iran, Jepang, Malaysia, Pakistan, Saudi Arabia, Thailand, Qatar, Arab Saudi (sumber: Insist).

Para Mahasiswa Indonesia yang sedang studi di Ohio University juga turut merasakan duka yang mendalam atas musibah tersebut, apalagi beberapa mahasiswa berasal dari Yogya (Chozin dan Elis). Akhirnya dengan support dari teman teman mahasiswa OU, dosen dan masyarakat Athens, PERMIAS Athens menggalang dana untuk membantu meringankan beban para korban gempa. Bersama sama PERMIAS dan masyarakat Athens mengumpulkan dana melalui penjualan suvenir, makanan, dan minuman khas Indonesia. Banyak pihak yang mendonasikan barang barang untuk dijual dalam upaya penggalangan dana. Penggalangan dana juga dilakukan tengah malam sampai pagi dini hari untuk menambah jumlah dolar yang akan didonasikan kepada masyarakat yang terkena gempa. Akhirnya kami mendapatkan total donasi sejumlah $ 3400 atau Rp. 31.000.000. Kami sangat bersyukur atas semua bantuan dari teman teman dan masyarakat Permias yang sudah membantu baik moril maupun materiil.

Berdasarkan rapat pengurus PERMIAS Athens, Penyaluran dana untuk korban gempa Jateng dan DIY diserahkan pelaksanannya kepada alumni OU yang ada di Indonesia ( Elis & Eski ). Eski memiliki tanggung jawab sebagai bendahara dan Elis sebagai koordinator lapangan. Penyaluran dana lewat alumni OU ini diharapkan agar bantuan langsung sampai kepada korban gempa tanpa banyak potongan biaya, dan lebih bisa dipertanggung jawabkan keuangannya. Kemudian atas persetujuan pengurus PERMIAS Athens, koordinator lapangan ( Elis ) meminta bantuan 2 volunter ( Rusdi Santoso dan Azwar ) serta 1 driver ( Ramang Nurdiansyah ). Pada pelaksanaan penyaluran dana, kami juga dibantu oleh Andri Setyawan, Dwi Purmala Setyo dan Paryanto Rohma. Ketiganya hanya murni membantu, tanpa diberikan perdiem.


B. Prioritas Program

Bantuan ini dititik beratkan pada bidang pendidikan. Berdasarkan hasil survey kami, yang paling membutuhkan bantuan adalah Taman Kanak-kanak (TK). Diawal awal tahap recovery korban gempa, sedikit sekali Lembaga Pemerintah / NGOs yang memprioritaskan bantuan pada lembaga Taman Kanak-kanak. Kebanyakan mereka membantu Sekolah Dasar ( SD ) atau SMP dan SMA. Di Kabupaten Klaten masih banyak TK yang belum mendapatkan bantuan gedung, sebagian dari mereka masih melaksanakan kegiatan belajar mengajar di tenda atau di bangunan sementara yang di buat warga, seperti panggung. Hal ini sangat memprihatinkan karna anak-anak juga banyak mengalami trauma dan dunia pendidikan adalah dunia bermain dan belajar mereka, dunia yang bisa menghibur dan melupakan duka mereka. Sementara gedung mereka roboh, mainan mereka hancur lebur, hanya sedikit yang tersisa.

Pada awalnya kami ingin membantu membangunkan sekolah sementara yang terbuat dari bambu, tapi seiring dengan berjalannya waktu, didaerah Bantul Yogyakarta, sudah ada bantuan dari World Bank melalui PPK ( Program Pengembangan Kecamatan ) untuk membuat bangunan baru (gedung baru ) karena TK lama mereka hancur ( rata dengan tanah ). Tapi meskipun punya gedung baru, mainan mereka hancur lebur, hanya sedikit yang tersisa. Padahal dunia TK identik dengan dunia bermain, sehingga kami memutuskan untuk memberikan bantuan berupa alat-alat permainan TK dengan harapan mereka bisa bermain lagi bersama teman-teman mereka dan mengembalikan keceriaan mereka. Sehingga perlu kami garis bawahi bahwa focus kita memang anak anak, karena memang menurut pengamatan kami, sangat sedikit yang memberikan perhatian pada anak anak korban gempa.

C. Jenis Bantuan

Ada 2 jenis mainan untuk TK : 1) mainan luar 2). mainan dalam.

Mainan luar biasanya lebih mahal, tapi kuat dan tahan lama. Mainan luar yang kami berikan diantaranya ayunan, tangga pelangi, titian, dan papan peluncur.

Sedangkan mainan dalam separti kuda goyang, kapal goyang, angsa goyang, aneka puzzle, aneka mainan berdiri, aneka balok, alat musik, dan lain-lain.

Kami juga membantu 16 set ( 16 meja, 32 kursi ) dan di salah satu TK yang hanya memiliki 8 meja usang tak layak pakai dan tak punya kursi. Kami juga memberikan kasur untuk UKS TK di TK Gantiwarno Klaten.


D. Aktivitas Pra-pelaksanaan

1. Penentuan Kriteria

agar kami bisa memberikan bantuan yang tepat sasaran, maka kami membuat beberapa kriteria TK mana saja yang akan memperoleh bantuan.

Beberapa criteria tersebut adalah :

· TK berada dilokasi gempa yang parah yang berlokasi di Bantul ( DIY ) dan Klaten ( Jawa Tengah ).

· TK belum mendapatkan bantuan alat-alat mainan.

· Mainan- mainan pada waktu gempa sebagian besar hancur.

· Diutamakan TK yang berada di pelosok (jauh dari pusat kota) dan terabaikan dari bantuan


2. Pendataan dan survey lapangan

Setelah menentukan kriteria-kriteria tersebut, kooriantor lapangan ( Elis ) bersama volunter ( Azwar dan Rusdi ) melakukan survey lapangan. Azwar khususnya melakukan survey dan mendata TK-TK yang membutuhkan bantuan untuk daerah Yogya (kecamatam Imogiri, Pleret, Banguntapan, Jetis, dan Sewon) . Sedangkan Rusdi didaerah Klaten (Survey meliputi kecamatan Gantiwarno, Wedi, Prambanan, Elis sendiri ikut melakukan survey, baik di Klaten (Gantiwarno, Wedi, Prambanan) maupun Yogya (kecamatan Imogiri) . Setelah data kami dapatkan, kami mengadakan pertemuan dan membahas prioritas TK yang perlu diberikan bantuan. Setidaknya ada 22 TK yang memerlukan bantuan untuk wilayah Klaten dan DIY berdasarkan data yang telah terkumpul.

3. Survey Harga

Disamping survey lokasi, kami juga survey harga mainan TK di beberapa toko baik di Jateng dan DIY dan kami menemukan toko mainan “ Az-zahra “ yang berlokasi di Cawas, Klaten sebagai toko yang paling murah. Untuk satu mainan luar, selisih antara toko Az Zahra di banding toko lainnya sekitar Rp. 300.000 – Rp. 400. 000. Tidak hanya lebih murah, kami juga mendapat potongan harga (discount) untuk beberapa mainan luar seperti ayunan, titian, dan tangga pelangi. Ketika pemilik toko mengetahui barang barang yang kami pesan untuk korban gempa, mereka tidak memungut biaya pengiriman barang dari Klaten ke Yogya, maupun dari toko Az Zahra ke Rumah Rusdi (base camp di Klaten), padahal jarak Kecamatan Cawas dengan Gantiwarno maupun jarak ke Yogyakarta cukup jauh. Kami akhirnya mantap memutuskan untuk pesan di Az Zahra, tapi kami juga pesan beberapa paket puzzle di Yogya karena saat itu kami sedang dikejar waktu.

4. Rapat koordinasi

Selama masa pra-pelaksanaan, setidaknya koordinator lapangan bersama 2 volunter mengadakan 4 kali rapat koordinasi dan puluhan kali koordinasi lewat telephon maupun sms. Semua ini dimaksudkan untuk menyatukan langkah dan merencanakan program dengan sebaik mungkin. Sebagai koordinator lapangan saya cukup salut terhadap loyalitas 2 volunter yang selalu datang dalam rapat koordinasi, meskipun hujan dan jaraknya agak jauh (Rapat sering diadakan di Yogya, sementara Rusdi rumahnya di Klaten). Rapat koordinasi biasanya berlangsung 1 – 2 jam dan menghasilkan kesepakatan kesepakatan dan perencanaan yang lebih matang.

E. Pelaksanaan Penyaluran Dana dan Respon Penerima

1. Bantuan Tahap I (Daerah Klaten, Jawa Tengah)

Untuk tahap I ini kami menyalurkan bantuan di daerah Klaten, khusunya beberapa kecamatan yang terkena dampak gempa dengan katagori berat, yakni kecamatan Gantiwarno dan Wedi. Kami membaginya dalam 3 hari: 27 Feb, 28 Feb dan 1 Maret. Total TK yang berikan bantuan ada 11, yang terdiri dari TK 5 Pertiwi (TK Umum), 5 TK ABA (Islam) dan 1 TK Fransiskus (Kristen). Dalam pendataan kami, sulit menemukan TK Kristen, sehingga hanya ada 1 TK Kristen yang diberikan bantuan. Kebanyakan TK adalah TK Pertiwi dan TK ABA.

Berikut ini ilustrasi penyaluran dana gempa tahap I:

Pagi itu Selasa, 27 Februari, Rombongan Penyaluran Dana Permias (Troy Johnson, Elis, Azwar, Rusdi, Ramang) dan dibantu dua sukarelawan Andri Setyawan dan Dwi Purmala Setyo, telah berkumpul di Rumah Rusdi (Gantiwarno, Klaten, Jawa Tengah).. Kami sedang memilah milah mainan mainan TK ketika tiba tiba kami menyadari waktu telah menunjukkan pukul 08.00 pagi. Kami segera bergegas untuk berangkat. Semua mainan sudah kami naikkan ke 2 mobil pick up. Mainan tersebut berupa ayunan, papan luncur, titian, kuda goyang, mobil goyang, angsa goyang, aneka mainan berdiri, puzzle, balok dan lain lain. Rusdi di mobil pick up besar bersama driver sebagai penunjuk jalan, dibelakang nya ada mobil pick up kecil, lalu mobil audio visual dan paling belakang adalah mobil rombongan volunter. Kami sangat senang pada akhirnya penyaluran dana bisa terlaksana. Hari itu kami mengunjungi 6 TK di Klaten.

Sampailah kami di TK Pertiwi Jabung, kecamatan Gantiwarno. Daerah ini termasuk daerah parah nomer 2 setelah Bantul, pada musibah gempa Bumi Yogyakarta dan Jateng. TK Pertiwi Jabung roboh total, meja kursi dan alat alat mainan hancur, tidak ada yang tersisa. Mereka belajar di tenda pemberian salah satu funding international. Di dalamnya ada tikar dan beberapa meja. Mereka belajar lesehan. Ketika kami datang dan membawa banyak alat alat mainan, anak anak TK berhamburan datang, berteriak teriak dengan muka yang sangat ceria. Ramang, Dwi Purmala, Rusdi dan Azwar menurunkan beberapa mainan disitu dan anak anak TK itu tak sabar lagi, mereka segera mencoba mainan baru mereka. Ada yang naik kuda goyang, angsa goyang, ada yang mendekap puzzle, dan ada yang berlarian riang. Rusdi dan Azwar memegang spanduk. Andri sudah siap dengan kameranya. Kemudian secara simbolis Troy Johnson (Alumni OU yang sedang berada di Indonesia) menyerahkan mainan tersebut kepada Ibu Hartini (kepala TK Pertiwi Gabung) disertai dengan tepuk tangan dan ucapan terimakasih dari anak anak TK yang berjumlah 20 dan 2 guru TK Pertiwi Jabung. Troy juga menyampaikan bahwa PERMIAS dan masyarakat Athens telah menyumbang sekitar Rp. 31.000.000,- untuk TK TK Didaerah gempa. Bantuan datang dari mahasiswa, dosen, masyarakat Athens, jemaat gereja dan juga dari Islamic center.

Kami kemudian melanjutkan perjalanan ke TK ABA Jabung. Seperti halnya TK Pertiwi Jabung, TK ABA ini juga roboh total, meja kursi serta mainan hancur. Kami memberikan bantuan berupa titian, paket puzzle, angsa goyang, kuda goyang, kapal goyang dan mobil goyang. Ada 30 anak TK disitu dengan 2 orang guru. Anak anak juga sangat senang dengan kehadiran rombongan Penyaluran Dana Permias. Mereka berebutan mencium tangan kami sambil mengucapkan terimakasih.

TK yang ketiga (TK Gesikan) berada agak jauh dan melewati medan yang agak berat. Daerah gantiwarno dikelilingi oleh pegunungan. TK ini juga terkena dampak yang berat dari gempa. Gedungnya roboh total, mainan hancur. Waktu kami survey ke TK Gesikan, mereka masih sekolah di tenda, sekarang gedungnya baru saja didirikan lagi dengan bantuan dari beberapa NGOs. Atap atap nya masih belum sempurna. Meja kursinya juga masih seadanya. Tetapi itu semua tidak mengurangi keceriaan anak anak yang berjumlah 30 itu. Mereka menyalami team Permias dan setelah kami menyerahkan bantuan secara resmi, anak anak itu pun langsung menaiki ayunan yang kami berikan. Beberapa diantaranya berteriak teriak dan saling bertepuk tangan.

Kami melanjutkan perjalanan ke daerah Pesu, Kec. Wedi, kabupaten Klaten. Memasuki TK Pesu, kami sangat prihatin. Mereka belajar diatas panggung sementara karena gedungnya roboh, tidak ada kursi di panggung itu, hanya 8 meja usang yang sebenarnya sudah tidak layak lagi. Di pojok ruangan ada almari usang yang menampung beberapa berkas TK yang masih tersisa setelah gempa. Kami menurunkan 32 kursi dan 16 meja dan langsung menatanya di panggung tersebut. Ibu Suhartini, Kepala TK Pesu dalam sambutannya menyatakan bahwa dia sangat terharu bahwa ada yang memberikan bantuan meja kursi. Bu Tini juga bilang alangkah bahagianya anak anak esok hari ketika melihat di sekolah panggung mereka sudah ada kursi dan meja yang baru (waktu itu anak anak sudah pulang sekolah). Bu Tini hampir menitikkan air matanya ketika mengulurkan tangan sambil berucap beribu terimakasih kepada wakil dari Permias. Bu Tini juga bercerita karena memakai panggung untuk TK dan tidak tertutup sepenuhnya, kalau hujan, anak anak akan kehujanan dan mereka akan berkumpul berdesak desakan ke tengah agar mereka sedikit terlindung dari angin dan hujan. Sampai sekarang mereka belum menerima bantuan dari manapun.

TK berikutnya adalah TK Canan dengan 30 murid dan 3 guru. Sesuai dengan hasil survey kami, kami memberikan bantuan yang mereka perlukan, yaitu titian, puzzle, berbagai mainan berdiri, dan kasur kecil untuk PPPK. Anak anak menyambut kami dengan agak malu malu, tapi akhirnya akrab setelah kami menyapa dan memberikan mainan mainan itu.

Lalu sampailah kami di TK ABA Kalitengah, Wedi, Kab. Klaten. Daerah wedi juga termasuk daerah yang parah terkena gempa. Gedung TK ABA Kalitengah rusak berat, padahal mereka mempunyai murid 117. Mereka membaginya dalam 3 kelas dengan 3 guru. Saat kami sampai sana, sebagian murid sudah pulang, tinggal satu kelas yang belum pulang, dimana mereka sedang belajar sempoa dengan salah satu guru mereka. Lalu mereka menyammbut kami dengan berebut menyalami tangan kami. Lalu bersama sama mereka menyanyi disini senang disana senang. Kemudian kami pamit setelah menyerahkan bantuan tersebut. Mereka berterimakasih atas bantuan Permias dan bilang mainan mainan itu akan sangat berguna bagi mereka karena mereka punya murid yang sangat banyak.


Hari Kedua, Rabu, 28 Februari 2007

Hari ini Troy tidak bisa ikut ke Lapangan karena ada tugas yang harus diselesaikan. Kami pun pagi pagi sudah bersiap karena waktunya sangat singkat sekali. TK TK di Yogya dan Jateng rata rata masuk jam 7 pagi dan pulang jam 10 pagi. Padahal jarak antara TK satu dan lainnya cukup jauh. Hal ini mengharuskan kami untuk bisa mengatur waktu sebaik mungkin.

TK pertama yang kami kunjungi hari itu adalah TK ABA Sengon I yang mempunyai murid 28 orang dengan 3 guru. TK itu roboh waktu gempa, dan sekarang mereka baru saja pindah dari tenda ke Gedung yang sudah permanen. Tidak hanya anak anak yang terlihat senang menyambut kedatangan kami. Masyarakat sekitar juga sangat senang. Mereka sempat bertanya kami dari mana dan kami jawab kalau kami wakil dari Permias. Masyarakat ikut senang dan mengucapkan terimakasih atas bantuannya. Kami sangat senang melihat anak anak itu mencoba menaikin mainan mainan baru mereka. Setelah kami serahkan secara resmi, kami pamit untuk melanjutkan perjalanan.

Lalu kami sampai di TK Pertiwi Cucukan dan disambut dengan sangat baik oleh 2 Guru disana. Anak anak sudah tidak sabar lagi segera menaiki kuda goyang dan mobil goyang yang kami bawa. Lalu kami berfoto bersama dan beberapa anak berani menyatakan perasaan gembira mereka dengan bantuan yang kami berikan. Ibu Sumini, guru TK Cucukan sempat bertanya apakah kami bisa membantu membuatkan MCK buat mereka, tapi saya jawab bahwa dengan sangat menyesal kita tidak bisa membantu sarana fisik. Bu Suminipun berkata oh tidak apa apa kalau begitu. Kami sudah merasa sangat berterimakasih atas bantuan mbak mbak dan mas mas.

Yang unik di TK Pertiwi cucukan ini, bukan hanya anak anak TK dan guru guru TK yang menyambut kami, tapi juga ada seorang wanita tua yang kelihatannya agak stress ikut menyambut kami. Dia memperkenalkan diri sebagai Mbah Kondang Sak Ndonya (Nenek yang terkenal sedunia). Dia membuat kami tertawa terpingkal pingkal. Dia bertanya mana diantara kalian yang menjadi ponakan nya Pak Presiden? Saya Mbah Kondang, SE. Tapi kami tidak punya cukup banyak waktu, jadi kami pamit dan melambaikan tangan kepada anak anak TK yang sebagian besar masih asyik dengan mainan barunya.

Kami tiba di TK ABA Sengon III. Gedung TK ini tidak terlalu parah rusaknya, tetapi mainan nya banyak yang hancur, terutama mainan luar. Kami membawa ayunan dan paket puzzle serta mainan berdiri. Tidak ada semenit kami meletakkan ayunan, lebih dari 20 anak berebut menaiki ayunan baru itu. Mereka tidak mendengarkan teriakan ibu Guru yang minta mereka gantian. Lalu Azwar mendekati mereka dan bilang kalau ayunan dinaikin banyak orang nanti cepat rusak, lalu mereka mau gantian memakai ayunan tersebut. Kami sudah mau pamit, ketika Ibu kepala Sekolah TK ABA Sengon membawa 10 botol sprite dan minta kami istirahat sejenak sambil minum sprite. Kamipun minum, berterimakasih dan pamit melanjutkan perjalanan.

Memasuki TK Fransiskus, tampak satu tenda yang digunakan sebagai ruang belajar anak anak TK. Ada 35 murid, 2 guru dan 1 suster. Sayangnya murid muridnya sudah pulang sehingga kami tidak bisa bertemu mereka. Tapi masih ada satu suster dan satu guru yang menyambut kami. Waktu memang sudah menunjukkan pukul 10 pagi. Suster itu bercerita apa yang terjadi dengan TK saat gempa terjadi. Tapi mereka bersyukur bahwa TK mereka hanya retak retak dan sudah diperbaiki sekarang. Suster sama sekali tidak menyangka bahwa TK mereka akan diperhatikan dan menerima bantuan berbagai alat mainan. Kamipun menjawab bahwa kami memang sudah seharusnya membantu TK TK di daerah gempa, tidak hanya TK Islam, tapi juga TK Kristen dan TK Pertiwi. Lalu kami pamit karena masih ada satu TK lagi yang harus kami kunjungi.

Perjalanan dari TK Fransiskus ke TK berikutnya (TK Ngandong) sangat jauh, jalanan masih banyak yang bebatuan (belum aspal) dan jalanan naik turun. Akhirnya kami sampai di TK Ngandong dan bertemu dengan Kepala Sekolah (Ibu Surayem). TK ini menempati gedung sementara (gedhek) yang terbuat dari bambu. Berdekatan dengan bangunan sementara SD yang juga berasal dari Bambu. Rusdi (volunteer) menyerahkan secara resmi bantuan alat alat mainan ke Ibu Surayem dan Bu Surayem sangat berterimakasih atas bantuan Permias yang pasti sangat berguna bagi anak anak.

TK Ngandong adalah TK terakhir yang kami berikan bantuan untuk tahap I (wilayah Klaten, Jawa Tengah). Dengan demikian, berakhirlah penyaluran dana tahap I ini dan kamipun beristirahat, makan siang, lalu mengevaluasi kegiatan penyaluran dana ini.

Hari ketiga, 1 Maret 2007. Pada hari ini hanya Rusdi yang ke lapangan. Rusdi memberikan beberapa mainan tambahan karena setelah hari kedua, ternyata masih banyak mainan mainan kecil yang tersisa.

Penyaluran Dana Tahap II (Wilayah Bantul, Yogyakarta).

Untuk Tahap 2 dilaksanakan 3 hari: 6 Maret, 7 Maret, dan 14 Maret 2007. Ketika pendataan, ada 11 TK yang benar benar membutuhkan bantuan, akan tetapi karena lamanya waktu pelaksanaan penyaluran dana gempa PERMIAS, beberapa TK sudah mendapatkan bantuan, sehingga hanya 7 yang kami berikan bantuan, kemudian kami mencari data lagi dan ada 2 TK tambahan yang diberikan bantuan. Jadi total bantuan untuk TK di Yogya ada 9.

TK pertama yang kami berikan bantuan adalah TK PKK 91 Sompok. Kami masih ingat pada wakttu kami survey dua bulan yang lalu, TK PKK 91 Sompok belum memiliki gedung. Mereka membuat tempat darurat, bekas bekas pintu rumah disatukan membentuk persegi empat dan kemudian diberi atap. Tapi kami bersyukur, pada saat kami datang mereka sudah mendapatkan bantuan dari World Bank berupa uang 50 juta untuk membangun TK. Tapi mereka memang hanya punya mainan yang sangat terbatas, itupun sudah usang. Tak heran ketika kami datang dan para volunteer cowok menurunkan papan luncur, mereka tampak bersorak dengan muka yang ceria. Salah satu anak TK yang sangat gendut, Arifin, berkali kali mencium tangan kami, sambil mengucapkan terimakasih sebagai tanda kegembiraan nya. Begitu Papan Luncur diletakkan di depan sekolah, Arifin dan teman teman langsung menaikinya, terus dan terus. Lalu kami juga menurunkan kuda goyang dan 2 ngsa goyang yang langsung di naiki teman teman Arifin. Anak anak lain yang pemalu hanya melihat dari dekat atau menggoyang goyangkan mainan baru tersebut. Kami juga memberiman bantuan alat musik seperti gendang, kulintang, dan Gambang. Tak lupa kami memberikan paket puzzle dan mainan berdiri. Setelah penyerahan bantuan, kami bermaksud untuk pamit, ketika Ibu Guru TK PKK Sompok meminta kami untuk minum air putih yang sudah disediakan. Kamipun minum, ternyata ada snack nya juga dan Ibu Guru itu bilang kalau snak dan minuman itu dari masyarakat yang ikut senang karena TK PKK 91 Sompok mendapatkan bantuan mainan.

Lalu sampailah kami ke TK ABA 4 Ngrancah. Bantuan yang kami berikan adalah papan luncur, perahu goyang, kertas lipat, plastisin, krayon, paket mainan berdiri dan titian. Kami diterima oleh 3 guru yang kelihatan masih muda. Dalam sambutannya, Ibu Erna, kepala sekolah TK ABA 4 Ngrancah menceritakan bahwa dulu mereka meliburkan sekolah sampai 2 minggu setelah gempa, kemudian karena TK mereka roboh total, mereka dibuatkan tenda, dan mulailah anak anak itu belajar di tenda. Baru satu minggu mereka pindah ke gedung baru. Mereka bersyukur mereka mendapatkan bantuan lewat Program Pengembangan Kecamatan (PPK) yang didanai oleh World Bank dan Bu Erna juga mengungkapan rasa terimakasihnya karena anak anak sangat senang mendapatkan maian baru yang diberikan oleh PERMIAS.

TK ketiga yang kami kunjungi adalah TK ABA 6 Mojohuro. Kami disambut sangat antusias oleh anak anak dan guru guru di sana. Ada 66 Anak dan 4 guru. Sama dengan TK TK di Bantul, mereka juga baru 1 minggu menempati gedung baru dengan bantuan PPK. Kami sempat masuk ke kantor mereka dan melihat piala piala yang berderet deret. Mereka bersyukur bahwa piala piala banyak yang terselatakan dan tidak ikut hancur. Mereka sangat senang dan berterimakasih atas bantuan dari Permias. Adapun bantuan yang kami berikan adalah: Ayunan, Perahu goyang, kuda goyang, angsa goyang, paket puzzle, paket balok, dan paket mainan berdiri. Lucu sekali melihat anak anak berebut menaiki ayunan. Kami tentu sangat senang dan berharap mereka akan semakin rajin dan senang belajar di TK tersebut.

Lalu kami melanjutkan perjalanan ke TK Masyito Gondosuli. TK ini memiliki 46 murid dan 3 guru. Mereka punya 2 kelas dan dengan gedung yang masih baru, bahkan aroma cat nya pu masih terasa, Kami berkumpul di depan gedung, lalu saya (Elis) dan Bu Marni, guru TK Masyito Gondosuli duduk paling depan dengan murid murid perempuan, lalu murid murid laki laki berbaris di belakang. Kami pun berbincang bincang dengan murid murid yang imut imut itu. Kebanyakan mereka masih malu malu untuk bicara, tapi meski pelan, kami masih bisa mendengar bahwa mereka waktu terjadi gempa takut, menangis, dan harus tidur di tenda. Kini mereka sudah tidak tidur di tenda lagi karena orang tua mereka sudah mendapatkan bantuan untuk membangun rumah mereka. Para wali murid juga ikut duduk dan melihat acara penyerahan bantuan Permias. Hari ini 4 TK sudah kami kunjungi dan kami beri bantuan, kamipun pulang dengan menempuh sekitar 1 jam perjalanan dari lokasi ke rumah kami di pusat kota Yogya.

Hari kedua ini kami bermaksud mengunjungi 5 TK, tapi ternyata informasi dari Azwar, 2 TK sudah mendapatkan bantuan mainan, akhirnya kami hanya memberikan pada 3 TK dan melalui seorang teman yang rumahnya di Bantul, kami mendapatkan 2 TK lagi yang masih membutuhkan bantuan. TK Pertama hari ini yang kami kunjungi adalah TK ABA Sulung Kidul yang memiliki 35 murid dan 3 guru. Kami diterima sangat baik oleh Ibu Yamini, Kepala Sekolah TK ABA Sulung Kidul. Waktu kami datang, anak anak masih di kelas. Kami sangat prihatin melihat mainan mainan yang usang dan hanya terbatas jumlah dan jenisnya. Lalu kami menurunkan ayunan, paket puzzle, paket balok dan paket mainan berdiri. Tidak lama kemudian anak anak berhamburan keluar, mereka kelihatannya masih malu malu, tapi segera berebutan menaiki ayunan setelah Bu Yamini, guru mereka bilang bahwa mereka boleh mencoba ayunan baru mereka. Lalu bersama sama, Ibu Yamini dan anak anak bilang terimakasih kakak atas bantuannya. Kami pun membalasnya dengan senyum sambil memberikan nasehat kepada anak anak agar mereka semakin rajin masuk sekolah dan belajar bersama Ibu Guru.

TK berikutnya adalah TK PKK 63 di Tanjung Karang, Jetis, Bantul. Mereka memiliki 40 murid dan 4 guru. Pada saat gempa ada 4 murid yang meninggal, bangunan TK rata dengan tanah. Kami diterima oleh Ibu Daswati, kepala sekolah TK PKK 63 Tanjung dan kami memberikan bantuan berupa: titian, perahu goyang, angsa goyang, plastisin, paket puzzle dan paket maiann berdiri. Mereka merasa mainan tersebut sangat berharga dan akan sangat membantu proses belajar di TK PKK tersebut. Kami senang mendengarnya dan setelah berbincang bincang cukup, kami segera pamit untuk melanjutkan ke TK berikutnya.

TK terakhir yang kami kunjungi hari itu adalah TK masyito Mojosari di Wonolelo Pleret, Bantul. Jarak antara TK kedua dengan TK masyito Mojosari lumayan jauh, medannya juga seperti pegunungan. TK tersebut memiliki 35 murid dan 3 guru. Masih ada tenda bekas tempat anak anak belajar dulu. Lalu juga ada bangunan yang sedang di rehab di lokasi TK tersebut. Mereka mendapatkan bantuan dari PPK (Program pengembangan kecamatan) untuk membangun gedung TK. Mereka sangat gembira karena ada yang membantu gedung dan Permias datang membantu dengan alat alat mainan. Anak anak terlihat masih agak malu malu, lalu kami berkumpul dan kami bertanya rumah siapa yang terkena gempa? Hampir semua angkat tangan. Beberapa diantara mereka berani bercerita tentang rumah mereka yang roboh, tentang ketakutan mereka, tapi juga tentang perasaan gembira mereka berkumpul kembali di gedung baru dengan teman teman. Kami membayangkan kebahagiaan mereka akan bertambah saat menaiki Tangga pelangi yang baru saja kami turunkan dari mobil pick up. Lalu kami dijamu oleh Ibu Guru TK tersebut dengan bermacam snak yang sangat enak. Kamipun makan jamuan tersebut karena waktu sudah hampir jam 12 dan tentu saja kami sudah lapar. Setelah selesei, kami perpamitan, Guru guru TK Masyito mengantarkan kami sampai jalan dan kamipun melambaikan tangan. Dengan demikian berakirlah aktivitas hari itu.

Penyaluran Dana Tahap III (akan segera dilaksanakan)

EVALUASI

Dari pelaksanaan penyaluran dana Permias, kami ingin sharing ke teman teman berbagai kendala dan sekaligus evaluasi program penyaluran dana ini.

· Kendala pertama adalah lamban nya proses pengiriman uang. Kami menunggu lama datangnya uang yang dikirim oleh Karla karena waktu itu Karla sedang ke Malaysia, sementara waktu itu (Junly 2006) adalah waktu yang tepat karena koordinator lapangan belum masuk kerja, dan 2 volunter juga masih banyak waktu longgar.

· Kendala Waktu Pemesanan Barang. Setelah uang samapi di Indonesia, kami segera berkoordinasi untuk melaksanakan penyaluran dana Permias. Lalu setelah survey kami memesan mainan-mainan yang mau diberikan untuk TK. Ternyata prosesnya sampai 6 minggu.

· Kendala Transfer Uang Aceh – Yogya. Kegiatan penyaluran dana sempat tertunda dua kali karena uang dari Bendahara belum cair, padahal proposal sudah di approve oleh Permias. Hal itu disebabkan keluarga bendahara ( suami Mbak SQ) sedang di rawat di Rumah Sakit, dan juga setelah itu Mbak SQ mendapat musibah, keluarganya ada yang meninggal dunia.

Karena lambannya proses penyaluran dana tersebut, beberapa TK yang akan kita beri bantuan sudah mendapatkan bantuan dari organisasi lain. AZwar membahasakan bahwa kami kehilangan momen. Kemudian kami survey lagi untuk mencari TK mana yang memerlukan bantuan. Kami tidak mau memberikan bantuan kepada TK yang hanya kami temui di jalan, tapi kami benar benar memastikan bahwa TK tersebut belum mendapatkan bantuan mainan.

· Kendala lain yang kami temui adalah pendeknya jam sekolah TK. Kami harus terburu buru dari satu TK ke TK lainnya karena TK TK tersebut selesei jam 09.30. Belum lagi ban mobil pick up yang kami gunakan bocor, 5 menit sebelum kami berangkat ke Bantul, sehingga memakan waktu 1 jam untuk menambal ban nya.

· Dalam prakteknya, pada waktu pelaksanaan, 2 volunter tidak cukup, dan kami bersyukur bahwa kami dibantu oleh Andri, Dwi, dan Paryanto yang tidak minta perdiem, semata mata mereka hanya ingin membantu kegiatan ini.

Satu yang terlupa dari aktivitas penyaluran dana ini adalah media coverage. Karena sibuknya persiapan penyaluran, kami lupa memberitahu kepada wartawan , padahal dulu banyak teman teman wartawan yang bersedia untuk meliput. Tapi mungkin hal ini juga bukan hal yang essential karena yang utama bantuan telah sampai kepada yang berhak menerimanya.

PENUTUP

Sebagai penutup, Saya sebagai koordinator lapangan, juga Azwar, Rusdi dan Ramang, ingin memanjatkan rasa syukur kepada Tuhan atas terselesaikannya program penyaluran dana Permias ini. Rasa haru masih terngiang di kepala ketika mengingat keceriaan anak anak TK yang mendapatkan banyak mainan baru dari Permias. Juga masih kami ingat respon guru guru TK yang rasanya kebahagiaan mereka mewakili perasaan kami.

Berbagai kendala telah kami lalui: cuaca yang panas, jarak lokasi yang jauh, ban bocor, dll. Meski banyak kendala, tapi kami merasa senang karena bantuan tersebut sangat bermanfaat bagi anak anak TK korban gempa. Meski sudah tidak trauma lagi, tapi sebagian teman teman mereka ada yang meninggal. Mainan mainan yang diberikan oleh Permias setidaknya sudah membantu mengembalikan keceriaan mereka.

Ungkapan syukur, terimakasih, dan doa dari para penerima bantuan juga harus kami sampaikan kepada teman teman Permias dan Masyarakat Athens. Mereka menyampaikan salam kepada teman teman semua dengan diiringi doa teman teman Permias di Athens akan menuai kesuksasan dalam belajarnya. Juga doa agar Tuhan membalas kebaikan teman teman dan Masyarakat Athens pada umumnya.

Kepada Mbak SQ, saya ingin berterimakasih atas koordinasi dan juga nasehat nasehatnya. Kepada kedua volunteer, Azwar dan Rusdi, secara pribadi saya ingin menyampaikan terimakasih atas bantuan dan kerja keras serta kesabarannya dalam membantu Permias. Juga kepada driver, Ramang dan 3 volunter lain Andri, Dwi dan Paryanto, saya juga ingin mengucapkan terimakasih. Juga kepada teman teman Permias, terimakasih atas kepercayaan yang telah diberikan, semoga laporan ini bisa dijadikan bahan pertanggungjawaban kepada masyarakat Athens dan teman teman Ohio University. Bravo Permias. Bantuanmu buat anak anak korban gempa memiliki arti tersendiri bagi mereka.

Friday, December 08, 2006

Renang di Aquatic Center

Foto sexy Yoga "Ade Rai" von Athens

Belakangan ini beberapa Lelewan dan Lelewati sering renang di Aquatic Center. Katanya mau kayak jadi Ade Rai, terutama bro Yoga. Lihat foto-fotonya di sini.

Friday, November 17, 2006

Bobcats di Mac Championship

Yoga dan Farid bonek dari Athens


Rombongan Indonesia tidak mau kalah menyerbu Detroit untuk mendukung Bobcats melawan Eastern Michigan merebut kejuaraan MAC. Sayangnya Bobcats kalah. Bagi Bobcats, itu pertandingan final MAC pertama sejak tahun 1968. Lama banget ya. Tapi masih mendingan, karena prestasi Bobcats tahun ini sudah melebihi harapan--bisa jadi juara MACEast. Foto-fotonya di sini.

Saturday, November 04, 2006

Kunjungan Atdikbud ke Athens


Tanggal 3 November 2006, ada kunjungan Atase Pendidikan dan Kebudayan, Kedubes RI, Bpk Dr. Harris Iskandar, menyambangi Athens. Kunjungan ini untuk menjajaki kerja sama pendidikan pemerintah Indonesia dengan Ohio University. Selain itu, juga untuk melihat kegiatan Permias: The Indonesian Movie Night. Ini foto Dr. Harris Iskandar di lantai 1 Alden Library, yang banyak menyimpan buku dari Asia Tenggara itu. (Prends, ganti dengan foto yang lebih cocok ya.)

Dari ki-ka: Dr. Harris Iskandar, Jeff Shane, Putut Widjanarko

Friday, November 03, 2006

Indonesian films to show in Scripps

Friday, November 3rd, 2006. Seeing movies often allows people to identify with the characters. However, moviegoers this weekend can feel the excitement, loneliness and dream of the people living in the most populated Muslim country in the world.

The Indonesian Student Organization, PERMIAS, will host the Indonesian Film Festival, which will include four Indonesian movies, today and tomorrow in Scripps Hall Auditorium. “The Indonesian Film Festival is aimed at promoting Indonesian culture, making people in Ohio University

Source: http://thepost.baker.ohiou.edu/searchresults.php?search=permias&submitsearch=Search

Thursday, November 02, 2006

SEA Poetry Night

Acara Southeast Asian Poetry Night. Seru. Lihat clipnya di sini.

Southeast Asian Culture Showcased at Poetry Night

By Maria Gallucci

Nov. 2, 2006. An exchange of language and poetry took place Nov. 2 as students and faculty of Ohio University gathered in Galbreath Chapel to celebrate the cultures of Southeast Asia.

Southeast Asian Poetry Night is an opportunity for international students to share their native cultures with the audience and other students. It also gives American students a chance to practice their language of study while incorporating its cultural elements.

The event was sponsored by Southeast Asian Studies and the Southeast Asian Studies Association. The Southeast Asian languages and cultures represented that night include Khmer, Tagalog, Indonesian, Thai, Cambodian, Vietnamese and Malaysian. Participants also dressed in native clothing, wearing silk embroidered hats and dresses and brightly printed cloths.

“Poetry Night gives students and the audience first-hand exposure to each culture and offers a different perspective not found inside the classroom,” said Katie McWhorter, graduate student and president of the Southeast Asian Studies association.

For American students studying Indonesian and Thai, the poetry night was a chance to gain confidence in their language skills and to put their knowledge to use, said Maryani Maryani, a third-year graduate student from Indonesia.

Maryani and her three Indonesian 211 students recited a poem they had written in English and translated into Indonesian.

Performing in front of an audience was a great experience, said Kristin Dunksy of the poem recital.

Molly Roth, also a student of Maryani, said writing and translating a poem was good practice for their language skills.

“(Poetry Night) is a chance to express yourself, and also (a chance) to see what other people have to share from their countries,” said Anton Wiranata, a graduate student from Indonesia. He added that the event was also a refreshing opportunity to meet new people and to take a break from studying.

Source: http://www.internationalstudies.ohio.edu/news-events/newsletter/newsbriefs-03.htm

Wednesday, November 01, 2006

A New PhD in town


Ada PhD baru dari kawah Athens, Putut Widjanarko, yang menulis tentang orang Indonesia Muslim di New York City. Oral defense-nya tanggal 1 November 2006. Ini fotonya setelah sidang itu. Dari ki-ka: Elin Driana (sang istri yang ehm...ehmm .. ehm itu), Drew McDaniel (pembimbing utama), Putut, Karen Riggs, Bill Frederick, dan Bob Stewart.

Monday, May 29, 2006

Dari Mahasiswa di Amerika Untuk Korban Gempa Yogyakarta

Mahasiswa Indonesia yang belajar di luar negeri tak membiarkan keprihatinan bangsanya berlarut-larut. Mereka melakukan usaha pengumpulan dana, untuk kemudian disalurkan bagi korban bencana gempa bumi di Yogya dan Jateng.

Karena mereka tinggal berjauhan rapat penggalangan dana pun dilakukan melalui mailing list. Seperti di indonesia-ou@yahoogroups.com, atau permias-athens@yahoogroups.com, terlihat rapat yang serius. Namun demikian rapat atau pertemuan tatap muka langsung juga dilaksanakan. Seperti di Athens, pada tanggal 27 Mei 2006 tepatnya di kediaman Prof. Elizabeth Collins, guru besar study agama di Ohio University.

Menurut koresponden hminews.com di sana, M. Chozin, proyek pengadaan dana ini diberi nama Fund Raising for Yogyakarta Earthquake. Program ini dibagi menjadi beberapa kegiatan. Pertama adalah membangun donation box di beberapa lokasi, diantaranya mulai minggu pagi tim diterjunkan ke empat gereja yang berbeda dengan 4 tim yang berbeda. Selanjutnya donation box juga akan pasang di beberapa lokasi mulai hari Selasa di Alden Library OU, OASIS, Gordy Hall, Groover, China King, Islamic Center, Beberapa Gereja, Front Room Baker Center, College Gates, dan beberapa tempat lain di sekitar Ohio University.

Kemudian acara berikutnya adalah Souvenir and Food Sales. Acara ini akan dilaksanakan hari Kamis tanggal 1 Juni 2006 mulai pukul 10.00 sampai pukul 15.00 waktu setempat. Hingga berita ini diturunkan kepastian lokasi masih dalam koordinasi.

Acara berikutnya adalah Souvenir Donation. Dalam acara ini, panitia menerima sumbangan berupa barang-barang atau souvenir apa saja yang bisa dijual pas acara hari Kamis nya.

Sumbangan akan disalurkan melalui People to People AID in Support to Nurani Dunia yang ada di Ohio University untuk selanjutnya diteruskan ke Yogya melalui perwakilan yang dianggap accountable untuk menyalurkan dana yang terkumpul. Sumbangan bisa berupa uang, cek, ataupun barang2 yang akan dijual bersama hari Kamis tanggal 1 Juni 2006.

Source: http://hminews.com/index.php?action=news.detail&id_news=350

Wednesday, May 24, 2006

12 OU scholars to travel globe on Fulbright grants

Ternyata Indonesia menjadi salah satu tujuan favorit para Fullbrighters

Published Wednesday, May 24, 2006.

Ohio University has broken its record in producing grantees of the government-sponsored Fulbright Program with three more students being selected for the 2006-07 academic year than last year.

The Fulbright Program, which received 29 OU applications, provides scholarships for students to explore and study in other cultures around the world, according to the Web site exchanges.state.gov/education/fulbright/. Next academic year, 12 OU students will be participating in the program compared to nine students in each of the last two years.

The number of grantees at other Ohio universities is not yet available, said Elizabeth Clodfelter, director of U.S. Fulbright Programs and liaison for international partners. OU produced the most Fulbright winners in Ohio last year.

The amount each Fulbright grantee receives varies depending on location, but the program conducts a cost-of-living survey on a biannual basis and covers students’ rent or room and board, school supplies, basic incidentals and return travel expenses, said Schuyler Allen, a media contact in the Fulbright program.

For example, Clarissa Kornell, a senior political science major who will teach English and study the use of religion in educational curriculum in Indonesia, will be aided with $1,000 every month for 10 months, $500 to $700 before and after her trip and paid travel and insurance.

Indonesia and Germany are the most popular destinations for OU Fulbright grantees, with three students going to each country next year. Other students are traveling to Ghana, Japan, Chile, Korea, the Philippines and Ecuador.

Kornell said that while OU is investing its resources in improving its image and prominence through initiatives like Vision Ohio, the Fulbright Program celebrates something at which OU already excels.

“My biggest goal is to leave feeling like I have an understanding of Indonesian culture and society and government,” she said.

Alyssa Malchi, a senior hearing, speech and language sciences major, will teach English in South Korea. She also will research non-verbal communication, which is common in America but not in Asia.

Genevieve Waller, a graduate student majoring in fine arts and art history and photography, will travel to Germany, where she has studied before, to study the history of the photogram, a camera-less photograph.

“Photography is an incredibly important aspect of our lives,” Waller said.

Being offered a Fulbright gave her a sense of validation, Waller said.“The Fulbright symbolizes that people who don’t even know you think your project has merit,” she said.

The other grantees for 2006-07 are Phillip Allman, Julie DePaulo, Layne Hanson, Tod Imperato, Troy Johnson, Eileen Kelbach, Melanie Schori, Meghan Schuck and Carly Witmer.

Source: http://thepost.baker.ohiou.edu/Articles/News/2006/05/24/13855/

Wednesday, April 26, 2006

Spring Into Southeast Asia Night

By Rainy Phrompechrut

April 26, 2006. After many were turned down with the bad news that tick­ets sold out ever since Thursday morning, two hundred fifty ticket holders filed into Baker Ballroom to spring into Southeast Asia on Friday evening.

The night began with a short introduction by representatives from Permias—Indonesian Students Association—and SEASA—Southeast Asian Studies Association. Alex Bosley, senior, said he was surprised the food was spicy. “At the time it didn’t hit me but it is spicy… then I thought, oh, but Thai food is spicy,” Bosley said. He said he was concerned about not being away to bring food from outside at first, but he thought the food turned out alright.

After stomachs were filled, the Indonesian fashion show was presented. Models walked out with colorful, elaborately decorated outfits walked out as lively mu­sic echoed in the ballroom, ac­companied by a powerpoint pre­sentation on a screen next to the stage. Narrators were also present to talk about cultural facts as the music changed for each region and audiences clapped and cheered as each set of new costumes appeared on stage. The fashion show ended with a set of children fashion, getting a big “Ohhhh” from the audience. “It’s amazing that they’re all from the same country,” said Runa Nagatomo, graduate student, as she watched the show.

The organizers had managed to borrow traditional clothes from the Indonesian embassy in Washington D.C. Lewinna Aguskin said there were problems with getting the costumes because they were not able to pick it up as planned. The team had managed to find a friend in Washington D.C. to pick up the costume from the embassy and ship it to them just a week before the event.

Kenji Kimura led Permias members in singing “Karena Cinta” after the fashion show. “Karena Cinta” means “because of love”. Kimura, graduate student from Japan, started the performance by talking about his experience in Indonesia. He said he had visited Indonesia twice; the song brings back his memories from the trips and reminds him of his love for the country. The audience laughed as Kimura said he was singing a pop song while wearing a traditional costume.

The night ended with a per­formance by a Thai classical from New York, Phetch Rattanasuwan. She attended dramatic arts school in Thailand from 12 years old and has continued to dance ever since. Rattanasuwan lives in New York with her husband who attends Cornell University.

Elliot Field, president of Southeast Asian Studies Associa­tion, said the team had called various universities with re­nowned Southeast Asian studies programs. They had found Rat­tanasuwan after speaking with her husband at Cornell University.

Rattanasuwan said the event was very well organized. She nor­mally sees only Thai people when she performs at events like this, but was impressed to see people from different cultures. She had heard that Ohio University has a close international community.

Daniel Harahap, from Indo­nesia, said the night was a good representation of cultures. The event showed to the pub­lic that “we have different cit­ies of language, different cities tribe, different cities of reli­gion,” Haranap said. Field said the fashion show was his favorite part of the night. “I was blown away by it,” said Field. He said it must have been difficult to put together a team of more than 30 people and organize a catwalk. “Permias members really feel that we cannot do it with­out the help of our international friends,” said Aguskin.

Source: http://www.ohiou.edu/isfs/newsltr/2006/april25.pdf#xml=http://127.0.0.1/texis/search/pdfhi.txt?query=permias&pr=leftovers&prox=page&rorder=500&rprox=500&rdfreq=500&rwfreq=500&rlead=500&sufs=2&order=r&cq=&id=4456ccc978

Thursday, April 20, 2006

INTER-RELIGIOUS DIALOGUE PROJECT: Indonesian Media and Conflict Management Delegation

Ohio University’s Center for International Studies will host a delegation of five conflict management specialists from Indonesia between April 19 and May 10, 2006. The group will be on campus from April 19 to 27 in order to finalize production of a series of videos on peer mediation, inter-religious dialogue, and conflict management themes. Participants are involved in a number of initiatives in Indonesia designed to promote harmony between social groups through various education and media initiatives. Their visit to the U.S. is intended to advance international collaboration on conflict management activities and broaden dialogue on issues affecting social cohesion in various national contexts.

This is the fourth delegation of Indonesian civic and religious leaders to visit Ohio University in the past two years in connection with the Center’s Inter-Religious Dialogue Project. These exchanges, as well as an American delegation visit to Indonesia in 2005, are designed to motivate serious efforts to strengthen inter-group harmony by promoting systematic conflict management efforts in areas affected by sectarian strife. They are also intended to build support for civic education and tolerance promotion activities more generally. A key goal is to facilitate long-term relationships between Indonesian and American participants so that dialogue on how to manage differences among religious groups in a pluralistic civil society can be broadened and sustained.

The project is funded through a grant from the Office of Citizen Exchanges at the U.S. Department of State’ Bureau of Educational and Cultural Affairs. It is being implemented by the Center for Southeast Asian Studies and the Department of Classics and World Religions at Ohio University.

The upcoming Media and Conflict Management delegation will begin in Athens, Ohio on April 19, 2006. Although participants will be busy finalizing their video project, they will also observe peer mediation efforts in Athens County schools and participate in numerous campus activities. The group will then travel to Cincinnati, Ohio on April 27 where participants will meet with community leaders working to bridge racial divides. In particular, they will participate in Peace Village’s Hunger Awareness Night in the city’s impoverished Over-the-Rhine neighborhood. The group will then travel to Washington DC on April 30 where they will meet with U.S. government officials, visit conflict management practitioners working on international efforts, participate in a conference on Islam and democracy, and observe peer mediation programs in the Fairfax County, VA schools. The delegation will then visit Boston from May 7-10 where participants will explore university-public sector collaboration involving Harvard, MIT, private NGOs, and the Massachusetts State Attorney General's office.

Thursday, March 30, 2006

NEW BABY BORN AND WELCOMING NEW STUDENTS PARTY

Oleh Elis Zulianti Anis

Thursday, March 30, 2006
Seluruh keluarga besar mahasiswa Indonesia di Athens turut berbahagia atas kelahiran anak laki laki pertama dari teman kita Yoga, yang diberi nama Mumtaaz Zeeshaa Nabeel. Berita kelahirannya diterima saat sang Ayah lagi mondar mandir antara SF and Columbus, di saat saat paniknya dia mau ngadepin ujian. Selamat selamat selamat Yoga.

Acara makan makan pun sudah diselenggarakan dengan suksesnya, dengan menu gule kambing plus ayam goreng. Lebih meriah lagi karna acara makan makan nya juga juga dalam rangka ultahnya anak nya Mas Putut dan juga dalam rangka menyambut 4 temen Indonesia yang baru datang. Mereka itu adalah Pdt. Daniel Harahap, Sandra Nahdar, Muhammad Chozin dan Muttaqien. Pak Daniel sedang belajar bahasa Inggris di OPIE selama 6 bulan ke depan. Sandra yang punya background media dan lululusan Sastra Inggris Univ Andalas akan mengambil master di SEA studies. Muhammad Chozin yang lahir Pekalongan ini adalah lulusan dari Jurusan Perikanan UGM dan akan mendalami study Antropology di SEA Studies. Farid yang selama beberapa tahun aktif di LSM 'Puan Hayati' baru saja menyelesaikan studinya di IAIN Jakarta dan ternyata Farid adalah muridnya 'Bu Ida' yang sekarang berada di Columbus bersama keluarganya. Sandra, Farid, dan Chozin, ketiganya adalah Ford Foundation Fellows.

Selamat Datang temen temen yang Baru. Selamat menikmati kota Athens yang kecil, damai, dan tidak banyak tempat hiburannya hehehee. Selamat memasuki kampus yang sebenarnya dimana selama 2 tahun kedepan akan menjadikan pengalaman tersendiri. Semoga di tahun mendatang, makin banyak temen temen yang datang dan study di OU (tulisan ini diambil dari blognya Elis Zulianti Anis).

Monday, January 09, 2006

Uptown, State Street's forgotten businesses band together to boost sales

Published Monday, January 9, 2006

Seven shops around North Court Street and State Street played host to a Hidden Treasure event Thursday as part of an ongoing process to raise awareness of small businesses in Athens.


As part of the event, customers received maps of the area and a card with each business name. They then had to travel to each store and answer questions to be eligible for a drawing at Pangaea Tea.

To combat the fluctuating population of students, the prospect of a new mall and the ever-present looming of the Wal-Mart on East State Street, Succulent Sundays, Bali Karma, Wild Mercantile LTD, Athens Book Center, Pangaea Tea, Themes and Court Street Collections have banded together to promote local business.

The organizer of the event, Bali Karma owner Colin Donohue, said he is trying to stimulate people to shop in the lost section of State Street.
"(I am interested) in creating a hip, cool place to be," Donohue said. "There's that flavor in the neighborhood."

Other business owners resisted calling Donohue a boss or the leader, but Succulent Sundays owner Kristy Bales said he was a motivator and an organizer. She said she approached him after she opened her retail location at 9 Mill St. "We wanted to work together," Bales said. She said the owners are still trying to configure the structure of the group and that other local businesses are welcome to join. "It's not just necessarily the seven of us," she said.

Andrew Schlegel, a sales associate at Wild Mercantile for two years, said the inter-business diversity means that the shops are not taking customers from each other.
"We're also diverse in ourselves," he said, "so it's not like we're taking each other's business."

The next Hidden Treasures event is scheduled for Feb. 4, according to an e-mail from Bales. The businesses plan to give away more than $200 in prizes. The Shops
Succulent Sundays, was originally a wholesale operation focusing on natural-based bath and body products.

Bali Karma, 22 E. State St., specializes in art, attire, gifts and jewelry from Indonesia, with signs posted that the proceeds of sales will aid the Indonesian families who produce the objects. Wild Mercantile LTD, 30 E. State St., sells outdoor equipment but also coordinates climbing programs and backpacking clinics, instructing consumers on how to properly use the equipment they bought. Athens Book Center and Pangaea Tea, 74 E. State St., are a new and used bookstore and café, respectively. Court Street Collections, 64 N. Court St., has a gallery and sells a multitude of gifts. Themes, 61 N. Court St., has unique gifts and accessories, according to a promotional handout.

Source: http://thepost.baker.ohiou.edu/Articles/News/2006/01/09/288/

Sunday, October 09, 2005

Indonesian Film Festival

October 8-9, 2005

The Indonesian Student Association (PERMIAS) is hosting a film festival on Saturday and Sunday (October, 8-9) from 3:30 pm and 6:00 pm in Bentley Hall 124.

The Indonesian Film Festival will feature four films: Ca Bau Kan (The Courtesan), Biola Tak Berdawai (The Stringless Violin), Arisan (Gathering), and Tentang Dia (About Her). Tickets are $2.00 per show or $5.00 for all four shows. Indonesian Snacks and Door Prize provided.

For more information and tickets, contact: Yamada House (international studies), ISFS (International students and faculty service), Alden Library 1st floor (Southeast Asian Studies), Teuku Zulfikar (740 274 0864), Winna (740 274 9281) or Elis (740 274 9593) Tickets are also available at the door before show time.

Proceeds from this event is donated to: the American Red Cross: Katrina & Rita victims and Cisasawi school Bandung, Indonesia.

Monday, July 04, 2005

Tree


Tree
Originally uploaded by OU Bobcat.

Just showing off my latest BW

Friday, June 24, 2005

Saat dicambuk


saat dicambuk
Originally uploaded by Ezki Widianti.

Kiriman dari Ezki di Aceh

Sunday, June 12, 2005

Foto Bersama (lagi)


5 great iPhotos
Originally uploaded by adrianohio.

Potong rambut "Made in Japan"


5 great iPhotos
Originally uploaded by adrianohio.

Selamat Tinggal Kurie!


5 great iPhotos
Originally uploaded by adrianohio.

We'll miss you.. jangan lupa kita2 ya.

Doa untuk Ayana


5 great iPhotos
Originally uploaded by adrianohio.

Keluarga Tonie-Ratri


5 great iPhotos
Originally uploaded by adrianohio.

Sunday, May 29, 2005

Meja Permias di Street Fair


Street Fair 1
Originally uploaded by adrianohio.

Antrean Beli Sate


Street Fair 6
Originally uploaded by adrianohio.

Sate...! Hmmmm...


Street Fair 5
Originally uploaded by adrianohio.

Bergaya di Street Fair


Street Fair 4
Originally uploaded by adrianohio.

Anak-anak Athens


Street Fair 3
Originally uploaded by adrianohio.

Sate Mbah Drew


P5210090
Originally uploaded by adrianohio.

Pak Ishadi di Athens


P5210091
Originally uploaded by adrianohio.

Kelompok Gila Foto


P5210092
Originally uploaded by adrianohio.

Tuesday, May 17, 2005

Mengenal Athens, OH, yang Permai

ATHENS, OH 45701--Kotaku, Rumahku

(dari Wikipedia, http://en.wikipedia.org/wiki/Athens,_Ohio)

Athens is a small city and the county seat of Athens County in southeastern Ohio, USA, on the Hocking River. As of the 2000 census, the city had a total population of 21,342.

History

The first permanent European settlers arrived in Athens in 1797. In 1800, the townsite was first surveyed and platted, but was not incorporated as a village until 1811. In the meantime, Ohio became a state in 1803, and Ohio University was chartered in 1804. Previously part of Washington County, Ohio, Athens County was formed in 1805.
Athens did not receive city status until 1912 (in Ohio, 5,000 permanent residents are required to receive city status). Athens still has only slightly over 6,100 permanent residents within city limits -- the other 15,000 population are students.

Originally, large tracts of land -- Athens and Alexander Townships -- were set aside under the ownership of Ohio University. At first, lands were mostly leased out, but the failure of many lessors to pay their rents resulted in most of the land being sold. The sale of these lands funded the growth of Ohio University. Today it is one of the larger institutions of higher learning in Ohio, with an enrollment of over 20,000.

The earliest industry in the area was salt production, followed by iron production and coal extraction. Today, the largest employer in the county is Ohio University.
In 1843, the Hocking Canal opened, enabling shipping from the Ohio River up the Hocking River, which passes through Athens, to Nelsonville, Ohio, and points beyond. However, the canal was closed during cold winters when it froze over. The first railroad reached Athens in 1857. In the late 1800s, an interurban line opened between Athens and Nelsonville and operated for some years.

The Athens Lunatic Asylum, later the Ohio State Hospital, opened in 1874. This was located on high ground to the south of town and to the south of the Hocking River, and in the late 1800s was the town's largest employer.
Starting in 1969, the Hocking River was partly relocated and partly channelized for a stretch of several miles around the town, moving the river hundreds of feet to the south so that the floodplain, formerly south of the river, was now north of the river and since has been extensively built on by Ohio University. Much of these floodplains was originally agricultural land for the state hospital, but also included park-like areas open to the public. There was an outstanding virgin grove of sycamores near the present Richland Avenue bridge that was destroyed by a tornado in the late 1800s.
The old state hospital was eventually decommissioned and the property given to Ohio University. It is now known as The Ridges. Much of the building space has been renovated for offices and research space, and most of the grounds has been set aside as open space, including a land lab.

The only battle ever to take place in Athens occurred in 1904 when both the U.S. Army and the Ohio National Guard were conducting training exercises at the same time at the city. When some guardsmen became drunk and caused a disturbance, they were arrested by Army MPs. The ensuing quarrel escalated into a battle on Washington Street, during which one guardsman was killed and several combatants were wounded.

Geography

Athens is located at 39°19'45" North, 82°5'46" West (39.329427, -82.096237)1.

Athens is located in the unglaciated Allegheny Plateau. The county extends west from the Ohio River.

Athens is located mostly on and around a south-jutting ridge bordered by a loop in the Hocking River. The underlying geology is mostly sandstone and shale, including "redbed" shale that presents a severe slip hazard when structures are built over it on hillsides.
The city receives all its water supply from wells in unconsolidated river aquifers, and is reputed to be the largest city in the United States to do so.

Strouds Run State Park is located just outside the city, bordering the city line. This park features 2,606 acres (11 km²) of wooded hills, including many bluffs and rock shelters, centered around a man-made lake. Camping is available.

The City of Athens has recently established a preserve project, currently including some 210 acres (0.8 km²), to save land from development adjacent to the state park. This preserve includes an 85 acre (340,000 m²) old-growth forest known as "Hawk Woods", or, more formally, the Riddle State Nature Preserve.

According to the United States Census Bureau, the city has a total area of 21.6 km² (8.3 mi²). 21.6 km² (8.3 mi²) of it is land and none of the area is covered with water.

Demography
Athens is a college town, with a university-based population slightly over 21,000, of which most are university students. The total permanent population is just over 6,100.
As of the census2 of 2000, there are 21,342 people, 6,271 households, and 1,906 families residing in the city. The population density is 988.0/km² (2,560.4/mi²). There are 6,715 housing units at an average density of 310.9/km² (805.6/mi²). The racial makeup of the city is 89.16% White, 3.82% Black or African American, 0.15% Native American, 4.47% Asian, 0.06% Pacific Islander, 0.60% from other races, and 1.74% from two or more races. 1.41% of the population are Hispanic or Latino of any race.

There are 6,271 households out of which 12.9% have children under the age of 18 living with them, 22.9% are married couples living together, 5.6% have a female householder with no husband present, and 69.6% are non-families. 34.5% of all households are made up of individuals and 6.6% have someone living alone who is 65 years of age or older. The average household size is 2.25 and the average family size is 2.72.

In the city the population is spread out with 6.7% under the age of 18, 66.7% from 18 to 24, 13.7% from 25 to 44, 8.0% from 45 to 64, and 4.9% who are 65 years of age or older. The median age is 22 years. For every 100 females there are 88.2 males. For every 100 females age 18 and over, there are 86.9 males.

The median income for a household in the city is $17,122, and the median income for a family is $53,391. Males have a median income of $35,849 versus $28,866 for females. The per capita income for the city is $11,061. 51.9% of the population and 14.8% of families are below the poverty line. Out of the total population, 19.1% of those under the age of 18 and 7.2% of those 65 and older are living below the poverty line.

Economy
Ohio University is now the largest employer in Athens County. McBee, a producer of business forms and related materials, is also a significant employer, but will close down in 2005. Coal was once a huge source of employment in the county, but is now a very minor source, as the best and most available coal has been extracted. In 2002, a Wal-Mart opened in Athens amid substantial opposition.

Athens is known for its local food economy, featuring a significant amount of organic produce, sold largely through a farmer's market.

Media
Athens is served by three principal news publications:
The Athens Messenger, a daily paper published by Brown Publishing, which also publishes a weekly entertainment paper named the Athens Insider
The Athens News, a free semi-weekly tabloid published by Bruce Mitchell
The Post, a student newspaper of Ohio University

In addition, Ohio University's telecommunications center provides public radio and television.

The FM radio system covers all of southeastern Ohio.
FM Public Radio
WOUB-FM, Athens, 91.3 FM
WOUC-FM, Cambridge, 89.1 FM
WOUH-FM, Chillicothe, 91.9 FM
WOUL-FM, Ironton, 89.1 FM (the "L" is from Lawrence Co.)
WOUZ-FM, Zanesville, 90.1 FM
AM Public Radio: WOUB-AM, 1340 AM (Athens only)
Public Television: WOUB-TV, broadcast channel 20
Private broadcast media include:
WXTQ-FM and WATH-AM (Athens)
WSEO-FM and WAIS-AM (Nelsonville)
WJKW-FM, 95.9 FM (Athens; Christian format)
WEAK-LPFM, 106.7, "Union Station" (Athens, oldies)

Wednesday, April 27, 2005

Diskusi Permias


Sony: "...pelurusan sejarah Indonesia..."

Sakura Picnic


Sakura Picnic: perwujudan sila ke-5 Pancasila, i.e. mangan ora mangan sing penting ngumpul! ;D

Saturday, April 16, 2005

Indonesianis

Bagaimana kalau mengundang para Indonesianis maupun kandidat Indonesianis untuk berpartisipasi dalam web ini. Mereka boleh mengirimkan artikel, pertanyaan, foto, dll.

Ezki

Ohio University at Glance

University Profile
Below are some of our most commonly requested statistics. Graduation and transfer-out rates as reported to the federal government, along with other important facts and figures, are available on our Institutional Research web site.

16,854 undergraduate students on the Athens campus
1,125 students from other countries
846 full-time faculty (Athens campus)
20:1 student to faculty ratio
21 student average class size
41 residence halls
350 registered student organizations
33 fraternities and sororities
Over 250 majors from which to choose
201 buildings on 1,800 acres
18 NCAA Division I teams in the Mid-American Conference
84% freshman to sophomore year retention rate

Recognition
Ohio University has been cited for academic quality and value by such publications as America's 100 Best College Buys, Princeton Review's Best Colleges, and Peterson's Guide to Competitive Colleges. In 2002, U.S. News and World Report ranked the University 45th in the nation for academic quality. The John Templeton Foundation has also recognized Ohio University as one of the top character-building institutions in the country.

Accreditation
Ohio University is fully accredited by the North Central Association of Colleges and Schools, as well as by a number of professional accrediting agencies.

History
Established in 1804, Ohio University is the oldest public institution of higher learning in the state of Ohio and the first in the Northwest Territory. Admission to Ohio University is granted to the best-qualified applicants as determined by a selective admission policy.

Kuambil dari: http://www.ohio.edu/admissions/facts.cfm

Pasukan Angklung


P4150014
Originally uploaded by adrianohio.

Amel, Anis, Putut (di belakang), Winna, Tiwi, Tim (USA), Adrian, Sony, dan Zul.

Angklung di Spring Into Southeast Asia


P4150012
Originally uploaded by adrianohio.

Anglklung Performance

Sony memberi keterangan untuk Klothekan


P4150030
Originally uploaded by adrianohio.

Im (Cambodia), Anis, dan Sony

Bergaya untuk Spring into Southeast Asia


P4150061
Originally uploaded by adrianohio.

Dari kiri ke kanan: Endah, Anis, Tiwi, Elis, Winna, dan Elin.

Sunday, April 10, 2005

Selamat Bergabung

Puji Syukur kepada yang Maha Kuasa untuk jatah hidup yang masih berkenan Ia berikan kepada kita sebelum satu persatu kita melangkah.

Permias adalah organisasi yang sengaja kita bentuk sebagai wadah silaturrahmi warga Indonesia diluar negeri. Mudah-mudahan dengan adanya Permias ini kita bisa saling bertukar informasi dalam berbagai hal. Semoga Permias ini bisa menjadi rujukan bagi rekan-rekan kita yang ingin mencari informasi tentang kuliah di Amerika khususnya tentang Ohio University, dan Athens. Dengan adanya Blog ini, kita harapkan akan lebih banyak informasi yang bisa kita berikan kepada rekan-rekan yang berada di Indonesia. Untuk itu atas nama warga Indonesia di kampung Athens ini saya mengharapkan masukan-masukan dari semua rekan sehingga Blog ini benar-benar menjadi rujukan yang sangat berguna bagi kita semua. Selamat datang ke kampung Athens yang indah nan permai, Wassalam.
Zul

Thursday, March 31, 2005

Selamat

Selamat Atas Kelahiran Permias Blog ini. Mudah-mudahan bisa jadi penyambung silaturahmi, juga untuk teman-teman yang akan datang ke Athens.

Wednesday, March 30, 2005

Ketua Permias Athens periode 2005/2006: Zulfikar


zul
Originally uploaded by adrianohio.

Menyanyi Bersama


permiaschorus
Originally uploaded by adrianohio.

Walaupun anggota Permias Athens tidak ada yang bisa nyanyi, semua "maju tak gentar" untuk menyajikan lagu "Ibu Pertiwi" dan "Indonesia Tanah Pusaka".

Membaca Surat


anakanak
Originally uploaded by adrianohio.

Anak-anak Indonesia di Athens membaca surat untuk anak-anak di Aceh yang menjadi korban bencana tsunami.

Anggota Panitia Aceh Tsunami Relief Benefit Dinner


Anggota Permias Athens
Originally uploaded by adrianohio.